Kesehatan

Pengalaman Pangeran Harry Menghadapi Depresi di Kanada

Pangeran Harry menceritakan pengalaman sulit yang dialaminya setelah pindah ke Kanada bersama Meghan Markle dan putra mereka, Archie, pada akhir 2019, termasuk masa depresi yang dialaminya.

M
Maria Gabriella
12 October 2026 59 pembaca
Pangeran Harry bersama Meghan Markle dalam sebuah pertemuan di kantor WHO, Februari 2026.
Pangeran Harry bersama Meghan Markle dalam sebuah pertemuan di kantor WHO, Februari 2026.

Pangeran Harry mengungkapkan pengalaman berat yang ia alami setelah bertransisi ke kehidupan baru di Kanada bersama istrinya, Meghan Markle, dan putra mereka, Pangeran Archie, pada akhir tahun 2019. Dalam kelas daring terbaru MasterClass yang berjudul Redefining Grief: Building Resilience Through Loss, Harry menjelaskan tentang apa yang ia sebut sebagai “adrenaline crash” atau penurunan drastis setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan yang tinggi.

Harry menjelaskan bahwa kepindahan mereka ke Kanada dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi keluarganya agar dapat menjauh dari berbagai tekanan dan berpikir dengan lebih jernih. Ia merasakan bahwa tubuhnya sudah terbiasa dengan kondisi penuh tekanan saat masih tinggal di Inggris. “Berada di Kanada, jauh dari lingkungan yang penuh tekanan, di mana mungkin tubuh saya dipenuhi adrenalin, dalam dua atau tiga hari saya mengalami penurunan adrenalin. Sesuatu yang belum pernah saya alami sebelumnya,” ujarnya.

Kondisi Mental yang Terpengaruh

Pangeran Harry mengakui bahwa kondisi tersebut mengganggu aktivitas sehari-harinya. Ia merasa seolah membutuhkan tekanan agar adrenalin tetap bekerja dan otaknya dapat berfungsi dengan baik. “Seolah-olah saya membutuhkan stres agar adrenalin membuat otak saya berfungsi karena saya menjadi tidak berguna di rumah,” katanya. Ia juga mengungkapkan bahwa ia mengalami depresi selama sekitar dua minggu, merasa tidak dapat berfungsi tanpa adrenalin.

Harry dan Meghan menghabiskan akhir tahun 2019 di Kanada bersama Archie yang saat itu masih bayi. Pada Januari 2020, mereka mengumumkan keputusan untuk mundur sebagai anggota senior keluarga kerajaan Inggris.

Hubungan dengan Duka yang Mendalam

Dalam sesi MasterClass tersebut, Harry juga menjelaskan bahwa pengalaman di Kanada tidak terpisah dari kesedihan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun setelah kehilangan ibunya, Putri Diana, pada tahun 1997. Ia mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun, ia terbiasa menjawab bahwa dirinya baik-baik saja ketika ditanya tentang kondisinya, padahal itu adalah bentuk dari mati rasa emosional. “Selama 15 atau 20 tahun, ketika orang bertanya, ‘Apakah kamu baik-baik saja?’ jawaban saya adalah, ‘Saya baik-baik saja.’ Itu adalah mati rasa, penutupan secara emosional,” tuturnya.

Harry juga mengaitkan adrenalin dengan keputusan hidupnya, termasuk saat bergabung dengan militer pada usia 20 tahun. “Itu menjadi kekuatan pendorong yang membuat saya bergabung dengan militer pada usia 20 tahun. Itu merupakan pengalihan yang sempurna. Saya tidak benar-benar bisa memikirkan hal lain selain tugas yang harus dilakukan,” ujarnya. Setelah menjalani dua kali penugasan perang, ia mulai menyadari bahwa pengalaman tersebut mungkin memicu trauma yang sebelumnya tersimpan dalam dirinya.

Harry mengaku pernah mengalami serangan panik dalam perjalanan menuju tempat kerja dan merasa tercekik saat mengenakan kemeja dengan kerah yang dikencangkan.

Dalam MasterClass, Harry berkolaborasi dengan ahli saraf Dr. Mary-Frances O'Connor untuk membahas hubungan antara duka, otak, dan tubuh. O'Connor menjelaskan bahwa duka bukan hanya pengalaman emosional, tetapi juga dapat memicu respons fisiologis pada tubuh. “Duka adalah sesuatu yang bersifat fisiologis sekaligus emosional. Berdasarkan penelitian, ada respons yang sangat umum terhadap kehilangan seseorang yang penting dalam hidup kita,” jelasnya.

Harry merasakan kondisi tersebut dan menyadari bahwa ia merasa bersalah ketika membayangkan hidup bahagia tanpa ibunya. “Saya merasa harus sedih dan mati rasa secara emosional untuk membuktikan kepadanya bahwa saya merindukannya,” ungkapnya. Namun, ia kemudian mendapatkan perspektif baru yang membantunya menjalani kehidupan. “Yang saya sadari adalah sebenarnya ibu saya hanya ingin saya bahagia. Itu merupakan perubahan besar dalam pola pikir saya. Hal itu membebaskan saya dan memberi pandangan yang benar-benar berbeda tentang kehidupan,” tuturnya.

Saat ini, Harry menyatakan bahwa pekerjaan amal yang ia lakukan menjadi salah satu cara untuk meneruskan warisan Putri Diana. Menurutnya, duka bukan berarti melupakan orang yang telah meninggal, melainkan membawa kenangan dan nilai-nilai orang tersebut dalam perjalanan hidup.

Artikel Terkait