Dalam industri kecantikan, turunan vitamin A seperti retinol dan retinal sangat diminati untuk mengatasi tanda-tanda penuaan, menyamarkan garis halus, dan meningkatkan produksi kolagen. Meskipun sering dianggap serupa karena fungsi dan bentuknya yang fokus pada pengencangan dan pencerahan kulit, keduanya memiliki perbedaan yang mencolok dalam hal kekuatan dan kecepatan penyerapan ke dalam kulit.
Menurut dr. Morgan Rabach, seorang dermatolog dan pendiri LM Medical PLLC, "Retinal adalah versi terkuat dari vitamin A yang bisa kamu dapatkan secara bebas tanpa resep, sedangkan retinol lebih lemah dan dapat ditoleransi lebih baik untuk pasien dengan kulit sensitif." Memahami perbedaan mendasar antara kedua bahan aktif ini sangat penting agar konsumen dapat memilih produk yang paling sesuai dengan jenis kulit mereka, sehingga dapat menghindari iritasi yang parah.
Cara Kerja dan Kecepatan Penyerapan
Retinal, yang juga dikenal sebagai retinaldehida, perlu diubah menjadi asam retinoat sebelum dapat berfungsi pada kulit. "Ini adalah vitamin A paling kuat yang bisa kamu dapatkan tanpa resep dan sekitar sepuluh kali lebih kuat daripada retinol," ungkap dr. Rabach. Dia menjelaskan bahwa retinol harus melalui proses tambahan, di mana ia diubah menjadi retinal terlebih dahulu sebelum bertransformasi menjadi asam retinoat agar bisa diserap dengan baik oleh kulit. "Asam retinoat mendorong produksi kolagen, yang efektif untuk mengatasi garis halus, kerutan, dan kekenduran kulit," tambah dr. Brendan Camp, dermatolog di MDCS: Medical Dermatology & Cosmetic Surgery.
Perbedaan lainnya terletak pada kecepatan reaksi. Retinal dapat bekerja hingga 11 kali lebih cepat dibandingkan retinol, menjadikannya pilihan yang ideal bagi mereka yang sudah menunjukkan tanda-tanda penuaan dan ingin perbaikan kerutan dalam waktu singkat. Sebaliknya, bagi individu yang lebih muda atau memiliki kulit sensitif, penggunaan retinol lebih dianjurkan karena pendekatannya yang lebih lembut.
Manfaat dan Efek Samping
Penggunaan rutin turunan vitamin A diyakini dapat membantu mengencangkan kulit dan memudarkan garis halus. Dr. Camp dan dr. Rabach menjelaskan bahwa manfaatnya meliputi perbaikan noda dengan mengatur pergantian sel kulit untuk mengurangi pembentukan jerawat dan mencerahkan hiperpigmentasi. Namun, ada juga efek samping yang mungkin muncul, seperti dermatitis retinoid yang ditandai dengan kemerahan, kulit mengelupas, dan kekeringan pada awal penggunaan.
"Bahan tersebut juga dapat membuat kulit lebih rapuh, yang berarti kulit mungkin lebih rentan terhadap iritasi atau peradangan," kata dr. Camp. Dia menekankan pentingnya menghentikan penggunaan retinol atau retinal beberapa hari hingga seminggu sebelum menjalani perawatan yang berpotensi mengiritasi kulit, seperti waxing, pengelupasan, atau perawatan laser.
Para ahli sangat merekomendasikan penggunaan produk skincare yang mengandung retinol dan retinal pada malam hari. Di siang hari, penggunaan tabir surya sangat dianjurkan. Selain itu, saat wajah mengalami ruam, sebaiknya hindari penggunaan bahan-bahan tersebut.
Dr. Camp juga menambahkan, "Hindari penggunaan retinol dan retinal secara bersamaan dengan bahan perawatan kulit lain yang juga dapat mengiritasi kulit, seperti asam glikolat, asam laktat, asam salisilat, dan benzoil peroksida." Jika kulit mudah iritasi, disarankan untuk melakukan patch test sebelum menggunakan produk skincare yang mengandung vitamin A.