JAKARTA - Kekayaan wastra Indonesia semakin banyak diadopsi dalam dunia mode saat ini. Salah satu contohnya adalah jenama Mahavira yang memanfaatkan warisan tradisional ini sebagai identitas utama dalam peluncuran koleksi busana pria terbarunya yang bertajuk Urban Nobility. Koleksi menswear premium ini menampilkan beragam variasi kemeja dan jaket reversible dengan desain modern.
Direktur kreatif Mahavira, Lisa Fitria, menjelaskan, "Mahavira itu yang kita kedepankan adalah kerja sama dengan artisan. Brand ambassador kita atau dutanya kita adalah artisan pembatik tersebut," saat ditemui di JICC Senayan, Jakarta, pada Sabtu (17/10/2026). Koleksi ini diperkenalkan pertama kali di acara Fashion Parade 14 IN2MOTIONFEST X JMFW yang juga berlangsung di JICC Senayan.
Kolaborasi dengan Pengrajin dari Lima Wilayah
Lisa Fitria, yang juga merupakan desainer fesyen dan Wakil Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC), menambahkan bahwa dalam peluncuran ini, mereka bekerja sama dengan pengrajin dari lima daerah di Pulau Jawa. Sebanyak 10 tampilan busana pria dipresentasikan kepada publik. Mahavira tidak hanya membeli kain batik jadi, tetapi juga terlibat dalam perancangan motif bersama para pengrajin. "Jadi, kita men-develop bareng untuk motif-motifnya dengan pengrajin. Untuk koleksi pertama saya ini, itu dengan Lasem, Pekalongan, Solo, kemudian dengan batik Banyumas dan Madura," jelasnya.
Koleksi ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu reguler dan eksklusif, dengan proses pengadaan desain kain yang berbeda untuk masing-masing kategori. "Untuk yang privé (eksklusif) itu kita menciptakan motif yang khusus. Nah, kalau untuk yang reguler itu mix. Jadi ada yang memang ditawarkan oleh si pembatik dia sudah men-develop, ada yang memang kita sudah mempunyai tema," tambah Lisa.
Inovasi Reversible dalam Busana Pria
Desain pakaian ini menggabungkan elemen tradisional dengan kebutuhan profesional saat ini melalui konsep reversible. Pengguna dapat memilih sisi batik untuk acara formal dan sisi lainnya untuk suasana non-formal, tanpa khawatir terlihat kaku karena potongan yang dirancang untuk tampak kasual. "Urban Nobility saya melihatnya perpaduan antara kekayaan wastra atau kultur budaya, yang kita bawa ke dalam kehidupan yang modern," ungkap Lisa.
Mahavira juga berencana untuk memperluas kolaborasi dengan pengrajin dari luar Pulau Jawa. "Batik itu milik Indonesia, seluruh Indonesia. Mahavira ini lahir pas pada waktu kebetulan kita lagi di Jawa. Dan yang memang pas paling siap men-develop itu kan memang di Jawa," jelasnya. Persiapan untuk koleksi berikutnya sudah dimulai dengan menggandeng pengrajin dari tiga daerah baru, yaitu Kalimantan, Papua, dan Jambi.
Pada peluncuran kali ini, kemeja dengan motif batik complongan dari Indramayu cepat habis terjual. "Jadi yang complongan itu kemarin salah satu best seller, dan aku cuma punya tiga piece dan laku semuanya," kata Lisa. Tingginya minat pembeli disebabkan oleh keunikan batik complongan yang tidak ditemukan di daerah lain, dengan teknik yang menghasilkan pola titik-titik yang khas.
Motif ini mencerminkan karakter masyarakat Indramayu yang dinamis dan terbuka terhadap berbagai pengaruh, tetapi tetap mempertahankan identitasnya. Setiap elemen visual pada kain ini memiliki makna tertentu, di mana rangkaian titik dimaknai sebagai perjalanan, dan elemen sulur melambangkan daya tahan serta kemampuan beradaptasi. Mahavira berencana untuk lebih fokus memproduksi pakaian bermotif complongan di koleksi mendatang.