Kehidupan yang lebih nyaman, waktu luang yang berkualitas, dan penghindaran dari kesibukan yang berlebihan semakin menarik perhatian kalangan muda. Di platform media sosial, gaya hidup ini sering kali diekspresikan melalui aktivitas sederhana seperti membaca, menikmati kopi, atau menghabiskan waktu untuk diri sendiri. Fenomena ini dikenal dengan istilah soft life, yang menekankan pentingnya kenyamanan dan ketenangan dalam menjalani hidup.
Reaksi terhadap Budaya Kerja Keras
Soft life merupakan sebuah tren yang menekankan pada kenyamanan, ketenangan, serta perawatan diri, yang awalnya muncul dari komunitas influencer di Nigeria dan kemudian menyebar melalui platform seperti TikTok dan Instagram. Stephanie Koh, seorang perempuan muda yang tinggal di New York dan sedang mencari pekerjaan, berpendapat bahwa tren ini muncul sebagai respons terhadap tuntutan untuk terus mengejar pencapaian. "Sudah lama ada pandangan yang sangat kuat bahwa perempuan harus berkarier dan meraih pencapaian besar. Menurut saya, tren ini merupakan reaksi terhadap pandangan tersebut. Sekarang, orang-orang mencari kehidupan yang lebih tenang," ujarnya.
Stephanie O'Dea, penulis buku "Slow Living: Cultivating a Life of Purpose in a Hustle-Driven World," juga mengamati perubahan dalam cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan dan kehidupan pribadi. "Mereka tidak ingin hidup hanya untuk bekerja," katanya. "Generasi sebelumnya sangat memusatkan diri dengan pekerjaan yang mereka lakukan dan berapa banyak uang yang mereka hasilkan. Generasi muda sekarang ingin melakukan banyak hal. Mereka ingin mendaki, menjalani hidup, menikmati waktu bersama teman-teman, dan tidak terus-menerus dipaksa bekerja sampai kelelahan."
Menemukan Keseimbangan dalam Hidup
Keinginan untuk menjalani hidup yang lebih santai tidak selalu berarti seseorang ingin mengabaikan tanggung jawab. Koh berpendapat bahwa tren ini lebih sering mencerminkan gambaran kehidupan ideal atau kesempatan untuk menikmati waktu istirahat di tengah kesibukan. "Menurut saya, orang-orang di lingkungan saya tidak terlalu menganggap tren ini sebagai pandangan untuk menjalani seluruh hidup. Mereka lebih melihatnya sebagai cara menemukan momen dalam keseharian untuk sekadar menarik napas dan berhenti sejenak," jelasnya.
Namun, Asli Yu, seorang mahasiswa di Babson College, memiliki pandangan berbeda. Ia berpendapat bahwa istilah soft life kadang-kadang digunakan untuk menghindari kewajiban dan tekanan yang ada. "Saya punya pandangan yang cukup berbeda tentang hal ini. Menurut saya, tren soft life bisa menjadi cara untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Ini merupakan cara untuk menghindari stres," ujarnya. "Jika kamu melakukan lebih sedikit hal, kamu memang akan merasa tidak terlalu stres. Namun, pada titik tertentu, kamu harus mulai bertanggung jawab atas tindakanmu."
Bagi sebagian generasi muda, menjalani hidup yang lebih tenang tidak berarti kehilangan tujuan. Mereka justru ingin mempertimbangkan kembali pencapaian yang ingin diraih dan kehidupan yang ingin dijalani. O'Dea menekankan pentingnya melihat kehidupan dalam jangka panjang, alih-alih terus membandingkan pencapaian dengan orang lain. "Jika kamu sudah merasa stres pada usia 20-an, pikirkanlah hal itu. Apakah kamu ingin tetap merasa stres pada usia 30-an dan 40-an?" ujarnya.
Walaupun keinginan untuk menjalani kehidupan yang lebih tenang semakin kuat, tantangan tetap ada. Tekanan dari pekerjaan dan kebutuhan ekonomi menjadi pertimbangan, sehingga gambaran soft life di media sosial mungkin tidak selalu mencerminkan kenyataan hidup seseorang.