Kejadian pelecehan seksual yang berupa voyeurisme, seperti perekaman tanpa izin, dapat meninggalkan dampak psikologis yang signifikan bagi korban. Pengalaman ini diungkapkan oleh seorang influencer berinisial S, yang mengaku menjadi korban voyeurisme di toilet wanita sebuah restoran di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, pada April 2026. Dalam unggahannya pada 7 Oktober, S menyatakan bahwa insiden tersebut menimbulkan trauma yang mendalam dan mengingatkan korban lain agar tidak merasa sendirian dalam menghadapi masalah serupa.
Cara Memulihkan Trauma Setelah Menjadi Korban Voyeurisme
Psikolog Sani Budiantini, Psi., menjelaskan bahwa setiap individu memiliki waktu pemulihan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting untuk tidak memaksakan diri untuk segera melupakan pengalaman yang menyakitkan. “Lamanya pemulihan orang tuh berbeda juga,” ujar Sani. Ia menekankan bahwa memaksa korban untuk melupakan kejadian tersebut bukanlah pendekatan yang tepat. “Trauma itu tidak bisa cepat-cepat dilupakan. Kejadian tidak menyenangkan tuh enggak boleh dipaksain untuk dilupain,” tambahnya. Korban perlu diberikan waktu untuk memproses perasaannya tanpa tekanan untuk kembali seperti semula.
Pentingnya Dukungan Sosial
Lingkungan sosial yang mendukung juga berperan penting dalam proses pemulihan. Sani menyarankan agar orang-orang di sekitar korban mendengarkan cerita serta keluhan mereka tanpa menyalahkan atau meremehkan perasaan yang muncul. “Yang pertama tidak boleh menyalahkan korban. Kita harus men-support, mendengarkan apa yang dikeluhkan. Kita harus active listening,” jelasnya. Menunjukkan empati sangat penting, dan menghindari penilaian yang berlebihan terhadap reaksi korban dapat membantu mereka merasa didengar dan tidak sendirian dalam menghadapi dampak dari kejadian tersebut.
Selain itu, Sani menyarankan agar korban mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional jika mereka merasa perlu. Bantuan dari psikolog tidak harus menunggu sampai kondisi menjadi lebih berat. “Jangan sampai udah berat baru datang ke psikolog, tapi justru ketika mengalami ini ya harus ke psikolog juga,” ungkapnya. Pendampingan dari profesional dapat membantu korban membahas pengalaman dan perasaan mereka dengan dukungan yang sesuai.
Teknik grounding dan latihan pernapasan juga dapat dipelajari untuk membantu korban menghadapi rasa ketidaknyamanan. Teknik grounding dapat membantu individu untuk kembali fokus pada keadaan saat ini, sementara latihan pernapasan dapat menenangkan diri saat rasa cemas atau takut muncul. Pemilihan teknik ini harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing korban, dan jika mengalami kesulitan, mereka disarankan untuk berdiskusi dengan tenaga profesional.
Sani menekankan bahwa hal terpenting dalam mendampingi korban adalah menciptakan rasa aman dan validasi terhadap perasaan mereka. “Yang penting korban itu merasa aman, bisa didengar, tervalidasi, tidak diabaikan perasaannya, dan juga merasa lingkungan itu ada di pihaknya untuk mendengarkan dirinya,” tuturnya. Pesan ini sejalan dengan ungkapan S yang mengingatkan bahwa korban tidak perlu menghadapi pengalaman tersebut sendirian dan sebaiknya mencari dukungan dari orang yang mereka percayai.