Kesehatan

Kekurangan Oksigen Saat Tidur Dapat Menyebabkan Hipertensi

Mendengkur saat tidur bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan yang lebih serius, seperti gangguan pernapasan yang dapat meningkatkan risiko hipertensi. Dokter menjelaskan pentingnya memperhatik...

A
Ahmad Fauzan
27 October 2026 4 pembaca
Ilustrasi mendengkur, penyebab mendengkur, cara mengatasi mendengkur. (Shutterstock/tommaso79)
Ilustrasi mendengkur, penyebab mendengkur, cara mengatasi mendengkur. (Shutterstock/tommaso79)

Mendengkur saat tidur sering kali dianggap sebagai hal yang biasa, terutama jika individu yang mengalaminya tetap dapat beraktivitas seperti biasa keesokan harinya. Namun, jika dengkuran tersebut keras dan disertai jeda napas, hal ini perlu diperhatikan karena bisa menjadi gejala gangguan pernapasan saat tidur. Dokter Spesialis Neurologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Manfaluthy Hakim, menjelaskan bahwa gangguan ini dapat menghambat aliran oksigen ke otak dan mengganggu proses tidur. Jika dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko hipertensi, obesitas, dan masalah metabolisme lainnya.

Dengkuran dan Sleep Apnea

Mendengkur tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang mengalami gangguan tidur. Namun, jika dengkuran terdengar keras dan sering diiringi dengan jeda napas, kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi indikasi sleep apnea. Sleep apnea adalah gangguan tidur yang ditandai dengan berhentinya napas secara berulang selama tidur, yang dapat mengganggu pasokan oksigen ke tubuh, termasuk ke otak.

Dalam sebuah diskusi media pada acara Mayapada Neuro Connect 2026 yang berlangsung di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Hakim menekankan bahwa mendengkur bukan sekadar mengganggu kenyamanan orang lain, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan. “Mengorok ini tidak hanya sekadar mengganggu tempat tidur, tetapi akan memengaruhi kesehatan secara umum pada jangka lama,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan bahwa tidur bukanlah proses pasif, melainkan proses aktif yang melibatkan otak.

Pentingnya Fase Tidur yang Sehat

Selama tidur, otak melewati beberapa tahapan, termasuk fase REM (rapid eye movement) dan tahapan N1, N2, serta N3. Setiap tahapan memiliki fungsi penting bagi tubuh, di mana fase N3 atau deep sleep berperan dalam konsolidasi memori, pembersihan hasil metabolisme di otak, dan regenerasi. Menurut dr. Hakim, fase ini mencakup sekitar 20–25 persen dari total siklus tidur. Gangguan pernapasan yang menyebabkan kekurangan oksigen dapat mengganggu proses penting ini.

Dr. Hakim juga menjelaskan bahwa gangguan tidur yang berkepanjangan dapat memengaruhi kondisi tubuh saat terjaga. Salah satu keluhan yang mungkin muncul adalah brain fog, yang membuat seseorang merasa sulit berkonsentrasi atau berpikir jernih. Ia menambahkan bahwa individu yang mengalami gangguan pernapasan saat tidur berisiko menghadapi berbagai masalah kesehatan, termasuk hipertensi. “Orang yang tidur ngorok memiliki risiko untuk terjadi satu, hipertensi. Dua, obesitas. Tiga, gangguan-gangguan metabolik,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa masalah ini berkaitan dengan arsitektur tidur yang terganggu, sehingga sistem tubuh yang diatur oleh otak selama tidur tidak berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, jika seseorang mengalami dengkuran keras yang disertai jeda napas, sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika mereka sering merasa lelah atau tidak segar setelah bangun tidur. Jika kondisi ini berulang, penting untuk melakukan pemeriksaan ke dokter guna mengetahui penyebabnya, karena mendengkur saja tidak cukup untuk memastikan adanya sleep apnea.

Artikel Terkait