Industri modest fashion di Indonesia berpotensi menjadi daya tarik utama dalam sektor wisata belanja. Wisatawan tidak hanya dapat membeli produk fesyen, tetapi juga mengunjungi pusat-pusat wastra, menyaksikan proses pembuatan kain tradisional, serta berinteraksi dengan para perajin di daerah asalnya.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menekankan bahwa fesyen memainkan peran krusial dalam pengembangan wisata belanja dan memperkuat daya tarik budaya Indonesia. Dalam sambutannya pada acara pembukaan IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 di Jakarta Convention Center pada Rabu, 14 Oktober 2026, ia menyatakan, “Fashion can inspire people to discover a destination.”
Pengalaman Berbelanja yang Berkesan
Widiyanti menjelaskan bahwa ketertarikan wisatawan terhadap koleksi desainer dapat mendorong mereka untuk mengunjungi suatu destinasi. Pengalaman berbelanja ini tidak hanya terbatas pada produk jadi, tetapi juga mencakup pemahaman tentang proses produksi dan kekayaan budaya setempat. Indonesia memiliki beragam wastra tradisional, seperti batik dan tenun, yang dapat dikembangkan menjadi produk modest fashion yang inovatif.
Pengembangan wisata belanja juga membuka peluang bagi para perajin. Menurut Widiyanti, kegiatan ini dapat memberikan pengalaman berbelanja yang berkesan sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. Wisatawan dapat mengunjungi sentra wastra, mengenal proses pembuatan kain, bertemu dengan pengrajin, dan membeli produk langsung dari daerah asalnya. “Ketertarikan terhadap koleksi desainer dapat menginspirasi wisatawan untuk mengunjungi sentra wastra, mengenal proses pembuatannya, bertemu para pengrajin, hingga berbelanja langsung di daerah asalnya,” ujarnya.
Pentingnya Acara Fesyen untuk Daya Tarik Wisata
Selain mendorong kunjungan ke sentra wastra, penyelenggaraan acara fesyen juga dianggap dapat memperkuat daya tarik suatu daerah sebagai destinasi wisata belanja. Widiyanti menambahkan bahwa acara seperti IN2MOTIONFEST dan JMFW dapat memperkuat posisi Jakarta sebagai tujuan wisata belanja dan penyelenggaraan acara internasional. Kehadiran desainer, pembeli, media, dan pengunjung dalam acara tersebut membuka peluang ekonomi bagi sektor-sektor pendukung, termasuk perhotelan, kuliner, transportasi, dan ritel.
Ia juga menyatakan bahwa melalui kegiatan peragaan busana, pameran, dan trade show, acara tersebut diharapkan dapat meningkatkan eksposur merek lokal dan membuka peluang transaksi bisnis. Keberhasilan penyelenggaraan acara perlu dilihat dari manfaat ekonomi yang dihasilkan bagi pelaku usaha dan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan fesyen tidak hanya berfungsi sebagai ajang untuk menampilkan koleksi desainer, tetapi juga sebagai sarana promosi produk lokal dan destinasi wisata.
Indonesia sebagai Pusat Modest Fashion Global
Widiyanti menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk memperkuat posisinya sebagai pusat modest fashion global. “Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai global modest fashion hub,” ujarnya. Dalam sambutannya, ia merujuk pada laporan State of the Global Islamic Economy Report 2024-2025 yang menunjukkan kinerja Indonesia di sektor modest fashion. Ia menyebutkan bahwa belanja konsumen Muslim global untuk produk fesyen diperkirakan akan mencapai 433 miliar dollar AS pada 2028. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas pengakuan internasional terhadap karya desainer dan merek Indonesia, serta mempromosikan kekayaan budaya dan destinasi wisata di Tanah Air.