Kebiasaan memilih kursi favorit ketika memasuki suatu ruangan, meskipun masih terdapat banyak tempat duduk kosong, merupakan perilaku yang umum di kalangan banyak orang. Hal ini sering terjadi dalam berbagai situasi, seperti saat berkumpul dengan keluarga, bekerja, mengikuti kelas, atau saat berada di restoran. Banyak orang merasa kurang nyaman jika kursi yang biasa mereka duduki sudah ditempati oleh orang lain. Menurut informasi yang diperoleh dari Parade, kebiasaan ini dapat dihubungkan dengan cara otak mengatasi keputusan sehari-hari serta rasa nyaman terhadap tempat yang sudah dikenal.
Meminimalisir Pengambilan Keputusan
Dokter fisioterapis dan pemilik Costa Rehab & Wellness LLC, dr. Anthony Costa, PT, DPT, menjelaskan dalam sebuah video di TikTok bahwa kecenderungan memilih tempat duduk yang sudah dikenal berkaitan dengan preferensi otak terhadap hal-hal yang dapat diprediksi. “Otak Anda menyukai hal-hal yang dapat diprediksi, khususnya korteks prefrontal,” ungkap Costa. Korteks prefrontal adalah bagian otak yang berfungsi dalam berbagai aspek kognitif, termasuk perencanaan dan pengambilan keputusan. Meskipun memilih tempat duduk terlihat sebagai keputusan yang sepele, individu tetap harus menentukan posisi setiap kali memasuki ruangan. Dengan kembali ke kursi yang sama, keputusan kecil ini tidak perlu diulang, sehingga mengurangi beban pikiran.
“Tempat yang familier mengurangi pengambilan keputusan dan pada dasarnya membuat sistem saraf Anda merasa lebih aman,” tambahnya. Kursi favorit dapat memberikan rasa nyaman dan kontrol, terutama ketika aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari terasa sulit diprediksi.
Kecenderungan Terhadap Rutinitas
Akun kesehatan mental Therapy to the Point juga memberikan penjelasan mengenai kebiasaan ini, yaitu adanya kecenderungan terhadap rutinitas. “Jika kamu selalu duduk di tempat yang sama setiap kali, hal itu mungkin menunjukkan bahwa kamu memiliki kecenderungan kuat terhadap rutinitas,” jelas akun tersebut. Rutinitas memungkinkan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan pola yang berulang, sehingga aktivitas tertentu menjadi lebih familier. Dalam konteks pemilihan tempat duduk, individu mungkin langsung memilih kursi yang biasa mereka gunakan tanpa mempertimbangkan opsi lain. Kebiasaan ini juga dapat mencerminkan keengganan terhadap perubahan atau kesulitan beradaptasi dengan situasi baru. Namun, ini tidak berarti bahwa semua orang yang memiliki kursi favorit mengalami kesulitan dalam menghadapi perubahan.
Keterikatan Emosional pada Tempat Tertentu
Kreator konten, Kyle Inspires, menjelaskan bahwa keterikatan pada tempat duduk tertentu terkadang lebih dari sekadar kebiasaan; hal ini juga bisa terkait dengan rasa aman yang diasosiasikan dengan lokasi tersebut. “Otak Anda membangun asosiasi rasa aman pada lokasi tertentu,” jelas Kyle. Pilihan tempat duduk awalnya mungkin dipengaruhi oleh faktor sederhana, seperti posisi yang dekat dengan pintu keluar, menghadap pintu, atau sekadar terasa nyaman. Setelah digunakan berulang kali, posisi tersebut dapat menjadi tempat yang memberikan rasa familier dan menenangkan.
Namun, menyukai rutinitas tidak sama dengan merasa harus mempertahankan segala sesuatu agar tetap sama. Memiliki tempat duduk favorit tidak selalu menunjukkan adanya masalah psikologis, karena setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda di balik kebiasaan tersebut.