Seringnya anak meminta makanan bisa menjadi tanda bahwa mereka memiliki nafsu makan yang baik, namun orangtua sebaiknya tidak mengabaikan hal ini. Khususnya jika kebiasaan tersebut membuat mereka merasa khawatir tentang pola makan anak. Penting bagi orangtua untuk memperhatikan tidak hanya jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga jenis makanan serta pertumbuhan anak.
Pantau Pertumbuhan Anak Secara Rutin
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang menjabat sebagai Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC), menyarankan agar orangtua memantau pertumbuhan anak melalui pemeriksaan rutin. Jika berat badan anak melebihi batas normal untuk tinggi badan atau usianya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. “Kalau sudah mulai overweight atau sudah mulai obesitas atau tanda-tanda awal di mana berat badan itu sudah di atas batasan normal dibandingkan dengan tinggi badan misal atau dibanding usia, maka sebaiknya segera ke dokter,” jelas Ray dalam sebuah diskusi media di Jakarta.
Ia menekankan bahwa masalah gizi pada masa pertumbuhan tidak hanya disebabkan oleh kekurangan asupan, tetapi juga kelebihan asupan yang dapat berdampak negatif jika komposisi makanan tidak seimbang.
Pentingnya Jenis Makanan yang Diberikan
Jumlah makanan yang dimakan anak tidak selalu mencerminkan terpenuhinya kebutuhan gizinya. Ray mengingatkan bahwa anak mungkin mengonsumsi cukup banyak makanan, tetapi jika asupannya didominasi karbohidrat dan minim protein, hal ini tidak baik. “Mungkin makannya cukup tapi kurang protein dan kebanyakan karbohidrat. Nah, ini juga enggak bagus,” ungkap Ray.
Orangtua juga perlu memperhatikan asupan serat dari buah dan sayur, karena serat dapat membantu anak merasa kenyang lebih lama. “Jalan keluar yang paling cepat sebenarnya meningkatkan asupan serat. Serat yang dari buah dan dari sayur karena ternyata bisa bikin kenyang lebih lama,” tambahnya. Selain itu, membangun kebiasaan makan yang sadar atau mindful eating juga sangat penting agar orangtua tidak hanya fokus pada kuantitas makanan yang dimakan anak, tetapi juga pada kualitas dan pola makannya.
Aktivitas Fisik yang Mendukung Kesehatan
Aktivitas fisik juga merupakan faktor penting dalam membangun kebiasaan sehat bagi anak. Ibrahim Ratih, seorang Senior Psikolog Klinis, menjelaskan bahwa anak perlu diberi kesempatan untuk bergerak. Anak yang terlalu banyak diam atau kurang beraktivitas dapat mengalami pemanfaatan energi yang tidak optimal. “Kadang-kadang kita ada pengin anaknya mager aja, anak baik yang tenang aja. Itu juga membuat proses pemanfaatan energinya menjadi kurang,” kata Ratih.
Orangtua disarankan untuk mendorong anak agar lebih aktif bergerak sesuai dengan usia dan kemampuannya, sehingga kebiasaan ini dapat menjadi bagian dari pola hidup sehari-hari, bersamaan dengan pengaturan asupan makanan yang beragam dan bergizi.
Analisis Kebiasaan Makan dan Emosi Anak
Ketika anak terus meminta makanan atau cepat merasa kenyang, orangtua sebaiknya tidak langsung mengaitkannya dengan kondisi emosional. Ray dan Ratih menyarankan agar analisis dimulai dengan mengamati kebiasaan makan anak dan jenis makanan yang dikonsumsinya. Setelah itu, orangtua dapat mempertimbangkan faktor lain, termasuk emosi, perilaku, lingkungan sosial, dan stimulasi yang diterima anak. “Kita bisa lihat di kebiasaan makannya satu. Kebiasaan makannya kemudian yang dia makan apa? Kemudian adakah sesuatu hal yang lain, baru kita bicara ke emosi, perilaku, sosial, stimulasi,” jelas mereka.
Jika orangtua merasa khawatir mengenai pola makan atau pertumbuhan anak, berkonsultasi dengan dokter adalah langkah yang tepat untuk menentukan tindakan yang sesuai.