JAKARTA - Penuaan sering kali dihubungkan dengan penurunan fungsi tubuh, termasuk kemampuan mengingat. Namun, menganggap kelupaan pada orang lanjut usia sebagai hal yang biasa dapat menyebabkan keterlambatan dalam mendeteksi demensia, suatu kondisi yang sebenarnya dapat dicegah dan diatasi. Dengan meningkatnya populasi lansia, kesehatan dan kemandirian di masa tua menjadi tantangan besar bagi kualitas kesehatan masyarakat.
Kehilangan memori yang parah, seperti kesulitan mengenali lokasi dalam rumah atau wajah anggota keluarga, bisa menjadi kenyataan jika pola hidup sehat tidak diterapkan sejak dini. "Jumlah orang dengan demensia bisa meningkat tiga hingga empat juta pada tahun 2050 jika kita tidak mulai memperbaiki diri dari sekarang," ungkap Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, SpPD-KEMD, PhD, dalam sebuah acara di Unika Atma Jaya Jakarta pada Rabu (30/9/2026).
Dehidrasi dan Penurunan Fungsi Otak
Salah satu faktor yang sering diabaikan dalam penurunan fungsi otak adalah kurangnya asupan cairan. Seiring bertambahnya usia, rasa haus pada lansia cenderung menurun, sehingga mereka berisiko mengalami dehidrasi kronis tanpa gejala fisik yang jelas. Prof. Dante menekankan bahwa penelitian menunjukkan sekitar 45 persen kasus demensia dapat dicegah. Pencegahan ini merupakan investasi yang perlu dilakukan melalui pola makan yang baik, aktivitas fisik, dan pemenuhan kebutuhan cairan agar aliran darah ke otak tetap optimal.
Kurangnya cairan dapat menyebabkan Mild Cognitive Impairment (MCI) karena aliran darah yang terhambat ke jaringan saraf. Prof. Melani Budianta, seorang pegiat budaya dan dosen, pernah mengalami dampak dari dehidrasi akut yang membuatnya pingsan. "Dokternya meminta saya untuk menjalani MRI karena cairan tubuh saya sangat rendah. Ternyata, ini adalah masalah vaskuler, karena ada sambungan yang kurang lancar, dan ada kemungkinan ini bisa mengarah ke demensia," jelas Melani.
Perubahan Perilaku dan Kesulitan Berkomunikasi
Keluarga dan pendamping perlu lebih waspada terhadap perubahan kebiasaan sehari-hari. Gejala awal demensia tidak selalu ditandai dengan kelupaan, tetapi juga dapat terlihat dari hilangnya kemampuan berbahasa. Hal ini dialami oleh suami Melani, Eka Budianta, seorang jurnalis dan penyair, yang mulai kesulitan dalam mengungkapkan kata-kata. "Suami saya sangat fasih berbicara, tetapi pada momen tertentu, dia mengalami kesulitan untuk menemukan kata yang ingin disampaikannya," ungkap Melani.
Setelah menjalani pemeriksaan di klinik memori, kerusakan saraf otak Eka semakin terlihat melalui tes kognitif sederhana. Ketika diminta untuk menyebutkan nama-nama hewan yang dimulai dengan huruf S, ia hanya bisa menyebutkan 'sapi' dan kemudian terdiam. Kesulitan dalam merangkai kalimat ini membuat orang dengan demensia cenderung menjauh dari interaksi sosial, merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi. "Suami saya mulai kurang suka berinteraksi sosial. Ketika diajak pergi, dia sering bilang malas, dan ternyata itu juga merupakan gejala," tambah Melani.
Penurunan kognitif juga berdampak pada kemampuan finansial. Lansia yang mengalami demensia seringkali kesulitan dalam memahami urusan perbankan dan mengingat kewajiban administrasi bulanan. Melani mengalami hal ini ketika rumahnya mengalami pemadaman listrik dan pemutusan layanan air karena tagihan yang tidak dibayar. "Saya merasa sudah memberikan uang untuk dibayar, tetapi dia tidak lagi tanggap dengan cara itu, karena sistem perbankan terus berubah. Akhirnya, semua urusan finansial menjadi kacau," jelas Melani.
Gejala-gejala ini menunjukkan bahwa penurunan kemampuan berpikir tidak boleh dianggap sepele. Setiap kejanggalan dalam kehidupan sehari-hari perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis yang menyeluruh agar kerusakan kognitif tidak semakin parah. "Mitos lama yang menganggap 'pikun adalah hal yang wajar' sudah seharusnya dihapus. Yang ada adalah jangan menganggap remeh gejala pikun," tegas dr. Dante.