Meninggalkan anak kecil tanpa pendampingan dari orang dewasa dapat menimbulkan rasa takut, kebingungan, dan kehilangan rasa aman. Anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan belum memiliki kemampuan untuk memahami situasi yang mereka hadapi atau menenangkan diri seperti orang dewasa. Psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., menjelaskan bahwa terbangun sendirian di tempat yang tidak dikenal bisa menjadi pengalaman yang sangat menakutkan bagi anak. "Terbangun sendirian di tempat asing bisa terasa sangat menakutkan, karena anak belum mampu memahami situasi dan menenangkan dirinya seperti orang dewasa," ungkap Vera.
Dampak Psikologis dari Pengalaman Ditangani Sendirian
Menurut Vera, pengalaman ditinggalkan tanpa pengawasan dapat memengaruhi perilaku anak setelah kejadian tersebut. Beberapa anak mungkin menjadi lebih melekat pada orangtua atau pengasuh, mengalami kesulitan tidur, atau merasa takut saat harus berpisah. Hal ini perlu menjadi perhatian orangtua karena rasa aman adalah elemen penting dalam mendukung perkembangan emosional anak.
Respons Anak Terhadap Kejadian Menakutkan
Psikolog anak dan remaja, Sani Budiantini Hermawan, S.Psi., menjelaskan bahwa dampak dari meninggalkan anak tanpa pengawasan sangat dipengaruhi oleh usia dan tingkat kematangan anak. Ketika anak menyadari bahwa dirinya sendirian, mereka dapat merasa bingung, khawatir, bahkan panik. Respons ini muncul karena anak mungkin tidak memahami alasan orangtua atau pengasuh tidak berada di dekatnya. Dalam beberapa kasus, pengalaman ini dapat memengaruhi kepercayaan anak terhadap orang dewasa. "Dampak ke depannya bisa membuat anak menjadi tidak percaya atau membangun rasa tidak aman kepada orang dewasa, yang justru membuat anak malah menjadi terlalu lekat kepada orang dewasa di sekitarnya," jelas Sani.
Akibatnya, anak mungkin enggan untuk berpisah dari orangtua atau pengasuh, selalu ingin berada di dekat mereka, atau menunjukkan kemarahan saat ditinggalkan. Meskipun demikian, pengalaman ditinggalkan tidak selalu berujung pada trauma yang berkepanjangan. Vera menekankan bahwa dampaknya tergantung pada situasi yang dialami, usia anak, dan respons pengasuh setelah kejadian tersebut.
Orangtua perlu menyadari bahwa reaksi setiap anak bisa berbeda. Ada anak yang dapat kembali merasa tenang setelah mendapatkan pendampingan, sementara ada pula yang memerlukan waktu lebih lama untuk memulihkan rasa amannya. Setelah anak mengalami kejadian yang menakutkan, Vera menyarankan agar orangtua membantu anak menenangkan diri agar mereka dapat merasa aman kembali. Orangtua dapat mendampingi anak, mendengarkan perasaannya, dan memberikan penjelasan yang sesuai dengan usia mereka.
Kehadiran orang dewasa yang tenang dan responsif sangat penting untuk membantu anak memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi situasi tersebut. Selain itu, orangtua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku yang muncul setelah kejadian. Misalnya, jika anak menjadi lebih takut berpisah, sulit tidur, atau terus-menerus ingin berada di dekat pengasuh. Jika perubahan tersebut menetap atau mengganggu aktivitas sehari-hari, orangtua disarankan untuk mencari bantuan dari psikolog agar mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Penting untuk diingat bahwa anak-anak yang masih kecil memerlukan pengawasan dari orang dewasa, tidak hanya untuk mencegah risiko kecelakaan, tetapi juga untuk memastikan kebutuhan emosional mereka terpenuhi. Dengan pendampingan yang tepat, orangtua dapat membantu anak menghadapi pengalaman menakutkan dan membangun kembali rasa aman dalam kehidupan sehari-hari mereka.