Dengan kecepatan yang luar biasa, postur tubuh yang tinggi, serta kemampuan menyelesaikan peluang dengan baik, Erling Haaland telah menjadi salah satu penyerang paling dikenal dalam dunia sepak bola. Namun, di balik banyaknya gol yang berhasil dicetaknya, terdapat kebiasaan sederhana yang diyakini membantu menjaga performanya. Pemain berusia 25 tahun ini sering mengingatkan dirinya sendiri dengan kalimat "Saya tidak lelah."
Dalam sebuah wawancara yang dirangkum oleh The Economic Times, Haaland mengungkapkan bahwa ia berusaha mengendalikan pikirannya ketika mulai merasakan kelelahan. Ia percaya bahwa pikiran sering kali ingin menyerah lebih cepat dibandingkan dengan kondisi fisiknya. "Saya terus mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya tidak lelah. Saya tidak lelah. Saya tidak lelah," jelasnya.
Pentingnya Kesehatan dan Pemulihan
Bagi Haaland, menjadi atlet profesional tidak hanya berkaitan dengan latihan fisik di lapangan. Ia juga sangat memperhatikan aspek-aspek lain seperti kualitas tidur, pemulihan tubuh, pola makan, serta cara mengelola pikiran agar selalu siap menghadapi pertandingan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan seorang atlet tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fisik, tetapi juga mental.
Metode berpikir yang diterapkan Haaland sebenarnya bukanlah hal yang baru di kalangan atlet elit. Banyak pelari maraton yang menggunakan teknik afirmasi positif untuk membantu mereka tetap bertahan saat menghadapi rasa lelah dalam perlombaan. Hal serupa juga disampaikan oleh pebasket NBA, LeBron James, yang menyatakan bahwa "kelelahan hanya ada di pikiran." Mantan quarterback NFL, Tom Brady, juga pernah mengatakan, "Persetan dengan tubuhmu yang lelah."
Self-Talk Positif dan Kinerjanya
Kebiasaan Haaland ini dikenal dalam psikologi olahraga sebagai self-talk positif, yaitu dialog internal yang digunakan untuk menjaga motivasi, fokus, dan kepercayaan diri. Menurut Prof. Antonis Hatzigeorgiadis, self-talk adalah alat psikologis yang dapat membantu mengatur pikiran, emosi, dan perilaku. Teknik ini diyakini mampu meningkatkan perhatian, memperkuat rasa percaya diri, serta membantu seseorang dalam mempertahankan performa saat menghadapi tantangan.
Meski memiliki banyak manfaat, penting untuk dicatat bahwa self-talk positif tidak berarti seseorang harus mengabaikan sinyal dari tubuhnya. Teknik ini seharusnya digunakan untuk membantu otak menafsirkan rasa lelah dengan cara yang berbeda, sehingga seseorang dapat bertahan lebih lama selama masih dalam batas kemampuan yang aman. Gejala seperti nyeri hebat, pusing, atau sesak napas tetap harus diperhatikan sebagai sinyal penting dari tubuh.
Self-talk lebih tepat digunakan untuk mengatasi keraguan mental atau keinginan untuk menyerah yang muncul sebelum batas fisik benar-benar tercapai. Dengan demikian, pendekatan ini dapat menjadi alat yang efektif bagi atlet dalam meningkatkan performa mereka tanpa mengabaikan kesehatan tubuh.