Kewajiban suami dalam memberikan nafkah kepada istri dan keluarga diatur dalam hukum Indonesia. Meskipun demikian, tanggung jawab untuk menciptakan kondisi keuangan yang sehat seharusnya dilakukan secara bersama-sama dengan komunikasi yang baik, pengelolaan keuangan yang bijak, serta kesepakatan dalam pengambilan keputusan finansial. Baik suami maupun istri harus bertanggung jawab dalam penggunaan keuangan keluarga. Namun, seringkali suami merasa kesulitan untuk membedakan antara permintaan nafkah yang sah dan tindakan eksploitasi.
"Untuk membedakan keduanya secara objektif, kita bisa melihat pola tuntutan dan respons terhadap realitas finansial," jelas Danti Wulan Manunggal, S.Psi., Psikolog Klinis Umum dari biro layanan psikologi Ibunda.id. Kejelian dalam mengamati pola ini penting untuk mencegah terjadinya konflik yang lebih besar. Perbedaan antara tuntutan yang wajar dan eksploitasi dapat dilihat dari motif di balik setiap permintaan uang serta reaksi istri ketika kondisi keuangan sedang sulit.
Membedakan Kebutuhan Dasar dan Eksploitasi
Menentukan batasan yang sehat dalam nafkah tidak dapat hanya dilihat dari jumlah uang bulanan yang diberikan suami. Ada indikator psikologis yang lebih mendalam yang harus diperhatikan. Misalnya, motivasi istri dalam membeli barang dapat menjadi penentu utama dalam kasus eksploitasi. "Kebutuhan dasar dibeli karena kegunaan nyatanya, misalnya membeli tas karena memang butuh wadah untuk membawa barang, atau membeli skincare agar kulit sehat," ungkap Danti. Sebaliknya, jika uang suami dijadikan alat untuk meningkatkan ego, maka itu bisa menjadi tanda eksploitasi.
Eksploitasi terjadi ketika motif utama dari permintaan adalah untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. "Istri yang bersikap manipulatif akan memaksa suaminya untuk mengeluarkan uang demi mendapatkan validasi dari lingkungan sekitar," tambah Danti. Contohnya, saat membeli tas, istri mungkin menginginkan merek terkenal agar dapat dipuji oleh teman-teman arisan.
Standar Finansial yang Tinggi
Pemenuhan kebutuhan dasar dalam rumah tangga selalu memiliki batas yang dapat dihitung secara logis. Ketika kebutuhan pokok sudah terpenuhi, keluarga bisa merasa lebih tenang. Namun, jika tanda-tanda eksploitasi muncul, kepuasan istri akan hilang dan digantikan oleh rasa tidak pernah cukup. Danti menyatakan bahwa eksploitasi terhadap nafkah suami dapat diibaratkan seperti ember bocor, di mana berapapun pemasukan suami tidak akan pernah cukup untuk memenuhi hasrat belanja istri. "Standar gaya hidup terus naik, selalu ada tuntutan baru, dan istri tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki," ucapnya.
Fluktuasi pendapatan dalam suatu keluarga adalah hal yang wajar. Dalam situasi ekonomi yang sulit, istri yang memikirkan kebutuhan dasar biasanya akan berusaha membantu, misalnya dengan berhemat, memasak di rumah, atau mencari solusi lain. Namun, reaksi yang berbeda akan muncul dari istri yang hanya melihat suaminya sebagai sumber dana. "Indikasi eksploitasi terlihat jika istri menolak untuk menurunkan gaya hidup," kata Danti. Bukan hanya menolak untuk berhemat, istri juga dapat menyerang psikologis suami jika anggaran belanjanya dipangkas, bahkan memaksa suami untuk berutang demi memenuhi kebutuhan konsumtif.
Perbedaan yang paling jelas antara menuntut nafkah dan memeras mental pasangan terletak pada rasa empati. "Istri yang meminta pemenuhan kebutuhan dasar masih memiliki empati," ujar Danti. Perhatian ini terlihat dari bagaimana istri menghargai usaha suaminya tanpa memaksakan kehendak. Istri yang bijak akan berterima kasih dan khawatir jika suaminya jatuh sakit karena bekerja terlalu keras.
Kondisi yang sangat berbeda terjadi ketika istri hanya memposisikan dirinya sebagai pihak yang menagih setoran keuangan. "Suami dituntut untuk terus menyediakan uang tanpa istri peduli apakah suaminya sedang stres, burnout, atau kelelahan secara fisik dan mental," tutup Danti.