Industri kecantikan di Korea Selatan terus berinovasi dengan kehadiran bahan aktif baru yang menarik perhatian, yaitu polydeoxyribonucleotide atau PDRN. Bahan ini dihasilkan dari sperma ikan salmon dan secara ilmiah merupakan potongan DNA yang diekstrak dari sperma tersebut. PDRN dipercaya dapat membantu regenerasi sel, sehingga kulit wajah tampak lebih muda, dan kini semakin banyak digunakan dalam produk seperti pelembap dan serum harian.
Ahli kimia kosmetik, Perry Romanowski, menjelaskan bahwa "PDRN adalah bahan hasil daur ulang dari peternakan salmon industri makanan, bukan berarti orang memelihara salmon khusus untuk mendapatkan DNA ini."
Asal Usul dan Penggunaan PDRN dalam Medis
Meski terdengar aneh untuk mengaplikasikan ekstrak sperma salmon pada kulit, pemanfaatan bahan hewani dalam pengobatan sudah diakui sejak lama. PDRN awalnya digunakan dalam pengobatan regeneratif, khususnya untuk penyembuhan luka kronis seperti bisul diabetes melalui metode suntik. Sperma salmon dipilih karena sel tersebut dianggap paling tepat untuk menghasilkan DNA murni tanpa risiko kontaminasi.
Dokter kulit Mona Gohara, MD, menyatakan, "PDRN telah digunakan dalam pengobatan regeneratif selama bertahun-tahun, terutama di Eropa dan Asia. Ada penggunaan klinis PDRN suntik yang kredibel dalam ranah medis untuk penyembuhan luka maupun bisul, dan bahan ini umumnya dapat ditoleransi dengan baik untuk penggunaan medis."
Kesamaan struktur DNA antara sperma salmon dan manusia dapat memicu reaksi positif. Romanowski menjelaskan, "Anak tangga penyusun DNA terbuat dari empat bahan kimia yang sama." Hal ini memungkinkan PDRN untuk berikatan dengan sel manusia dan merangsang pembentukan kolagen baru. Gohara menambahkan, "Suntikan PDRN pada dasarnya menyalakan sakelar tersebut untuk membangunkan sel dan diharapkan membuat sel-sel itu memproduksi lebih banyak kolagen."
Antara Klaim Pemasaran dan Bukti Ilmiah
Dengan keberhasilan di bidang medis, produsen kosmetik mulai percaya bahwa PDRN dalam bentuk oles dapat merangsang perbaikan jaringan. Meskipun demikian, klaim ini belum didukung oleh penelitian jangka panjang yang solid. Dokter kulit Melissa K. Levin, MD, mengungkapkan, "Klaim ketenaran PDRN adalah bahwa bahan ini merupakan salah satu perawatan kulit paling populer di pasar yang sangat kritis, Korea, dan sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Pemasarannya bergerak lebih cepat daripada sainsnya."
Beberapa ahli mengingatkan bahwa pengujian PDRN masih terbatas di laboratorium. Romanowski menekankan, "Bukti yang kita miliki tentang manfaat PDRN ada pada kultur sel, di mana bahan ini bisa melakukan hal-hal seperti mematikan produksi melanin." Namun, hal ini tidak berarti bahwa PDRN akan memberikan hasil yang sama saat dioleskan ke kulit.
Selain itu, tantangan fisik juga menjadi hambatan. Idealnya, partikel produk oles tidak boleh lebih besar dari 500 dalton agar dapat menembus lapisan kulit secara efektif. Namun, fragmen DNA salmon jauh lebih besar, sehingga kemungkinan besar hanya akan menempel di permukaan kulit. Marisal Mou, ahli kimia kosmetik, menyatakan, "PDRN itu sangat rapuh. Bahan ini tidak stabil, sangat rumit untuk diformulasikan, dan rentan terhadap oksidasi."
Meskipun masih terdapat keraguan dan tantangan dalam formulasi, popularitas PDRN terus meningkat di kalangan konsumen. Amanda Lam, ahli kimia kosmetik, menambahkan, "Sangat menarik melihat seberapa cepat PDRN meledak di dunia perawatan kulit. Gagasannya sendiri sudah sangat mencolok." Namun, jika para ilmuwan tidak menemukan solusi untuk masalah kestabilan, PDRN mungkin akan segera tergantikan oleh inovasi baru di masa depan.
Mou menekankan pentingnya kualitas ekstraksi dan kemurnian bahan, serta distribusi ukuran fragmen yang seragam, yang semuanya berujung pada peningkatan biaya bahan.