Kesehatan

Mengapa Kulit Bayi Masih Merah Meski Popok Diganti Secara Rutin? Simak Penjelasan Dokter

Meskipun orang tua rutin mengganti popok bayi untuk menjaga kebersihan, kulit bayi tetap bisa mengalami kemerahan. Dokter menjelaskan beberapa faktor yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit bayi.

T
Theresia Agatha Lestari
29 September 2026 18 pembaca
Ilustrasi bayi pakai popok(Magnific/Magnific)
Ilustrasi bayi pakai popok(Magnific/Magnific)

Kegiatan mengganti popok secara teratur merupakan salah satu langkah yang diambil orang tua untuk memastikan kebersihan dan kenyamanan bayi. Namun, meskipun popok telah diganti secara berkala, kulit bayi masih dapat menunjukkan tanda kemerahan. Hal ini tidak selalu menunjukkan bahwa popok yang digunakan tidak sesuai untuk kulit bayi. Menurut dokter, terdapat berbagai faktor lain yang dapat menyebabkan iritasi di area yang tertutup popok.

Penyebab Kemerahan Kulit Bayi

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika, dr. Triana Agustin, SpDVE, Subsp DA, FINSDV, FAADV, menjelaskan bahwa dermatitis popok dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Ia menekankan pentingnya memperhatikan kelembapan dan kontak dengan urine. “Kalau yang disebut kelainan kulit akibat penggunaan popok yang tidak tepat atau perawatan kulit yang tidak tepat di area popok, sehingga faktor kelembapannya, kebersihannya, kemudian kontak dengan urine, dengan feses itu kan multifaktor, itu dermatitis popok,” ungkapnya saat acara peresmian Merries Flagship Store di Toko Raja Susu Meruya, Jakarta Barat.

Triana menambahkan bahwa pemilihan popok yang sesuai harus disertai dengan perawatan yang baik pada area popok agar kondisi kulit bayi tetap terjaga. Kelembapan berlebih dan kontak kulit dengan urine serta feses dapat menjadi faktor penyebab masalah kulit di area tersebut. Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan tidak hanya seberapa sering popok diganti, tetapi juga memastikan area tersebut dibersihkan dengan baik.

Pengaruh Cara Penggunaan Popok

Selain kebersihan, cara penggunaan popok yang kurang tepat juga dapat meningkatkan risiko iritasi pada kulit bayi. Triana menjelaskan bahwa ukuran popok harus disesuaikan dengan tubuh bayi, karena popok yang terlalu sempit dapat meningkatkan gesekan pada kulit. “Yang penting ukurannya pas terus bahannya memang harus yang lembut, jadi tidak bikin iritasi,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa permukaan popok sebaiknya halus dan memiliki daya serap yang baik agar cairan tidak kembali ke permukaan yang bersentuhan dengan kulit.

Walaupun popok memiliki daya serap tinggi, penggunaannya tetap tidak dianjurkan sepanjang hari tanpa diganti, mengingat kapasitasnya memiliki batas tertentu.

Kapan Harus Memeriksakan Kemerahan?

Jika kulit bayi mulai menunjukkan tanda iritasi, orang tua dapat mencoba memperbaiki cara penggunaan popok dan perawatan area tersebut. Triana menyatakan bahwa kulit bayi biasanya dapat pulih jika penggunaan popok dilakukan dengan benar, area popok dibersihkan dengan baik, dan kelembapan dijaga. “Kalau memang tidak terjadi perbaikan atau bahkan bertambah parah, itu harus segera dibawa ke dokter,” jelasnya.

Orang tua perlu lebih waspada jika kemerahan semakin parah, muncul bintil-bintil merah, atau kulit mengalami luka dan lecet. Jika bayi tampak rewel, gatal, atau tidak nyaman, ini juga menjadi tanda bahwa kondisi kulitnya memburuk. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat disertai infeksi bakteri atau jamur, seperti Candida, yang dapat menyebabkan kulit tampak sangat merah, gatal, dan perih. Triana menjelaskan bahwa penanganan dermatitis popok dapat melibatkan penggunaan krim pelindung yang mengandung zinc, sementara kondisi yang lebih serius mungkin memerlukan pengobatan lain sesuai dengan pemeriksaan dokter.

Artikel Terkait