Maltodekstrin adalah bahan yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi mereka yang sering memeriksa daftar komposisi makanan atau minuman kemasan. Meskipun sering digunakan dalam berbagai produk pangan, namanya mungkin kurang dikenal dibandingkan dengan gula pasir atau pati. Bahan ini telah menjadi topik diskusi karena kaitannya dengan kadar gula darah serta keseimbangan mikrobiota di usus. Lalu, apa fungsi maltodekstrin dalam makanan dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan tubuh?
Apa Itu Maltodekstrin?
Menurut Julia R. Wijaya, Ph.D., seorang dosen Teknologi Pangan di Universitas Pelita Harapan, maltodekstrin adalah turunan dari pati yang termasuk dalam kategori karbohidrat kompleks dan telah melalui proses pengolahan. Dalam sebuah talkshow yang diadakan pada 15 Oktober 2026 di Universitas Pelita Harapan, Julia menjelaskan bahwa struktur maltodekstrin lebih mirip dengan pati daripada gula. Bahan ini hampir tidak memiliki rasa manis, sehingga penggunaannya dalam produk pangan tidak selalu bertujuan untuk menambah rasa manis. “Maltodekstrin lebih ke arah bulking agent, pembawa flavor atau pembawa vitamin dan mineral untuk melindungi, sebagai pengental atau penstabil bahan,” ungkap Julia. Dengan fungsi tersebut, maltodekstrin dapat ditemukan dalam berbagai produk seperti susu formula, minuman rendah gula, roti, dan minuman olahraga. Pada produk yang mengandung lebih sedikit gula, maltodekstrin juga membantu menjaga volume dan tekstur. Meskipun tidak terdaftar sebagai gula dalam label gizi, maltodekstrin tetap merupakan karbohidrat yang menyuplai energi, sehingga tidak dapat dianggap tidak berpengaruh pada tubuh hanya karena rasanya yang kurang manis.
Dampak Maltodekstrin bagi Kesehatan
Maltodekstrin dapat meningkatkan kadar gula darah karena tubuh mengubahnya menjadi glukosa. Hal ini dijelaskan oleh Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), seorang dokter spesialis gizi klinik. “Untuk gula darah, kadar gula darah dalam tubuh kurang lebih sama seperti glukosa karena memang dia ujungnya adalah menjadi glukosa,” jelas Diana. Meskipun maltodekstrin tidak dicantumkan sebagai gula pada label gizi, tetap saja perlu diperhitungkan sebagai bagian dari asupan karbohidrat. Namun, dampaknya terhadap berat badan dan kondisi metabolik tidak bisa hanya ditentukan oleh satu bahan saja. Diana menambahkan bahwa pengaruh tersebut juga berkaitan dengan total energi yang dikonsumsi dan aktivitas fisik seseorang.
Selain itu, maltodekstrin sering dikaitkan dengan masalah keseimbangan bakteri di usus. Meskipun demikian, bukti ilmiah yang ada saat ini belum cukup untuk memastikan bahwa maltodekstrin selalu menyebabkan gangguan tersebut. Diana menyatakan bahwa beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan adanya pengaruh maltodekstrin terhadap keseimbangan mikrobiota usus. “Memang ada penelitian yang menyatakan arahnya kok kayaknya mengganggu ya keseimbangan, tapi itu tidak konklusif,” ujarnya. Keseimbangan bakteri di usus dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pola makan dan pola tidur. Oleh karena itu, perubahan dalam saluran cerna tidak dapat langsung dihubungkan dengan konsumsi maltodekstrin saja. Hal yang sama berlaku untuk inflammatory bowel disease (IBD), kelompok penyakit peradangan pada saluran cerna. Diana menjelaskan bahwa penyakit ini memiliki berbagai faktor penyebab, sehingga hubungan dengan maltodekstrin belum bisa disimpulkan secara pasti. Ia menekankan bahwa pengaruh maltodekstrin perlu dilihat berdasarkan kondisi kesehatan individu secara keseluruhan, termasuk riwayat gangguan saluran cerna dan pola makan sehari-hari.