Kesehatan

Mencegah Ancaman Predator di Dunia Game Online untuk Anak

Generasi Alpha, yang lahir antara 2010 hingga 2024, tumbuh di tengah popularitas game online seperti Minecraft dan Roblox. Namun, di balik kesenangan tersebut, terdapat risiko predator online yang men...

L
Luthfi Zaki Maulana
10 May 2026 11 pembaca
Mencegah Ancaman Predator di Dunia Game Online untuk Anak
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Generasi Alpha, yang lahir antara tahun 2010 hingga 2024, kini menjadikan game online seperti Minecraft, Roblox, dan Fortnite sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Sebuah laporan mengungkapkan bahwa 79 persen anak-anak dalam generasi ini bermain game setiap minggu. Sementara itu, Generasi Z juga menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap dunia digital, dengan 63 persen di antara mereka lebih memilih bermain video game dibandingkan menonton film. Game menawarkan berbagai daya tarik, mulai dari kesenangan hingga pencapaian, serta interaksi sosial melalui kerja sama tim dan percakapan daring.

Walaupun permainan ini sering dikaitkan dengan peningkatan kemampuan kognitif dan kreativitas, ada sisi gelap yang mengintai. Ruang digital yang ramai dan interaktif menjadi tempat yang ideal bagi predator online untuk mencari target. Menurut laporan dari Thorn, sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada perlindungan anak dari kekerasan seksual, sekitar 25 persen anak muda melaporkan pernah mengalami pelecehan seksual di internet sebelum mencapai usia 18 tahun, sering kali dengan imbalan yang dianggap menarik, termasuk dalam platform game.

Risiko di Balik Kesenangan Game

Melissa Stroebel, wakil presiden riset di Thorn, menyatakan, “Sayangnya, kami melihat ancaman ini muncul di hampir semua platform.” Ia menekankan bahwa platform game berfungsi sebagai ruang sosial digital, yang membuatnya mudah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk mendekati anak-anak dan remaja. Kekhawatiran ini muncul meskipun beberapa platform telah mulai memperkuat sistem perlindungan mereka. Sebagai contoh, Roblox berencana untuk memperkenalkan pembaruan kontrol orang tua pada musim gugur 2024, dan berbagai platform lainnya juga mengembangkan moderasi konten yang lebih ketat serta teknologi deteksi penyalahgunaan yang lebih proaktif.

Namun, Titania Jordan, penulis buku tentang kontrol orang tua dan kepala petugas orang tua di Bark Technologies, menegaskan bahwa meskipun upaya dilakukan, tidak ada lingkungan yang bisa sepenuhnya aman dari orang dewasa yang berusaha memanfaatkan anak-anak. “Percakapan terjadi dengan sangat cepat dan bisa berpindah ke platform lain seperti Snapchat atau pesan teks,” tambahnya.

Panduan untuk Orang Tua dalam Melindungi Anak

Orang tua memiliki peran penting dalam melindungi anak-anak mereka dari risiko ini. Meskipun tidak bisa mengendalikan segalanya, ada beberapa langkah proaktif yang dapat diambil, seperti mendidik anak-anak tentang bahaya, menetapkan batasan waktu bermain game, dan memantau konten yang diakses. Salah satu cara adalah dengan menggunakan aplikasi kontrol orang tua yang dapat memantau komunikasi dalam game dan memberi peringatan kepada orang tua tentang potensi ancaman.

Selain itu, penting untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Meskipun mungkin terasa canggung, menjelaskan risiko ajakan seksual secara online adalah langkah penting. Orang tua juga disarankan untuk bermain bersama anak-anak mereka agar dapat memahami lebih baik lingkungan game dan mengenali tanda-tanda peringatan. Laura Ordoñez, editor eksekutif di Common Sense Media, menyatakan bahwa bermain bersama anak dapat membantu orang tua mendiskusikan interaksi yang terjadi tanpa terasa seperti interogasi.

“Jika seorang anak tahu bahwa orang tuanya tidak akan marah, mereka lebih cenderung untuk berbagi jika mereka merasa terancam,” kata Jordan. Dengan pengawasan yang tepat dan pendidikan yang memadai, dunia virtual dapat menjadi ruang bermain yang aman dan menyenangkan bagi generasi yang tumbuh di era digital ini.

Artikel Terkait