Teknologi

Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Mengajarkan Aturan Rating Game untuk Anak

Orang tua dan guru memiliki tanggung jawab penting dalam menerapkan sistem rating permainan yang aman bagi anak-anak. Mereka perlu membimbing dan mendampingi anak agar memahami aturan yang ada.

Y
Yusuf Ahmad Pratama
20 October 2026 57 pembaca
Ilustrasi Anak Sekolah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Rani Nurlaela Desandi
Ilustrasi Anak Sekolah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Rani Nurlaela Desandi

Jakarta - Veronica Adesla, seorang psikolog klinis dan co-founder, menegaskan bahwa orang tua serta guru memiliki peran krusial dalam penerapan Indonesia Game Rating System (IGRS) yang aman bagi anak-anak. Mereka diharapkan dapat membimbing dan mendampingi anak dalam memahami alasan di balik aturan sistem rating tersebut.

Veronica menjelaskan bahwa orang tua sebaiknya menunjukkan ketertarikan terhadap aktivitas digital anak tanpa menghakimi, serta membangun komunikasi yang terbuka. Dengan sikap yang tidak menghakimi, anak akan merasa lebih nyaman untuk berbagi, termasuk saat mereka mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan. "Tujuannya adalah untuk mengenali permainan yang dimainkan anak, memahami daya tariknya, mengetahui dengan siapa anak berinteraksi dan membicarakan pengalaman bermainnya," ujarnya.

Menetapkan Batasan yang Jelas

Selanjutnya, orang tua perlu menerapkan batasan bermain yang konsisten dan sesuai dengan usia anak, mencakup jenis permainan, waktu bermain, fitur komunikasi, dan transaksi dalam permainan. Libatkan anak dalam penyusunan kesepakatan bermain yang sesuai dengan usia dan tingkat kematangannya. Hal ini bertujuan agar anak dapat mengembangkan kemampuan dalam mengelola dan mengatur diri sendiri.

Veronica menekankan bahwa orang tua harus menjadi contoh yang baik. "Anak lebih cepat belajar dari mencontoh apa yang dilihatnya daripada apa yang didengarnya. Oleh karena itu, sulit untuk mengharapkan anak memiliki kebiasaan digital yang sehat jika orang dewasa di sekitarnya terus-menerus menggunakan gadget tanpa batasan," katanya.

Pendidikan Literasi Digital di Sekolah

Di sisi lain, sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan literasi digital yang mencakup aspek psikologis. Mereka perlu memperkenalkan anak pada isu keamanan digital, risiko cyberbullying, pengendalian impuls, dampak dari bermain digital secara berlebihan, serta cara menghadapi tekanan sosial dari teman-teman dalam lingkungan permainan digital atau online.

Veronica menekankan pentingnya kehidupan offline yang menyenangkan bagi anak. "Ketika anak memiliki kesempatan untuk bermain secara langsung, berolahraga, berinteraksi dengan teman, mengeksplorasi minat, dan mendapatkan dukungan emosional, permainan digital atau online tidak lagi menjadi satu-satunya sumber kesenangan atau satu-satunya hal yang dapat dilakukan saat merasa tertekan," tutupnya.

Artikel Terkait