Lifestyle

Penelitian: Aktivitas Otak Sejak Dini Dapat Mengurangi Risiko Alzheimer

Sebuah studi menunjukkan bahwa stimulasi otak sejak kecil dapat menurunkan risiko penyakit Alzheimer di usia tua. Penelitian ini menyoroti pentingnya pengayaan kognitif sepanjang hidup.

D
Daniel Kristianto
04 May 2026 11 pembaca
Penelitian: Aktivitas Otak Sejak Dini Dapat Mengurangi Risiko Alzheimer
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

KOMPAS.com - Menjaga kesehatan otak sama pentingnya dengan merawat kesehatan fisik, karena otak yang sehat dapat mempertahankan ketajaman berpikir. Seperti otot yang perlu dilatih untuk tetap kuat, otak juga memerlukan stimulasi intelektual yang berkelanjutan. Penelitian yang diterbitkan pada Februari 2026 dalam jurnal Neurology oleh American Academy of Neurology membahas pentingnya pengayaan kognitif dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut.

Dalam penelitian ini, para peneliti dari Rush University Medical Center di Chicago menyatakan bahwa aktivitas yang merangsang pikiran dapat memperlambat penurunan fungsi kognitif. Berbagai kegiatan sederhana, seperti membaca, menulis, dan mempelajari bahasa asing, memiliki hubungan yang signifikan dengan penurunan risiko Alzheimer di kemudian hari. "Kesehatan kognitif di masa tua sangat dipengaruhi oleh paparan seumur hidup terhadap lingkungan yang merangsang secara intelektual," ungkap salah satu peneliti.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat pembelajaran seumur hidup yang tinggi dapat menunda gejala Alzheimer hingga lima tahun lebih lama dibandingkan mereka yang kurang terstimulasi. Selain itu, gangguan kognitif ringan juga muncul tujuh tahun lebih lambat pada kelompok yang aktif mengasah kemampuan otak. Penelitian ini melibatkan 1.939 partisipan berusia rata-rata 80 tahun yang tidak memiliki riwayat demensia pada awal penelitian.

Selama delapan tahun masa tindak lanjut, ditemukan bahwa partisipan yang berada di 10 persen teratas dalam pengayaan kognitif memiliki risiko 38 persen lebih rendah untuk mengidap Alzheimer dan 36 persen lebih rendah mengalami gangguan kognitif ringan dibandingkan dengan kelompok terendah. Rata-rata, partisipan dengan pengayaan tertinggi didiagnosis Alzheimer pada usia 94 tahun, sementara kelompok terendah mulai mengalaminya pada usia 88 tahun.

Para peneliti juga menganalisis kebiasaan mental partisipan dalam tiga fase kehidupan. Pada masa kanak-kanak hingga remaja, mereka menilai frekuensi dibacakannya buku dan akses terhadap sumber literasi di rumah. Selama fase paruh baya, ketersediaan sumber daya literasi di rumah tangga menjadi fokus, dan pada fase usia lanjut, pengukuran difokuskan pada aktivitas harian seperti membaca dan menulis.

Walaupun hasil penelitian ini menunjukkan asosiasi antara aktivitas mental dan penurunan risiko Alzheimer, peneliti mengingatkan bahwa ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Meskipun demikian, temuan ini memberikan harapan dan dapat memengaruhi kebijakan kesehatan masyarakat di masa mendatang. "Temuan kami menggembirakan, menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas yang merangsang mental sepanjang hidup dapat membuat perbedaan dalam kognisi," tutup peneliti.

Artikel Terkait