Dalam keadaan marah, seseorang sering kali merasa dorongan untuk segera mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Jari-jari tangan pun dengan cepat mengetik komentar, membalas unggahan, atau menulis di media sosial. Namun, apa yang dianggap mendesak untuk disampaikan saat emosi memuncak mungkin tidak lagi terasa penting setelah suasana hati menjadi lebih tenang. Psikolog klinis, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, merekomendasikan agar masyarakat memberi jeda sebelum memposting ketika sedang dikuasai emosi. Konsep ini dikenal dengan istilah pause before posting, yaitu berhenti sejenak sebelum menekan tombol unggah atau mengirimkan balasan di media sosial.
"Biasakan memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu. Prinsip sederhana seperti 'pause before posting' sangat membantu. Jika sedang marah, sebaiknya jangan langsung menulis atau mengunggah apa pun," ungkap Ratih.
Kenali Tanda Emosi yang Meningkat
Menurut Ratih, penting bagi seseorang untuk mengenali tanda-tanda ketika emosinya mulai meningkat. Beberapa indikator yang dapat diperhatikan antara lain ketegangan pada tubuh, pikiran yang dipenuhi kemarahan, atau dorongan kuat untuk segera membalas komentar. Dalam kondisi emosional seperti ini, keputusan yang diambil secara impulsif cenderung dipengaruhi oleh emosi sesaat. Media sosial memungkinkan seseorang untuk merespons dengan cepat, berbeda dengan interaksi tatap muka yang lebih terukur. Oleh karena itu, memberi jeda dapat menjadi kesempatan untuk menenangkan diri sebelum membuat keputusan.
Ratih menyarankan agar seseorang menunggu beberapa menit atau bahkan beberapa jam sebelum mengunggah atau membalas sesuatu di media sosial. Jeda ini memberikan waktu bagi emosi untuk mereda, sehingga individu dapat mempertimbangkan kembali apakah unggahan tersebut benar-benar perlu disampaikan.
Pentingnya Jeda Tidak Hanya Saat Marah
Kebiasaan memberi jeda sebelum memposting tidak hanya berlaku saat seseorang marah. Kelelahan dan tekanan juga dapat memengaruhi kemampuan individu dalam mengendalikan respons emosional. Oleh karena itu, kondisi fisik dan mental perlu diperhatikan sebelum aktif di media sosial. Ratih menyarankan agar masyarakat menjaga kualitas tidur, mengelola beban kerja, dan membatasi paparan media sosial ketika merasa sangat lelah. Memiliki saluran untuk melepaskan stres yang sehat juga penting agar tekanan tidak selalu dilampiaskan melalui ruang digital. Dengan cara ini, seseorang dapat belajar mengendalikan apa yang akan ditulis dan mengenali kondisi dirinya sebelum berinteraksi dengan orang lain.
Media sosial memang merupakan platform untuk berekspresi, namun kebebasan tersebut harus disertai dengan tanggung jawab. "Media sosial itu memang sebuah ruang untuk berekspresi. Tapi, media sosial bukan ruang yang bebas dari tanggung jawab," kata Ratih. Setiap unggahan yang dibuat dapat mencerminkan karakter, nilai, dan integritas seseorang. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan kembali sebelum membagikan sesuatu kepada publik.
Memberi jeda bukan berarti seseorang tidak boleh mengungkapkan kemarahan atau pendapat. Sebaliknya, jeda dapat membantu individu memilih cara penyampaian yang lebih tepat setelah emosinya lebih stabil. Jadi, saat marah, tidak ada salahnya untuk sementara waktu menutup aplikasi media sosial.
Tarik napas, lakukan aktivitas lain, dan beri waktu bagi emosi untuk mereda. Setelah beberapa menit atau jam, barulah kembali melihat tulisan yang ingin diunggah. Mungkin setelah emosi lebih tenang, kita menyadari bahwa tidak semua hal yang ingin dikatakan saat marah perlu dipublikasikan.