Teknologi

Memahami Teknologi Rantai Dingin dalam Sektor Perikanan

Produksi perikanan Indonesia yang mencapai sekitar 15 juta ton per tahun pada 2025 masih minim dalam penerapan teknologi rantai dingin, yang berkontribusi pada kerugian hasil tangkapan dan daya saing...

A
Angelica Putri Wijaya
14 September 2026 60 pembaca
Foto: Dok. Titan Containers
Foto: Dok. Titan Containers

Jakarta - Pada tahun 2025, Indonesia diperkirakan akan memproduksi sekitar 15 juta ton hasil perikanan, namun kurang dari 12 persen dari total tersebut yang mendapatkan penanganan teknologi rantai dingin yang memadai. Hal ini menyebabkan tingginya angka kerugian hasil tangkapan, penurunan harga jual bagi nelayan, serta rendahnya daya saing produk perikanan Indonesia di pasar internasional, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand.

Dampak terhadap Nelayan dan Ekspor Nasional

Prof. Rokhmin Dahuri, anggota Komisi IV DPR RI, menjelaskan bahwa produk hasil laut sangat rentan terhadap kerusakan, sehingga memerlukan penanganan suhu yang tepat sejak proses penangkapan hingga sampai ke konsumen. "Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita," ungkapnya.

Inovasi Teknologi Pendingin Ramah Lingkungan

Untuk mengatasi permasalahan ini, Rokhmin mendorong penggunaan teknologi pendingin yang ramah lingkungan, seperti yang berbasis energi surya. Pemanfaatan tenaga matahari dianggap sebagai solusi yang potensial untuk diterapkan secara bertahap pada armada kapal penangkap ikan, cool box, refrigerator, hingga cold storage, sehingga mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Di sisi lain, Rokhmin juga menekankan pentingnya pemerintah untuk tidak hanya membuka pintu bagi impor teknologi asing, tetapi juga memastikan bahwa kerja sama tersebut mencakup syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan transfer teknologi. Komisi IV DPR RI berkomitmen untuk mengawasi kebijakan ini agar industri dalam negeri dapat memproduksi komponen rantai dingin secara mandiri, menciptakan nilai tambah, serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Solusi Cold Storage Portable

Menjawab kebutuhan industri, PT DS Solutions International, yang merupakan perwakilan resmi TITAN Containers, memperkenalkan solusi cold storage portable dalam ajang RHVAC Indonesia 2026 yang diselenggarakan pada 9-11 September 2026 di Nusantara Indonesia Convention Exhibition (NICE). Dua unit unggulan yang dipamerkan adalah:

  • ArcticBlast 20FT: Unit ini dirancang untuk rapid chilling dan blast freezing dengan teknologi mesin ganda yang mampu menurunkan suhu dengan cepat hingga -40°C, menjaga kesegaran seafood, daging, dan unggas.
  • ArcticStore Horizon 40FT: Cold storage generasi terbaru ini memiliki rentang suhu antara -30°C hingga +30°C, dan dapat menghemat energi hingga 55% dibandingkan dengan reefer konvensional berkat panel insulasi modern dan refrigeran ramah lingkungan (GWP 0,5). Unit ini juga mendukung integrasi panel surya opsional yang dapat menghemat energi hingga 25% lebih lanjut.

Penguatan rantai dingin dan adopsi energi terbarukan diharapkan dapat menjadi dasar yang kuat untuk mendukung program Kampung Nelayan Merah Putih serta menciptakan ekosistem perikanan Indonesia yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.

Artikel Terkait