KOMPAS.com - Sejumlah anak perempuan sering kali dibebani dengan tanggung jawab yang tidak seharusnya mereka pikul, mulai dari menjaga adik hingga menjadi tempat curhat bagi orang tua ketika menghadapi masalah. Meskipun mereka terlihat mandiri dan dewasa sejak usia dini, di balik sikap tersebut terdapat kemungkinan bahwa mereka memikul beban yang tidak sesuai dengan usianya. Dalam dunia psikologi, fenomena di mana anak mengambil peran sebagai pengasuh bagi orang tua atau anggota keluarga lainnya dikenal dengan istilah parentifikasi. Anak perempuan yang mengalami hal ini sering disebut sebagai parentified daughter.
Menurut penjelasan psikolog klinis anak Robyn Koslowitz, PhD, parentifikasi terjadi ketika anak dipaksa untuk mengisi peran pengasuhan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan fisik dan emosional mereka.
Tanda-tanda Parentified Daughter
Parentifikasi dapat muncul dalam dua bentuk, yaitu instrumental dan emosional. Parentifikasi instrumental mencakup tanggung jawab praktis seperti memasak atau merawat adik, sedangkan parentifikasi emosional terjadi ketika anak menjadi tempat bersandar bagi orang tua atau berusaha mendamaikan konflik dalam keluarga.
Berikut adalah beberapa tanda yang dapat dikenali:
- Terlihat dewasa sebelum waktunya: Anak-anak ini sering menyesuaikan perilaku mereka dengan suasana hati orang lain demi menjaga ketenangan, meskipun mereka sering mengabaikan perasaan sendiri.
- Selalu mengurus orang lain: Ketika dewasa, mereka cenderung menjadi tempat bergantung bagi teman atau pasangan, merasa perlu untuk selalu membantu agar tetap dibutuhkan dalam hubungan.
- Sulit meminta bantuan: Karena terbiasa menyelesaikan masalah sendiri, mereka merasa tidak nyaman bergantung pada orang lain atau mengungkapkan kesulitan yang dihadapi.
- Merasa bersalah saat mengutamakan diri sendiri: Mengatakan tidak, beristirahat, atau menolak permintaan orang lain sering kali memunculkan rasa bersalah karena kebutuhan orang lain lebih diutamakan.
- Perfeksionis dan suka menyenangkan orang lain: Mereka berusaha melakukan segala sesuatu dengan sempurna dan menghindari konflik karena khawatir mengecewakan orang lain.
Penyebab dan Dampak Parentifikasi
Parentifikasi dapat muncul akibat berbagai faktor, seperti orang tua yang mengalami penyakit serius, tekanan ekonomi, perceraian, atau kesulitan dalam mengelola emosi. Dalam situasi tertentu, anak merasa perlu mengambil tanggung jawab tambahan untuk menjaga agar keluarga tetap berfungsi. Norma sosial yang mengharapkan anak perempuan untuk menjadi pengasuh juga dapat berkontribusi pada fenomena ini. Namun, tidak semua anak yang membantu pekerjaan rumah mengalami parentifikasi. Yang perlu diperhatikan adalah apakah tanggung jawab yang diemban sudah berlebihan dan mengganggu kebutuhan anak.
Parentifikasi berbeda dengan eldest daughter syndrome, istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan tekanan yang dialami oleh anak perempuan sulung. Tidak semua anak sulung mengalami parentifikasi; perbedaannya terletak pada sejauh mana anak mengambil alih peran pengasuhan orang dewasa. Dalam jangka panjang, pengalaman parentifikasi dapat berhubungan dengan kecemasan, kelelahan emosional, kesulitan dalam menetapkan batasan, dan hubungan yang tidak seimbang. Seseorang mungkin terbiasa memenuhi kebutuhan pasangan, tetapi kesulitan untuk meminta dukungan bagi diri sendiri.
Cara Memulihkan Diri dari Parentifikasi
Ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk membangun pola hubungan yang lebih sehat. Pertama, kenali kebiasaan yang terbentuk sejak kecil, seperti keinginan untuk menyenangkan orang lain atau merasa bertanggung jawab atas emosi mereka. Kedua, pelajari cara menetapkan batasan dan katakan tidak ketika permintaan orang lain melebihi kemampuan. Membantu orang lain tidak berarti harus mengorbankan kebutuhan pribadi. Ketiga, berlatihlah menerima bantuan tanpa merasa harus segera membalasnya. Hubungan yang sehat memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling mendukung.
Selain itu, luangkan waktu untuk melakukan kegiatan yang disukai, seperti berolahraga, menekuni hobi, atau berkumpul dengan teman. Jika pengalaman masa kecil terus mengganggu kesehatan mental atau hubungan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu memahami pola tersebut dan membangun cara yang lebih sehat untuk menghadapi masalah. Menjadi anak yang mandiri dan peduli terhadap keluarga adalah hal yang baik, namun setiap anak juga berhak mendapatkan pengasuhan, dukungan, dan kesempatan untuk tumbuh sesuai dengan usianya.