Kesehatan

Pentingnya Orangtua Mengelola Emosi untuk Kesejahteraan Anak

Mengelola emosi merupakan hal krusial bagi orangtua, karena dapat memengaruhi hubungan mereka dengan anak. Psikoterapis Hilary Jacobs Hendel menjelaskan lima alasan mengapa hal ini sangat penting.

D
Danendra Surya
15 August 2026 59 pembaca
Pentingnya Orangtua Mengelola Emosi untuk Kesejahteraan Anak
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Menjadi orangtua tidak selalu berarti harus bersikap tenang dan sabar dalam setiap situasi. Terkadang, perilaku anak dapat memicu berbagai emosi seperti kemarahan, kecemasan, atau kelelahan. Namun, kemampuan orangtua dalam mengenali dan mengelola emosi tersebut dapat berdampak besar pada hubungan mereka dengan anak. Anak tidak hanya belajar dari nasihat yang diberikan, tetapi juga dari cara orangtua menghadapi emosi sehari-hari. Psikoterapis Hilary Jacobs Hendel, LCSW, menekankan bahwa memahami kehidupan emosional dapat membantu orangtua lebih hadir, terhubung, dan tangguh dalam mendampingi anak.

Emosi Orangtua dan Dampaknya pada Anak

Anak dapat merasakan emosi orangtua melalui sinyal nonverbal seperti ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh. Misalnya, ketika orangtua merasa marah atau cemas, perubahan nada suara dan ekspresi wajah dapat membuat anak merasakan ketegangan. Bahkan, anak mungkin tidak memahami alasan di balik emosi tersebut dan mengira bahwa kemarahan itu ditujukan kepadanya. Hendel menjelaskan bahwa emosi yang tidak disadari dapat memengaruhi orang-orang di sekitar melalui komunikasi nonverbal. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengenali kondisi emosional diri sendiri agar dapat berkomunikasi dengan anak secara lebih hati-hati.

Respon Orangtua dan Pengaruhnya pada Pola Asuh

Perilaku anak sering kali dapat memicu emosi yang kuat pada orangtua. Misalnya, ketika anak mengalami tantrum, orangtua bisa merasa marah. Di sisi lain, anak yang mulai menjauh saat memasuki masa remaja dapat menimbulkan rasa takut atau kesedihan. Situasi tertentu juga dapat mengingatkan orangtua pada pengalaman emosional yang pernah dialami sebelumnya. Jika tidak disadari, hal ini dapat menyebabkan reaksi spontan. Dengan mengenali, menerima, dan mengelola emosi yang muncul, orangtua dapat berhenti sejenak sebelum memberikan respons. Mereka dapat berusaha memahami perasaan yang dialami dan memilih respons yang sesuai dengan nilai pengasuhan yang ingin diterapkan.

Pembelajaran Emosi oleh Anak

Anak belajar mengenali dan menghadapi emosi dengan mengamati orang-orang di sekitarnya, terutama orangtua. Mereka melihat bagaimana orangtua menilai emosinya sendiri, menghindari perasaan tertentu, atau bahkan mengkritik emosi orang lain. Sebaliknya, anak juga dapat belajar dari orangtua yang mampu mengakui perasaannya dan menunjukkan empati. Ketika orangtua dapat mengakui emosi tanpa dikuasai olehnya, anak belajar bahwa perasaan seperti marah, sedih, atau kecewa adalah bagian normal dari kehidupan. Misalnya, orangtua bisa berkata, "Aku sedang kesal sekarang. Aku butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri." Ucapan ini menunjukkan kepada anak bahwa merasa marah adalah hal yang wajar, tetapi emosi perlu dikelola agar tidak dilampiaskan kepada orang lain.

Pola Asuh yang Dipengaruhi oleh Pengalaman Masa Lalu

Terkadang, respons orangtua terhadap anak tidak hanya dipengaruhi oleh situasi saat ini, tetapi juga oleh pengalaman emosional di masa lalu. Contohnya, orangtua yang sering dikritik ketika melakukan kesalahan mungkin tanpa sadar melakukan hal serupa ketika melihat anaknya berbuat kesalahan. Pola ini dapat membuat anak belajar bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang buruk, padahal kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Dengan menyadari pola emosional tersebut, orangtua dapat mulai membedakan antara pengalaman masa lalu dan situasi yang dihadapi saat ini. Kesadaran ini memberikan ruang bagi orangtua untuk merespons sesuai dengan kebutuhan anak, bukan hanya mengulangi pola pengasuhan yang pernah diterima.

Kebutuhan Emosional Orangtua

Seringkali, orangtua merasa terdorong untuk memprioritaskan kebutuhan anak di atas kebutuhan mereka sendiri. Namun, mengabaikan kebutuhan emosional pribadi tidak menjamin seseorang menjadi orangtua yang lebih baik. Orangtua juga memerlukan waktu untuk beristirahat, mendapatkan dukungan, menjalin koneksi dengan orang lain, serta kesempatan untuk memproses emosi yang dirasakan. Menurut Hendel, merawat kehidupan emosional diri sendiri bukanlah tindakan egois. Sebaliknya, hal ini dapat membantu orangtua lebih peka dan hadir saat mendampingi anak. Ketika orangtua memiliki waktu untuk menenangkan diri dan mendapatkan dukungan, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan dalam pengasuhan.

Artikel Terkait