Kesehatan

Menjelajahi Mindfulness Progresif: Menjaga Kesehatan Mental dan Menggugah Perubahan Sosial

Konsep mindfulness dan perawatan diri semakin penting dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Namun, praktik ini harus diimbangi dengan kesadaran sosial untuk memberikan dampak positif bagi lingk...

M
Maria Gabriella
17 September 2026 65 pembaca
Ilustrasi sahabat. Ilustrasi teman.(freepik)
Ilustrasi sahabat. Ilustrasi teman.(freepik)

KONDISI masyarakat yang penuh tekanan saat ini membuat banyak orang beralih ke konsep mindfulness atau kesadaran penuh serta self-care sebagai cara untuk melindungi diri dari hiruk-pikuk yang ada. Di tengah berbagai berita negatif dan krisis yang melanda, mengambil waktu sejenak untuk menenangkan pikiran menjadi pilihan yang semakin relevan. Namun, sering kali praktik ini disalahartikan sebagai bentuk pelarian dari tanggung jawab sosial dan sikap apatis terhadap penderitaan orang lain. Sebenarnya, esensi dari kesadaran penuh adalah untuk memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekitar.

Jeda sebagai Waktu untuk Mengisi Ulang Energi

Menjaga kesehatan mental dengan cara menjauh dari informasi negatif adalah hal yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Namun, jeda tersebut seharusnya digunakan untuk mengisi ulang energi, bukan sebagai alasan untuk menutup mata dari ketidakadilan yang ada. Sry Lestari Samosir, seorang sosiolog dan dosen di Universitas Negeri Medan, menjelaskan bahwa setelah melakukan mindfulness, penting untuk kembali dengan kesadaran kritis mengenai masalah yang memerlukan perhatian dan tindakan nyata.

Empati dan Tindakan Nyata

Setelah mendapatkan ketenangan batin, langkah selanjutnya adalah menyalurkan empati kepada mereka yang terdampak oleh kondisi buruk saat ini. Sry menekankan pentingnya memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ia memperkenalkan konsep mindfulness progresif yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman, di mana ketenangan batin yang diperoleh dari meditasi harus dipadukan dengan nalar kritis untuk merespons ketidakadilan.

“Menurut saya, mindfulness itu juga ada yang progresif. Mindfulness ditambah kritik sosial menghasilkan sesuatu progresif, yang mengajarkan kita positif di tengah dunia yang kacau, membantu tetap waras, tapi tetap punya keberanian untuk melakukan sesuatu,” ungkap Sry. Pendekatan ini tidak hanya mengajak individu untuk berdamai dengan keadaan secara pasif, tetapi juga mendorong mereka untuk berani mengambil sikap yang tegas dan memberdayakan.

Menjaga Keseimbangan antara Ketenangan dan Tanggung Jawab Sosial

Sayangnya, tren gaya hidup lambat atau slow living yang tengah populer sering kali terjebak dalam individualisme. Banyak orang yang mengira bahwa merawat kesehatan mental hanya berkaitan dengan memanjakan diri. Sry menegaskan bahwa pemahaman ini salah dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya mengedepankan empati dan partisipasi sosial.

“Bukan mindfulness-mindfulness tapi menyelamatkan diri sendiri, menikmati kesendirian, menikmati kemewahan,” jelasnya. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam narasi ketenangan yang dapat mengarah pada pengabaian terhadap realitas sosial yang memerlukan keterlibatan kita.

Membangun Masa Depan yang Lebih Baik

Pada dasarnya, mencapai stabilitas mental yang baik bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah menuju peradaban yang lebih adil dan peduli. Kesejahteraan psikologis seharusnya memicu refleksi mendalam tentang struktur masyarakat yang lebih ideal. Dengan pikiran yang jernih dan bebas dari kecemasan, individu diharapkan mampu memikirkan masa depan komunitas dengan lebih tajam.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat kita hidup lebih nyaman di dalam realitas hidup yang sangat-sangat buruk ini, tetapi membantu kita cukup sadar untuk bertanya, realitas seperti apa yang sebenarnya ingin kita bangun?” tutup Sry.

Artikel Terkait