Kesehatan

Mengapa Anak Menunjukkan Perilaku Berbeda Terhadap Ayah dan Ibu? Penjelasan dari Psikolog

Anak sering kali menunjukkan sikap yang berbeda terhadap masing-masing orangtua, dengan kecenderungan lebih kooperatif kepada salah satu dari mereka. Psikolog menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari...

M
Muhammad Rizki Ramadhan
09 May 2026 12 pembaca
Mengapa Anak Menunjukkan Perilaku Berbeda Terhadap Ayah dan Ibu? Penjelasan dari Psikolog
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kerap kali orangtua mengalami kesulitan saat membujuk anak untuk melakukan sesuatu, seperti memakai sepatu, namun anak dapat dengan cepat menuruti permintaan orangtua lainnya. Fenomena di mana anak tampak lebih tenang dan kooperatif dengan satu orangtua, tetapi lebih rewel dengan yang lain, adalah hal yang umum. Psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, menjelaskan bahwa perbedaan perilaku ini bukanlah indikasi adanya kesalahan dalam pola asuh, melainkan bagian dari proses perkembangan anak yang normal.

Faktor Penyebab Perbedaan Perilaku Anak

Anak tidak selalu menunjukkan sikap yang sama dalam setiap situasi. Mereka cenderung menyesuaikan diri berdasarkan kualitas hubungan yang terjalin dan apa yang mereka duga akan terjadi selanjutnya. Anak-anak memiliki kemampuan yang baik dalam membaca situasi dan mengamati kebiasaan di rumah, seperti siapa yang lebih sering melarang, siapa yang memberi kesempatan kedua, dan siapa yang lebih mudah diajak bernegosiasi. Dari pengamatan tersebut, mereka menyesuaikan perilaku mereka.

"Pola perilaku anak terus-menerus diperkuat oleh lingkungan mereka. Emosi mereka juga berperan, sehingga cara mereka berhubungan dengan setiap orang dewasa dapat membentuk cara mereka merespons," ungkap Edlynn.

Ikatan yang Berbeda dengan Setiap Orangtua

Penelitian menunjukkan bahwa ayah dan ibu umumnya memiliki cara yang berbeda dalam berinteraksi dengan anak. Ibu biasanya memberikan kenyamanan dan membantu regulasi emosi, sementara ayah lebih sering memberikan stimulasi dan tantangan. Perbedaan ini mencerminkan gaya masing-masing individu. Seiring waktu, hal ini terlihat dalam interaksi sehari-hari. Anak mungkin mencari pelukan dari satu orangtua saat merasa sedih, tetapi mencari orangtua lainnya ketika ingin bersenang-senang.

Orangtua yang sering menghadapi tantrum biasanya adalah sosok yang membuat anak merasa paling aman secara emosional. Anak tidak bermaksud menyusahkan orangtua, melainkan merasa cukup nyaman untuk meluapkan perasaan frustrasi yang mereka tahan saat berada di luar rumah. Psikiater menjelaskan bahwa pola komunikasi dan cara orangtua memperlakukan anak sejak kecil sangat memengaruhi kemampuan anak dalam membangun hubungan yang sehat di masa depan. "Orangtua yang paling aktif berhubungan dengan anak pada tingkat emosional sering kali menjadi penerima ledakan emosi dan perilaku anak," kata Edlynn.

Efek Berbeda dari Gaya Pengasuhan yang Sama

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang serupa dari ayah dan ibu dapat menghasilkan efek perkembangan yang berbeda. Respons yang sama, seperti menetapkan batasan, mungkin diterima secara berbeda oleh anak. Batasan yang ditetapkan oleh satu orangtua mungkin dihormati, sementara yang sama dari orangtua lainnya justru diabaikan. Hal ini sering kali lebih terkait dengan siapa yang mengatakannya, bukan dengan apa yang diminta. "Setiap orangtua memberikan manfaat yang berbeda untuk setiap anak, dan itu tidak masalah," jelas Edlynn.

Intensitas Kehadiran Orangtua

Anak sering kali lebih patuh kepada orangtua yang jarang mereka temui, karena kehadiran mereka terasa lebih istimewa. Interaksi yang lebih sedikit dapat menghasilkan kerja sama yang baik dan mengurangi penolakan. Sebaliknya, orangtua yang terlibat dalam semua kebutuhan harian anak sering menghadapi lebih banyak tantangan dan perdebatan kecil.

Tips Menciptakan Keselarasan dalam Pengasuhan

Orangtua tidak perlu merespons segala hal dengan cara yang sama persis. Namun, menyamakan pandangan sangat membantu ketika rutinitas sehari-hari mulai menguras tenaga. Penting untuk menyepakati beberapa aturan kunci yang muncul setiap hari. Menjaga agar rutinitas tetap dapat diprediksi akan membantu anak merespons lebih baik ketika mereka tahu apa yang diharapkan dari orangtua mereka.

Hindari dinamika pengasuhan yang saling bertolak belakang, karena anak dapat dengan cepat memanfaatkannya. Saling dukung di depan anak dan hindari membatalkan keputusan pasangan secara langsung. Komunikasi yang baik akan membuat anak merasa lebih tenang. Terakhir, manfaatkan kelebihan masing-masing demi menjaga keseimbangan dalam pengasuhan di rumah.

Artikel Terkait