Lifestyle

Masyarakat Indonesia Semakin Terbuka untuk Konsultasi Kesehatan Mental

Kesadaran masyarakat Indonesia mengenai kesehatan mental menunjukkan kemajuan yang positif, dengan semakin banyak orang yang berani mencari bantuan profesional.

A
Angelica Putri Wijaya
11 October 2026 57 pembaca
Ilustrasi bahagia. Meski dikenal memiliki musim dingin yang panjang, masyarakat Finlandia tetap menjadi yang paling puas dengan hidupnya berkat sejumlah kebiasaan sederhana yang didukung para pakar kesehatan mental.(Pexels/Dennis Magati)
Ilustrasi bahagia. Meski dikenal memiliki musim dingin yang panjang, masyarakat Finlandia tetap menjadi yang paling puas dengan hidupnya berkat sejumlah kebiasaan sederhana yang didukung para pakar kesehatan mental.(Pexels/Dennis Magati)

JAKARTA - Perkembangan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kesehatan jiwa menunjukkan tren yang menggembirakan. Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia pada Sabtu (10/10/2026), Halodoc meluncurkan laporan berjudul "Navigating Indonesia's Mental Health Landscape 2026". Laporan ini menggambarkan bahwa masyarakat kini lebih berani untuk mencari bantuan profesional di tengah kesibukan sehari-hari.

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan satu dari delapan hingga sepuluh orang di dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Dalam konteks Indonesia, dengan populasi sekitar 280 juta jiwa, diperkirakan ada sekitar 28 juta orang yang menghadapi masalah kesehatan jiwa. Temuan ini sejalan dengan hasil program Cek Kesehatan Gratis dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang menunjukkan hampir 10 persen anak dan remaja mengalami gejala kecemasan dan depresi.

Stigma Kesehatan Mental Mulai Berkurang

Stigma terkait isu kesehatan mental tampak mulai memudar. Saat ini, satu dari 15 konsultasi kesehatan di Halodoc berfokus pada kesehatan mental, dengan peningkatan sebesar 8,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Menariknya, hampir dua pertiga dari peningkatan ini berasal dari pasien yang baru pertama kali melakukan konsultasi, menandakan keberanian masyarakat untuk mencari solusi bersama para ahli.

Miki Amrilya Wardati, S.Psi., mitra psikolog Halodoc, mengapresiasi langkah positif ini. "Di balik setiap angka dalam laporan ini, ada cerita nyata dari masyarakat yang akhirnya berani mencari bantuan profesional, di mana mereka semakin terbuka di beberapa tahun terakhir untuk berkonsultasi," ujarnya. Ia menegaskan bahwa berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal yang penting untuk proses penyembuhan yang lebih ringan.

Demografi Pasien Kesehatan Mental

Dalam hal demografi, pengguna layanan kesehatan mental didominasi oleh kelompok usia produktif antara 18 hingga 34 tahun, yang mencapai 90,7 persen, di mana 83,3 persen di antaranya adalah perempuan. Waktu konsultasi paling banyak terjadi pada malam hari, terutama setelah pukul 21.00 WIB, karena layanan telekonsultasi memberikan kemudahan tanpa mengganggu aktivitas di siang hari. Setelah kunjungan pertama, 44,4 persen pasien melanjutkan konsultasi dalam waktu tujuh hari.

Selama semester pertama tahun 2026, gangguan kecemasan mendominasi diagnosis konsultasi kejiwaan dengan angka mencapai 31,6 persen dari total keseluruhan konsultasi, mengalami pertumbuhan hingga 47,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun gangguan kecemasan mendominasi, tantangan yang dihadapi setiap kelompok usia sangat bervariasi. Pada anak-anak, gangguan ini sering terkait dengan masalah tumbuh kembang, sedangkan pada remaja, tekanan akademik menjadi pemicu utama.

Pada kelompok usia produktif, pria dan wanita menghadapi tantangan berbeda. Pria sering kali mengeluhkan disfungsi seksual, sementara perempuan lebih banyak berkonsultasi mengenai depresi dan masalah relasi. Di sisi lain, pada kelompok lansia, masalah utama berfokus pada penurunan fungsi kognitif, yang sering kali disampaikan oleh anggota keluarga atau pengasuh.

Dukungan dari Sektor Korporasi

Dukungan dari sektor korporasi terhadap kesehatan mental mulai terlihat, dengan porsi polis asuransi yang mencakup layanan kesehatan jiwa meningkat dari 2,3 persen pada 2022 menjadi 5,5 persen pada tahun ini. Namun, pemanfaatan fasilitas ini oleh karyawan masih minim, dengan hanya satu dari 400 karyawan yang memanfaatkan perlindungan ini di awal 2026. Fibriyani Elastria, Chief Marketing Officer Halodoc, mendorong masyarakat untuk tidak menunda pencarian bantuan profesional saat merasakan gejala gangguan kesehatan mental. "Kami juga mendorong perusahaan untuk lebih aktif mengomunikasikan manfaat kesehatan mental yang tersedia," tambahnya.

Di tengah kehidupan yang penuh tekanan, menjaga kesehatan mental menjadi hal yang penting untuk dilakukan secara mandiri. Beberapa langkah yang dapat diambil termasuk mengenali dan menyadari perasaan yang dialami, memenuhi kebutuhan dasar tubuh, menjaga hubungan sosial, serta meluangkan waktu untuk aktivitas bermakna. Selain itu, penting untuk mengenali tanda-tanda ketika kondisi mental mulai tidak sehat dan tidak menunggu hingga keadaan memburuk untuk mencari bantuan profesional.

Artikel Terkait