Kesehatan

Olahraga Rutin Penting untuk Mencegah Demensia pada Lansia

Keluarga sering kali panik saat orang tua mengalami masalah kesehatan, namun tanda-tanda demensia sering dianggap sebagai hal biasa. Padahal, aktivitas fisik rutin dapat mencegah penurunan fungsi kogn...

A
Aisyah Nur Hidayah
03 October 2026 61 pembaca
Ilustrasi demensia.(Freepik)
Ilustrasi demensia.(Freepik)

JAKARTA - Ketika orang tua mengalami lonjakan kadar gula darah atau tekanan darah, reaksi pertama dari keluarga biasanya adalah panik dan mencari pertolongan medis. Namun, saat lansia menunjukkan gejala seperti lupa atau kebingungan, sering kali hal itu dianggap sebagai bagian dari proses penuaan yang normal. Sebenarnya, penurunan fungsi kognitif yang dapat menyebabkan demensia bisa dicegah dan diperlambat dengan melakukan rutinitas fisik yang teratur.

Menurut dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp. ALK(K), yang merupakan spesialis kedokteran olahraga di Eminence Sports Medicine Center, aktivitas fisik merupakan investasi nyata untuk kesehatan mental di masa depan. Ia menjelaskan, "Mereka yang rajin melakukan aktivitas fisik ternyata bisa menurunkan risiko demensia atau alzheimer itu sampai 45 persen," saat memberikan penjelasan di Unika Atma Jaya Jakarta.

Peran Aktivitas Fisik dalam Kesehatan Otak

Aktivitas fisik tidak hanya memberikan manfaat fisik, tetapi juga meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak. Meskipun otak hanya menyumbang kurang dari 5 persen dari total berat tubuh, organ ini menyerap hampir sepertiga dari total sirkulasi darah yang dipompa oleh jantung setiap detiknya. "Ketika kita bergerak, itu baru aliran darah kita ke otak dan di situlah mengantarkan oksigen. Jadi oksigenasi atau kardio buat otak itu sangat penting," ungkap dr. Andi.

Aliran darah yang meningkat akibat aktivitas fisik berfungsi sebagai sistem pembersih yang efektif. Ini membantu menghilangkan tumpukan protein berbahaya seperti amiloid beta yang dapat membentuk plak penyebab Alzheimer. Selain itu, pasokan darah yang baik juga menjaga kesehatan pembuluh darah dan mengurangi risiko penyakit metabolik seperti hipertensi dan diabetes, yang merupakan faktor penyebab utama demensia.

Menyesuaikan Porsi Olahraga untuk Lansia

Untuk mencapai manfaat maksimal dari olahraga, penting bagi lansia untuk menyesuaikan intensitas dan durasi aktivitas dengan kondisi kognitif mereka. Lansia yang sehat secara klinis disarankan untuk berolahraga selama 150 menit per minggu. Aktivitas aerobik seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang, sebaiknya dipadukan dengan latihan angkat beban ringan untuk mencegah penurunan massa otot.

Bagi mereka yang menunjukkan gejala penurunan memori ringan, pola olahraga dapat disesuaikan dengan fokus pada aktivitas yang menggabungkan konsentrasi dan keseimbangan, seperti senam Tai Chi. "Bisa berjalan sambil menghitung mundur. Berjalan sambil menyebutkan sesuatu, nama-nama buah, di mana ada kombinasi antara aerobik dan kognitif," jelas dr. Andi. Jika lansia mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau ketidaknyamanan, aktivitas harus dihentikan tanpa memaksakan durasi.

Walaupun olahraga terbukti efektif dalam memperlambat demensia, suasana hati saat berolahraga juga sangat penting. Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), MD, seorang neurolog dan Rektor Unika Atma Jaya, menekankan bahwa keberhasilan intervensi fisik sangat tergantung pada perasaan senang saat melakukannya. "Kalau seandainya ada lansia menanam di kebun tapi dia sambil ngedumel, ya enggak ada gunanya kalau dari neurosains," kata dr. Yuda.

Banyak pendamping yang memaksakan jadwal olahraga demi mencapai target kebugaran, namun tekanan dan rasa tidak suka dapat mengurangi manfaat dari aktivitas tersebut. "Kalau kita paksakan, dia enggak happy, enggak bermanfaat. Jadi harus ada kata happy," tambah dr. Yuda. Oleh karena itu, keluarga disarankan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan saat berolahraga, sehingga lansia dapat merasa bahagia dan terlindungi dari penurunan fungsi kognitif.

Artikel Terkait