Hubungan yang telah berakhir sering kali tidak menghentikan seseorang untuk terus memperhatikan kehidupan mantan pasangan mereka. Dengan adanya media sosial, informasi mengenai mantan dapat dengan mudah diakses, meskipun hubungan tersebut telah lama berakhir. Tak jarang, seseorang tanpa sadar kembali membuka profil mantan atau mencari namanya di kolom pencarian. Kebiasaan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari rasa penasaran hingga perasaan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Pemicu Kebiasaan Stalking Mantan
Menurut psikolog klinis Suhas K. dari Maarga Mind Care di Bangalore, kebiasaan untuk mengecek media sosial mantan tidak selalu menunjukkan keinginan untuk kembali menjalin hubungan. Salah satu pemicu utama adalah rasa penasaran terhadap kehidupan mantan setelah perpisahan. Keinginan ini sering muncul ketika seseorang melihat unggahan teman yang berinteraksi dengan mantan atau secara tidak sengaja menemukan akun mantan saat berselancar di media sosial. “Ketika seseorang melihat mantannya bahagia, sukses, dan aktif bersosialisasi, muncul dorongan untuk membandingkan diri. Orang tersebut mungkin ingin mengetahui bagaimana mantannya menggambarkan hubungan atau perpisahan mereka di media sosial,” jelas Suhas.
Perasaan yang belum tuntas juga dapat mendorong seseorang untuk terus mencari tanda bahwa mantan masih memikirkan hubungan tersebut. Suhas menambahkan bahwa rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO) dapat memperkuat kebiasaan ini. “FOMO sering menjadi faktor tambahan, terutama ketika seseorang merasa kehilangan sesuatu,” ungkapnya. Seiring waktu, kebiasaan ini bisa menjadi rutinitas. Kenangan, kesepian, kebosanan, atau sekadar membuka aplikasi media sosial dapat membuat seseorang kembali menemukan profil yang sama.
Langkah-Langkah untuk Mengurangi Kebiasaan Stalking
Suhas memberikan beberapa saran untuk membantu mengurangi kebiasaan mengecek mantan. Pertama, identifikasi situasi yang biasanya memicu keinginan untuk mengecek mantan. Pemicu ini bisa berupa rasa kesepian, kebosanan, kenangan akan hubungan, atau melihat unggahan teman. Setelah mengetahui pemicunya, alihkan perhatian dengan melakukan aktivitas lain saat dorongan tersebut muncul.
Kedua, kurangi akses ke profil mantan. Pengguna dapat membisukan unggahan dan cerita, berhenti mengikuti akun, mengarsipkan percakapan, atau menghapus akses cepat menuju profil mantan. Langkah ketiga adalah menunda keinginan untuk mengecek mantan selama 10 hingga 15 menit. Alih-alih langsung membuka profil, gunakan waktu tersebut untuk berjalan kaki, berbicara dengan teman, atau mendengarkan musik.
Keempat, ingat bahwa apa yang terlihat di media sosial bukanlah gambaran menyeluruh tentang kehidupan seseorang. Unggahan mantan mungkin hanya menunjukkan sisi tertentu yang ingin mereka tampilkan. Oleh karena itu, membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang terlihat di akun mantan tidak selalu memberikan perspektif yang adil. Kelima, perhatikan dampak kebiasaan ini terhadap diri sendiri. Jika mengecek mantan justru menambah kecemasan, cemburu, kesulitan tidur, atau perasaan putus asa, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.
Suhas menjelaskan bahwa psikiater dapat membantu mengevaluasi kondisi emosional, sementara konselor dapat membantu mengatasi masalah keterikatan dan proses berpisah. “Tujuannya bukan untuk memaksa diri melupakan seseorang dalam semalam, tetapi secara bertahap mengurangi kebiasaan yang membuat kamu tetap terikat pada masa lalu,” tutup Suhas.