Kesehatan

Masker N95 Tidak Direkomendasikan untuk Ibu Hamil, Anak, dan Lansia saat Kabut Asap, Apa Alasannya?

Masker N95 sering dianggap sebagai solusi utama untuk melindungi pernapasan saat kabut asap, namun tidak semua orang dianjurkan untuk menggunakannya. Dokter spesialis paru menjelaskan pentingnya memil...

A
Ahmad Fauzan
11 October 2026 58 pembaca
Ilustrasi kabut asap.(freepik)
Ilustrasi kabut asap.(freepik)

Masker N95 sering kali dianggap sebagai pilihan utama untuk melindungi pernapasan di tengah kabut asap. Namun, penggunaannya tidak dianjurkan untuk semua kalangan. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), seorang dokter spesialis paru dan penulis buku mengenai pencegahan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan, menjelaskan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam memilih masker saat kualitas udara menurun.

Rekomendasi Masker yang Tepat

Menurut Agus, N95 bukanlah satu-satunya jenis masker yang direkomendasikan ketika menghadapi kabut asap. Yang lebih penting adalah masker tersebut harus termasuk dalam kategori respirator yang mampu menyaring partikel halus. “Yang terpenting adalah masker itu masuk kategori sebagai respirator, itu memiliki kemampuan untuk memfiltrasi partikel-partikel halus seperti PM 2,5 di atas 90 persen,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa N95 hanya salah satu contoh, dan ada juga masker lain seperti KN94 atau FFP2 yang dapat digunakan. Agus mengingatkan masyarakat untuk memeriksa kemampuan filtrasi masker sebelum membeli, dan jika kemampuan tersebut di atas 90 persen, masker tersebut sudah memenuhi syarat untuk digunakan.

Kelompok Sensitif yang Perlu Diperhatikan

Dalam bukunya, Agus dan rekan-rekannya menyebutkan bahwa masker seperti N95 tidak dianjurkan untuk kelompok sensitif, termasuk ibu hamil, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis, karena dapat menambah beban resistensi saat bernapas. “Kerapatan masker itu akan membuat kemampuan bernapasnya itu juga terganggu. Nah, orang yang sudah punya penyakit paru itu akan membuat dia akan menjadi lebih sesak,” jelas Agus.

Hal yang sama juga berlaku untuk lansia dan balita, di mana anak-anak balita membutuhkan asupan oksigen yang lebih tinggi. “Balita, karena anak-anak balita juga membutuhkan oksigen yang tinggi. Kalau dikasih masker yang rapat itu tentu akan mengganggu,” tambahnya. Kelompok ini disarankan untuk menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi yang lebih rendah.

Pentingnya Menghindari Aktivitas di Luar Ruangan

Agus menekankan bahwa individu yang berisiko tinggi sebaiknya tidak melakukan aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara tidak sehat. “Kuncinya adalah orang-orang berisiko tinggi ini justru wajib tidak beraktivitas di luar rumah,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa kelompok ini sangat rentan dan tidak dapat menggunakan masker dengan filtrasi tinggi yang rapat, sehingga pencegahan menjadi hal yang lebih penting.

Ia juga menambahkan bahwa bepergian dengan kendaraan tidak selalu aman. Penggunaan pendingin udara dalam mode resirkulasi sangat dianjurkan, dan setelah turun dari kendaraan, sebaiknya segera masuk ke dalam ruangan dengan masker biasa untuk sementara waktu. Agus juga mengingatkan bahwa kualitas udara di dalam ruangan harus baik, karena jika udara di luar sama buruknya dengan di dalam, maka tidak ada manfaatnya.

Batasan Masker dan Alat Pembersih Udara

Agus menjelaskan bahwa baik masker maupun air purifier memiliki batasan dalam melindungi dari polusi. Air purifier tidak dapat melindungi dari gas berbahaya seperti karbon monoksida dan nitrogen oksida. “Air purifier itu tidak bisa melindungi dari komponen gas. Dia hanya bisa memfiltrasi dari komponen partikel,” jelasnya. Hal ini juga berlaku untuk masker N95 yang hanya dapat menyaring partikel, bukan gas. “Tapi kalau masker N95, N95 itu enggak bisa. Dia hanya partikel yang bisa difiltrasi,” tambahnya. Untuk perlindungan terhadap gas, diperlukan masker yang lebih canggih, seperti respirator yang dilengkapi dengan pasokan oksigen, yang biasanya digunakan oleh petugas pemadam kebakaran hutan.

Artikel Terkait