Kesehatan

Pentingnya Jam Tidur untuk Pertumbuhan Tinggi Badan Anak

Kebiasaan tidur yang baik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi badan anak, seperti yang diungkapkan oleh seorang ahli dari IPB University. Tidur yang cukup dapat mendukung produksi hormon pe...

M
Mikayla Rahmadani
22 August 2026 70 pembaca
Pentingnya Jam Tidur untuk Pertumbuhan Tinggi Badan Anak
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kebiasaan tidur yang tidak teratur, seperti begadang, dapat berdampak negatif pada pertumbuhan tinggi badan anak. Hal ini dijelaskan oleh dr. Ditia Gilang Shah Putra Rahim, seorang dosen dari Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University. Ia menyatakan, "Benar. Kebiasaan tidur terlalu malam dapat memengaruhi tinggi badan anak. Anak yang kurang tidur berisiko memiliki tinggi badan yang lebih pendek. Hal ini berhubungan dengan produksi hormon pertumbuhan yang paling banyak keluar selama anak tidur."

Peran Hormon Pertumbuhan dalam Tidur

Dr. Gilang menjelaskan bahwa hormon pertumbuhan dihasilkan oleh kelenjar pituitari di otak dan mencapai puncaknya saat anak berada dalam fase tidur yang dalam, yaitu deep slow-wave sleep (SWS), yang merupakan bagian dari tidur non-rapid eye movement (NREM). Pada fase ini, hormon pertumbuhan dilepaskan ke dalam aliran darah dan berfungsi untuk memperbaiki jaringan, membangun otot, serta memperkuat tulang.

Selama masa pubertas, terjadi lonjakan pertumbuhan tinggi badan yang signifikan akibat peningkatan hormon seks dan hormon pertumbuhan. Namun, untuk mencapai pertumbuhan yang optimal, pola hidup sehat harus diterapkan jauh sebelum masa pubertas.

Pentingnya Gizi Seimbang

Selain tidur yang cukup, dr. Gilang menekankan pentingnya asupan gizi yang seimbang. Ia menjelaskan bahwa hanya mengandalkan susu tidaklah cukup untuk meningkatkan tinggi badan anak. "Jadi konsumsi susu saja tidak cukup. Harus ada kombinasi dari variasi zat gizi makro dan mikro yang seimbang," ujarnya. Ia menambahkan bahwa anak membutuhkan karbohidrat kompleks, protein hewani, lemak, serta vitamin dan mineral seperti vitamin D, vitamin K, kalsium, zink, magnesium, dan fosfor untuk mendukung pertumbuhan tulang secara optimal.

Suplemen hanya berfungsi sebagai tambahan dan sebaiknya diberikan sesuai kebutuhan, misalnya pada anak yang mengalami kekurangan vitamin atau masalah penyerapan nutrisi. Dr. Gilang juga menyarankan agar orang tua membangun kebiasaan hidup sehat dengan menjaga pola makan yang bergizi, menerapkan jadwal tidur yang teratur, serta mendorong anak untuk beraktivitas fisik. Ia mengingatkan agar penggunaan perangkat elektronik dihentikan setidaknya satu jam sebelum waktu tidur. "Durasi tidur yang dianjurkan bervariasi sesuai usia, mulai dari 9-12 jam untuk anak usia sekolah hingga 8-10 jam untuk remaja," tuturnya.

Jam Tidur yang Diperlukan Anak Berdasarkan Usia

Kebutuhan tidur anak dalam 24 jam bervariasi tergantung pada kelompok usia mereka, menurut standar dari American Academy of Pediatrics. Bayi berusia 4 hingga 12 bulan memerlukan waktu tidur paling lama, yaitu antara 12 hingga 16 jam per hari, termasuk tidur siang. Anak berusia 1 hingga 2 tahun disarankan tidur antara 11 hingga 14 jam, sedangkan anak usia 3 hingga 5 tahun membutuhkan 10 hingga 13 jam, dengan tidur siang sebagai bagian dari total durasi tersebut.

Memasuki usia sekolah, antara 6 hingga 12 tahun, anak umumnya tidak lagi memerlukan tidur siang dan cukup tidur malam selama 9 hingga 12 jam. Kebutuhan tidur ini terus menurun hingga masa remaja, yaitu antara 13 hingga 18 tahun, di mana durasi tidur malam yang disarankan adalah 8 hingga 10 jam.

Artikel Terkait