JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam prosesi sangjit, setiap elemen seserahan yang dibawa oleh pihak pria kepada pihak wanita memiliki makna yang mendalam, termasuk angpao. Bagi calon pengantin, istilah seperti angpao susu dan angpao lamar mungkin belum familiar, padahal keduanya memainkan peranan penting dalam tradisi pertunangan adat Tionghoa yang kaya akan filosofi.
Jennifer Saputra, pemilik Sangjit Couture, menjelaskan bahwa angpao biasanya diletakkan di baki pertama bersama perhiasan sebagai simbol utama dari lamaran resmi. "Di baki pertama terdapat angpao susu, angpao lamar, dan perhiasan," ungkap Jennifer saat ditemui di The Garden of Everlasting Heritage, Fairmont Jakarta Pusat.
Menurut Jennifer, pemahaman mengenai jenis angpao dan maknanya sangat penting agar prosesi sangjit tidak hanya menjadi formalitas, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu angpao yang paling dikenal dalam tradisi sangjit adalah angpao susu. Angpao ini diberikan oleh pihak pria kepada keluarga mempelai wanita sebagai bentuk penghormatan. "Angpao susu itu sebagai tanda terima kasih pihak pria karena sudah membesarkan calon mempelai wanita dari kecil sampai besar dan setelah ini akan dinikahkan," jelas Jennifer. Secara filosofis, angpao susu melambangkan apresiasi atas kasih sayang dan pengorbanan orangtua kepada anak perempuan mereka.
Tradisi ini mencerminkan nilai penghormatan yang sangat dijunjung dalam budaya Tionghoa, di mana pernikahan tidak hanya merupakan penyatuan dua individu, tetapi juga penerimaan terhadap keluarga besar masing-masing. Oleh karena itu, pemberian angpao susu menjadi momen simbolis yang menunjukkan kesungguhan pihak pria dalam bertanggung jawab terhadap calon istrinya.
Selain angpao susu, terdapat juga angpao lamar, yang sering disebut angpao pesta. Angpao ini memiliki fungsi yang berbeda, terkait langsung dengan prosesi pernikahan yang akan berlangsung. "Ada uang angpao lamar atau angpao pesta. Ibaratnya itu uang pesta akan diberikan ke pihak wanita, tetapi pihak wanita harus mengambil satu kembar uang di atas dan sisanya dikembalikan ke pihak pria," ujar Jennifer.
Dalam praktiknya, keluarga mempelai wanita hanya mengambil sebagian kecil dari nominal yang diberikan. Pengembalian sisa uang tersebut menjadi simbol bahwa tanggung jawab pesta pernikahan tidak sepenuhnya dibebankan kepada pihak wanita. Jennifer menambahkan bahwa aturan ini memiliki makna penting dalam adat, "Jika tidak dikembalikan, maka dianggapnya pesta hari pernikahan akan dibayar oleh pihak wanita."
Dalam menentukan nominal angpao, angka yang digunakan juga tidak sembarangan. Jennifer menyebut angka 8 sebagai pilihan yang paling umum. "Aku biasanya menyarankan untuk uang atau emas itu angka 8, misalnya Rp 888.000 atau Rp 8.888.000. Boleh dipakai mata uang apapun, supaya enggak terlalu tebal uangnya," katanya. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, angka 8 identik dengan keberuntungan dan kemakmuran.
Meski tradisi sangjit telah banyak beradaptasi dengan perkembangan zaman, makna di balik setiap angpao tetap dipertahankan. Hal ini bukan hanya soal nominal, melainkan juga pesan penghormatan, tanggung jawab, dan komitmen yang ingin disampaikan kepada keluarga calon mempelai wanita.