Kesehatan

Pentingnya Skrining Jantung Sebelum Berlatih Maraton, Menurut Dokter

Kematian Agus Putranadi saat mengikuti BTN Jakarta International Marathon 2026 mengingatkan pelari akan pentingnya pemeriksaan kesehatan jantung. Dr. Andik Wijaya menekankan bahwa usia muda tidak menj...

A
Aisyah Nur Hidayah
18 June 2026 3 pembaca
Pentingnya Skrining Jantung Sebelum Berlatih Maraton, Menurut Dokter
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kematian Agus Putranadi, seorang peserta BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelari. Menurut Dr. Andik Wijaya, MD, MRepMed dari Yada Institute, risiko kejadian fatal saat maraton dapat diminimalkan melalui skrining kesehatan yang tepat. Ia mengingatkan bahwa usia muda tidak menjamin seseorang aman dari masalah jantung saat berlari jarak jauh. Oleh karena itu, pelari disarankan untuk tidak hanya bergantung pada perasaan sehat, tetapi juga melakukan pemeriksaan medis sebelum memulai program latihan.

"Tes, jangan terka. Diperiksa, bukan diterka. Diperiksa, bukan diduga. Diperiksa, bukan dirasa-rasa," ungkap dr. Andik dalam keterangan yang diterima pada Rabu (17/6/2026). Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden meninggalnya Agus Putranadi, yang kolaps di kilometer 14 saat mengikuti kategori half marathon dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit.

Penyebab Kematian Mendadak dalam Maraton

Dr. Andik menjelaskan bahwa maraton bukanlah penyebab utama kematian mendadak. Dalam banyak kasus, korban biasanya sudah memiliki kondisi medis tertentu yang tidak terdeteksi sebelumnya. Berdasarkan data dari sport cardiology dan sport medicine, penyebab kematian saat maraton bervariasi tergantung kelompok usia. Untuk pelari di bawah 35 tahun, penyebab paling umum adalah hypertrophic cardiomyopathy (HCM), yaitu kelainan jantung yang sering kali dipengaruhi oleh faktor genetik. Kondisi ini menyebabkan penebalan otot bilik jantung yang dapat mengganggu sistem kelistrikan jantung, terutama saat beraktivitas fisik berat seperti maraton.

"Korban biasanya memiliki ventrikel yang tidak normal. Ventrikelnya tebal, ada jaringan fibrotik yang menyebabkan aliran listrik yang mengontrol denyut jantung bisa terganggu," jelas dr. Andik. Sementara itu, pada pelari di atas 35 tahun, penyakit jantung koroner atau atherosclerotic cardiovascular disease (ASCVD) menjadi penyebab kematian yang paling sering terjadi.

Pentingnya Skrining Jantung bagi Pelari

Pemeriksaan jantung sangat penting untuk menemukan masalah kesehatan yang mungkin tidak menunjukkan gejala. Dr. Andik menyatakan bahwa baik HCM maupun penyakit jantung koroner dapat dideteksi melalui pemeriksaan kesehatan sebelum pelari memulai latihan intensif. Untuk pelari muda, ia merekomendasikan pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dan ekokardiografi. EKG dapat membantu mendeteksi adanya penebalan ventrikel kiri melalui pola gelombang jantung yang abnormal, sedangkan ekokardiografi memberikan gambaran langsung mengenai struktur dan ketebalan otot jantung.

"Ini sebenarnya bisa dicegah karena sangat mudah dideteksi kalau kita melakukan skrining sebelum orang memulai pelatihan untuk aktivitas lari jarak jauh," kata Andik. Bagi pelari yang lebih senior, ia menekankan bahwa pemeriksaan tidak cukup hanya dengan EKG dan ekokardiografi, tetapi juga perlu dilakukan treadmill atau stress test untuk menilai kemampuan jantung dalam memenuhi kebutuhan oksigen saat beraktivitas berat.

Andik juga menekankan pentingnya pemeriksaan laboratorium untuk mengevaluasi faktor risiko lain, seperti kadar gula darah, kolesterol, serta fungsi ginjal dan hati. "Treadmill dilakukan untuk mengetahui apakah ketika jantung dalam pembebanan berat, aliran darahnya mampu memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ke otot jantung," jelasnya. Skrining idealnya dilakukan sejak awal program latihan, bukan hanya menjelang perlombaan.

Dr. Andik berbagi pengalamannya sendiri, di mana ia didiagnosis menderita penyakit jantung koroner pada April 2024 setelah menjalani pemeriksaan calcium score. Meskipun demikian, ia berhasil menyelesaikan BTN JAKIM 2026 dalam kondisi bugar pada usia 60 tahun. Pengalaman ini menunjukkan bahwa usia lanjut tidak selalu berarti lebih berisiko dibandingkan dengan usia muda. "Saya masuk kategori pelari senior atau master karena usia saya 60 tahun, dan kemarin saya bisa berakhir di garis finis dalam kondisi cukup bugar," ujarnya.

Andik menegaskan bahwa anggapan bahwa pelari muda pasti aman dan pelari senior pasti berbahaya adalah pemahaman yang keliru. "Usia muda tidak berarti pasti aman. Usia lanjut tidak berarti pasti berbahaya," kata Andik. Ia menekankan bahwa kesadaran untuk menjalani skrining kesehatan secara rutin dan memahami kondisi tubuh masing-masing adalah faktor terpenting sebelum mengikuti latihan atau lomba lari jarak jauh.

Artikel Terkait