KABUPATEN BEKASI - Menurunkan berat badan sering kali diasosiasikan dengan pembatasan ketat dalam waktu makan. Salah satu metode yang banyak diminati adalah intermittent fasting, atau diet puasa. Metode ini mengharuskan individu untuk menahan diri dari makanan selama beberapa jam dan hanya diperbolehkan makan dalam jendela waktu yang sempit. Namun, banyak pemula yang merasa kesulitan dan akhirnya gagal dalam menjalankan program diet ini. Padahal, cara diet ini seharusnya bisa diterapkan dalam kebiasaan makan sehari-hari tanpa harus merasa tersiksa.
Cara Praktis Melakukan Intermittent Fasting
Banyak orang beranggapan bahwa mereka harus melewatkan sarapan atau menahan lapar di malam hari untuk memenuhi syarat puasa. Menurut Fernando Surya, seorang pelatih berlisensi dan pemenang L-Men of The Year 2006, pemikiran yang kaku ini justru membuat tekanan fisik menjadi lebih berat. "Sebenarnya kalau saya kasih tahu rahasianya, kita makan sehari tiga kali, normal tanpa ada cemilan, itu sudah intermittent," ujarnya. Dengan pengaturan jam makan di pagi, siang, dan malam, seseorang sudah menciptakan rentang puasa yang ideal, asalkan tidak mengonsumsi makanan ringan di antara waktu tersebut.
Contohnya, jika sarapan dilakukan pada pukul 07.00, makan siang pada pukul 13.00, dan makan malam pada pukul 19.00, maka ada jeda enam jam bagi lambung untuk memproses nutrisi. "Jam 19.00 malam terakhir makan, balik lagi ke jam 07.00 pagi, 12 jam. Intermittent teman-teman. Jadi itu rahasianya," jelas Fernando.
Pentingnya Kontrol Porsi Makan
Meskipun waktu makan yang fleksibel, bukan berarti seseorang bisa mengabaikan kontrol porsi. Keberhasilan dalam metode intermittent fasting ini bergantung pada kemampuan untuk mengendalikan diri saat dihadapkan dengan makanan berkalori tinggi. Meskipun diperbolehkan untuk menikmati makanan, penting untuk mengatur porsi agar tetap dalam batas wajar. Jangan sampai hanya karena akan berpuasa selama enam jam setelah makan terakhir, seseorang malah menambah porsi makan.
Fernando juga menjelaskan bahwa menghilangkan camilan dari rutinitas harian bisa terasa berat, terutama bagi mereka yang suka ngemil saat bekerja. Rasa ingin mengonsumsi makanan manis atau gorengan mungkin muncul, terutama di awal penerapan gaya hidup ini. "Misalnya mau reward diri sendiri, boleh enggak kalau mau cemilan? Boleh aja, tapi pilih harinya, jangan tiap hari," ungkapnya. Memberikan kelonggaran pada diri sendiri di akhir pekan dapat membuat proses diet menjadi lebih menyenangkan dan tidak terasa membebani.
Dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan realistis, diharapkan lebih banyak orang dapat menjalani intermittent fasting tanpa merasa tersiksa, sehingga mereka bisa mencapai tujuan kesehatan dan berat badan yang diinginkan dengan lebih mudah.