Di era digital saat ini, perangkat elektronik digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari hiburan hingga pendidikan. Namun, durasi penggunaan yang terlalu lama menjadi perhatian khusus bagi para ahli kesehatan mata.
Dokter Konsultan Spesialis Mata dari Mayapada Eye Centre (MEC), dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M, mengungkapkan bahwa penggunaan gadget dimulai pada usia yang semakin muda dan dalam durasi yang lebih lama dibandingkan sebelumnya. "Di era digital saat ini, anak-anak usia balita pun sudah terpapar oleh digital, baik itu buat merangsang agar bisa makan sendiri, ada juga yang untuk hiburan," jelas dr. Zoraya.
Paparan Gadget Sejak Dini
Perkembangan teknologi telah membuat anak-anak lebih dekat dengan perangkat digital sejak usia dini. Banyak orangtua yang menggunakan gadget sebagai alat bantu dalam aktivitas sehari-hari. Menurut dr. Zoraya, intensitas penggunaan perangkat digital cenderung meningkat seiring bertambahnya usia anak. "Tapi prinsipnya paparan gadget itu sudah sejak dini dan dalam waktu yang lebih panjang. Semakin dia bertambah usia, maka semakin intens terhadap digital," ujarnya.
Kebiasaan ini perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kesehatan mata anak. Struktur mata yang masih berkembang pada masa pertumbuhan membuat anak lebih rentan terhadap perubahan akibat aktivitas visual jarak dekat yang dilakukan secara terus-menerus.
Risiko Meningkatnya Kasus Miopia
Salah satu dampak yang mengkhawatirkan adalah meningkatnya kasus miopia atau mata minus. Kondisi ini menyebabkan seseorang kesulitan melihat objek yang berada pada jarak jauh dengan jelas. Menurut dr. Zoraya, penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan mata minus. "Menurut WHO, tahun 2050 kemungkinan besar setengah populasi dunia akan mengalami mata minus," katanya. Ia menekankan bahwa orang tua sebaiknya tidak melarang penggunaan gadget, tetapi mengajarkan anak untuk bijak dalam menggunakannya.
Solusi utama bukanlah melarang penggunaan gadget sepenuhnya, melainkan membangun kebiasaan yang sehat dan seimbang. Edukasi sejak dini dianggap penting agar anak memahami cara menggunakan perangkat digital tanpa mengorbankan kesehatan mata.
Aturan 20-20-20 untuk Kesehatan Mata
Salah satu kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan adalah memberi waktu istirahat pada mata saat melakukan aktivitas jarak dekat, seperti membaca atau menatap layar gadget. "Dari segi matanya, coba dibiasakan untuk 20 menit melihat dekat, break atau istirahat dengan melihat objek jauh berjarak lebih dari 6 meter selama 20 detik, dan baru kembali lihat jarak dekat," ujar dr. Zoraya. Metode ini dikenal sebagai aturan 20-20-20, yang bertujuan mengurangi ketegangan otot mata akibat fokus yang berlangsung terus-menerus pada jarak dekat.
Kebiasaan ini, jika dilakukan secara rutin, dapat membantu menjaga kenyamanan mata selama beraktivitas. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa, terutama pekerja kantoran, juga terpengaruh oleh penggunaan perangkat digital dalam waktu yang lama setiap hari. "Paparan blue light terus-menerus ini dapat mengubah circadian clock," ungkap dr. Zoraya.
Ia menjelaskan bahwa circadian clock adalah sistem biologis yang berperan penting dalam mengatur ritme tubuh, termasuk pola tidur dan tingkat kesadaran. "Bicara longevity, pasti kita ingin hidup yang berkualitas, tidur yang berkualitas, sehingga pada saat kita bekerja atau kita berolahraga bisa optimal," tambahnya.
Oleh karena itu, menjaga kesehatan mata di era digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melihat, tetapi juga berhubungan dengan kualitas hidup secara keseluruhan. Penggunaan gadget yang bijak, disertai kebiasaan istirahat mata yang teratur, merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.