Lifestyle

Panduan Aman Menggunakan AI untuk Memeriksa Kesehatan, Hindari Pertanyaan "Saya Sakit Apa?"

Teknologi kecerdasan buatan semakin mempengaruhi cara orang menilai kondisi kesehatan mereka, namun harus digunakan dengan bijak untuk menghindari kesalahan diagnosis.

D
Daniel Kristianto
15 May 2026 10 pembaca
Panduan Aman Menggunakan AI untuk Memeriksa Kesehatan, Hindari Pertanyaan "Saya Sakit Apa?"
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Dengan kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini dapat diakses melalui perangkat genggam, masyarakat mulai mengubah cara mereka menanggapi masalah kesehatan. Banyak orang lebih memilih untuk mencari informasi tentang gejala mereka secara online ketimbang langsung berkonsultasi dengan tenaga medis. Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, selaku Ketua Peneliti dan Pendiri Health Collaborative Center (HCC), menekankan pentingnya pengelolaan informasi kesehatan yang bijaksana agar tidak terjebak dalam kesimpulan yang salah.

Mengubah Kebiasaan Self-Diagnose Menjadi Kewaspadaan Diri

Menurut Ray, saat menggunakan platform AI seperti ChatGPT, sebaiknya pengguna tidak langsung bertanya "saya sakit apa". Sebaliknya, mereka harus memberikan informasi sebanyak mungkin mengenai gejala yang dirasakan. "Hati-hati dengan bertanya kepada ChatGPT atau mesin serupa. Nanya atau berikan data sebanyak-banyaknya kepada mesin pencari, gejala apa saja yang dirasakan," ujarnya dalam sebuah diskusi HCC di Jakarta.

Perbedaan Antara Skrining Risiko dan Diagnosis

Pemanfaatan teknologi untuk mencari informasi tentang keluhan kesehatan dapat memberikan manfaat, asalkan pengguna memahami batasan fungsinya. Ray menjelaskan bahwa platform digital tidak dirancang untuk memberikan diagnosis medis, melainkan untuk membantu pengguna memahami potensi risiko kesehatan. "Pastikan semua rekomendasi dari mesin pencari ini adalah bukan diagnostik, tapi rekomendasi skrining. Rekomendasi skrining berarti rekomendasi risiko, berarti belum ada penyakit di situ," jelasnya.

Jika hasil pencarian menunjukkan kemungkinan kecocokan gejala dengan suatu penyakit, pengguna sebaiknya memperhatikan sinyal tersebut sebagai tanda peringatan. Data dari platform seperti ChatGPT dan Gemini dapat membantu pasien mengambil langkah penanganan yang lebih tepat. "Jadikan ini sebagai skrining, tapi jangan jadikan ini sebagai diagnostik. Tetap harus ke tenaga kesehatan ya," tegasnya.

Strategi Menggunakan AI Secara Efektif

Keakuratan jawaban dari AI sangat tergantung pada cara pengguna menyusun pertanyaan. Sayangnya, banyak orang masih keliru dalam merumuskan pencarian informasi kesehatan. Kebiasaan yang umum adalah mengajukan pertanyaan langsung seperti "saya sakit apa", yang meminta mesin untuk memberikan diagnosis pasti, alih-alih menjelaskan gejala untuk skrining awal.

Ray menambahkan, pengguna disarankan untuk memberikan deskripsi yang lebih rinci tentang durasi, intensitas, dan lokasi gejala yang dialami. "Lebih bagus lagi kalau dibilang (di-prompt), 'Gejala utama saya ini, keluhan utama saya ini'. Biarkan mesin pencari ngumpulin segala algoritma untuk ngasih rekomendasi beberapa jenis penyakit," katanya.

Pentingnya Memvalidasi Sumber Informasi

Setelah mendapatkan gambaran mengenai risiko kesehatan, pengguna harus memverifikasi sumber informasi yang ditemukan di internet. Tidak semua situs web yang muncul di halaman pertama pencarian dapat dipercaya. "Sumber resmi di Indonesia cuma ada dua klaster, klaster regulatori itu berarti di Kementerian Kesehatan sampai di Dinkes. Klaster yang kedua hanya dari organisasi profesi, selebihnya anggap itu potensi hoaks tinggi," imbau Ray.

Memanfaatkan teknologi untuk mengenali tanda-tanda kesehatan yang tidak biasa sangat dianjurkan untuk meningkatkan kesadaran diri. "Saya tetap akan kekeh untuk bilang bahwa teman-teman anak muda, self-diagnostic itu enggak benar. Tapi, self-screening lewat mesin pencari berbasis AI malah sekarang saya katakan wajib dilakukan, karena punya hubungan lurus dengan self-awareness," ungkapnya.

Kekhawatiran setelah membaca hasil skrining online dapat menjadi pendorong untuk lebih waspada terhadap kesehatan. Rasa cemas ini dapat mendorong individu untuk segera menjadwalkan konsultasi dengan tenaga medis tanpa melakukan pengobatan sendiri.

Artikel Terkait