Buang air besar (BAB) adalah proses alami yang dilakukan tubuh untuk mengeluarkan sisa-sisa pencernaan. Namun, terkadang proses ini tidak berjalan dengan baik, mulai dari sulitnya mengeluarkan feses hingga perlu mengejan lebih keras dari biasanya. Di media sosial, muncul trik yang diklaim dapat membantu mengatasi masalah ini, yaitu meniup gelembung melalui sedotan sambil duduk di toilet. Pertanyaannya, apakah cara ini benar-benar efektif dalam membantu melancarkan BAB?
Meniup Gelembung: Belum Ada Bukti Klinis
Meniup gelembung dengan sedotan saat berada di toilet menjadi salah satu trik yang banyak diperbincangkan di media sosial. Namun, hingga saat ini, belum ada bukti klinis yang mendukung bahwa metode ini dapat mengatasi sembelit. Ahli gastroenterologi dari Dallas, Sripathi Kethu, MD, menyatakan bahwa teknik ini bisa jadi layak dicoba sebagai cara sederhana, asalkan orang memahami keterbatasannya. “Masuk akal untuk menyarankan ini sebagai tips berisiko rendah dan tanpa biaya, selama orang memahami peringatannya,” ungkap Kethu.
Walaupun demikian, ia menegaskan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan bahwa meniup gelembung dapat meredakan sembelit. Teknik ini mungkin dapat membantu sebagian orang yang mengalami kesulitan saat buang air besar, terutama jika masalahnya berkaitan dengan cara mengejan dan pengaturan otot saat BAB.
Pengaturan Napas dan Proses BAB
Menurut Kethu, meniup gelembung melalui sedotan melibatkan embusan napas yang perlahan dengan sedikit hambatan. Proses ini berhubungan dengan cara tubuh mengatur tekanan saat mengeluarkan tinja. Teknik ini dapat membantu seseorang untuk mengatur napas dengan lebih baik, sehingga tidak menahan napas atau mengejan terlalu keras. “Meniup gelembung melalui sedotan melibatkan embusan napas lembut dengan sedikit hambatan. Hal ini menjaga tenggorokan tetap terbuka dan mengubah tekanan saat mengejan menjadi embusan napas yang lambat dan terkontrol, yang menghasilkan tekanan perut ke bawah sekaligus memungkinkan otot dasar panggul untuk rileks,” jelas Kethu.
Dengan mengatur napas, seseorang mungkin dapat mengurangi kebiasaan mengejan yang berlebihan. Teknik ini berpotensi membantu mereka yang merasa tinja sulit keluar, merasa BAB belum tuntas, atau cenderung menahan napas dan mengencangkan otot saat berada di toilet. Namun, cara ini mungkin tidak efektif bagi mereka yang mengalami sembelit akibat tinja keras atau frekuensi BAB yang jarang.
Kethu juga menyarankan agar teknik pernapasan ini dipadukan dengan kebiasaan BAB yang baik, seperti meletakkan kaki di atas bangku kecil untuk mendukung posisi tubuh saat mengeluarkan tinja. Selain itu, disarankan untuk sedikit membungkuk ke depan dan mencoba BAB setelah makan, ketika usus besar biasanya lebih aktif.
Alternatif Lain untuk Melancarkan BAB
Selain mengatur napas, terdapat beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga kelancaran proses BAB. Salah satunya adalah memenuhi kebutuhan serat harian sekitar 25–35 gram dari buah, sayuran, dan biji-bijian utuh. Jika asupan serat dari makanan dirasa kurang, suplemen serat seperti psyllium bisa menjadi pilihan. Pastikan juga untuk minum cukup air, rutin beraktivitas fisik, dan tidak menunda keinginan untuk BAB.
Dalam beberapa kondisi, obat pencahar osmotik yang dijual bebas, seperti polyethylene glycol, juga dapat digunakan sesuai petunjuk. Namun, jika sembelit terus berulang atau seseorang sering mengejan, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung. Kethu menyarankan agar individu mencari bantuan medis daripada hanya mengandalkan trik pernapasan. Pemeriksaan juga diperlukan jika sembelit semakin parah, disertai perdarahan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau perubahan pola BAB yang baru terjadi.