Kesehatan

Koleksi Busana Pria Modern OTHMAN Memadukan Tenun Sobi di Lungsara

Jenama OTHMAN menghadirkan 12 busana pria yang terinspirasi dari tenun Sobi pada pergelaran mode Lungsara, menampilkan gaya modern yang tetap menghargai warisan budaya.

N
Nathania Gabriella Wardani
18 September 2026 53 pembaca
Desainer pendiri jenama OTHMAN, Dimas Muhammad Rusydi, dalam konferensi pers tentang peragaan busana bertajuk Lungsara dalam Fashion Nation edisi ke-20 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)
Desainer pendiri jenama OTHMAN, Dimas Muhammad Rusydi, dalam konferensi pers tentang peragaan busana bertajuk Lungsara dalam Fashion Nation edisi ke-20 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)

JAKARTA - Mengintegrasikan wastra Nusantara ke dalam busana pria dengan gaya modern memerlukan ketelitian agar hasilnya tetap memiliki karakter yang kuat tanpa terkesan berlebihan. Menanggapi tantangan ini, OTHMAN mempersembahkan 12 koleksi busana pria yang terbuat dari tenun Sobi yang berasal dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dalam acara mode Lungsara. Lungsara adalah hasil kolaborasi antara Cita Tenun Indonesia (CTI), Senayan City, dan tiga jenama lokal lainnya, yaitu Saroong Atelier, OTHMAN, dan KMK BY KAREL KARUNIAWAN, yang akan berlangsung di Fashion Nation edisi ke-20 di Senayan City, Jakarta, pada Rabu (23/9/2026).

Mengadaptasi Tenun Sobi ke dalam Fashion Kontemporer

Desainer OTHMAN, Dimas Muhammad Rusydi, mengamati bahwa pria masa kini cenderung menginginkan busana yang rapi namun tetap mampu mengekspresikan gaya yang kuat. "Kita mencoba untuk bermain pattern, gimana cowok itu juga bisa statement. Nah makanya, pas banget yang kita kolaborasi sama CTI, CTI ini menawarkan kita tenun Wajo," jelas Dimas dalam konferensi pers mengenai peragaan busana "Lungsara" di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Identitas fesyen OTHMAN berakar pada lini busana pria kontemporer dengan siluet bersih yang menggunakan material berkualitas tinggi. Kehadiran tenun Sobi yang kaya akan kearifan lokal dan nilai filosofis menjadi pelengkap yang ideal untuk koleksi ini. "Di sinilah kita mencoba untuk kolaborasi secara siluet, bahan, terus juga konsep. Dan kita juga membawa cutting yang lebih modern pastinya, dan juga relevan di tahun ini," tambah Dimas.

Inovasi dalam Penggunaan Kain

Dengan fokus pada kerajinan berkelanjutan, OTHMAN memanfaatkan sisa kain berkualitas tinggi dari pabrik. Dimas menjelaskan bahwa menggabungkan dua tekstur kain dengan sistem produksi yang berbeda menciptakan inovasi gaya yang segar. "Kita terbiasa dapat kain tuh yang besar, yang lebarnya 140. Untuk bikin sesuatu, apalagi OTHMAN itu DNA-nya tuh jaket, outerwear, di mana cutting-an kita tuh oversize, itu (menantang)," ungkap Dimas.

Dalam menghadapi tantangan dimensi tenun Sobi yang sempit, tim penjahit harus merancang ulang tata letak kain agar tidak ada yang terbuang. "Itu challenge banget buat kita. Gimana caranya kita membuat polanya, membuat desainnya," kata Dimas.

Proses penggabungan kain tenun Sobi dengan desain modern OTHMAN melibatkan evaluasi yang ketat untuk mempertahankan estetika dan ornamen asli. Dimas mengungkapkan bahwa mereka terus berkoordinasi mengenai posisi jahitan agar visual tenun Sobi tetap terjaga. "Ada tim yang sudah konfirmasi ke pihak Cita Tenun untuk pemakaian bahan, pemakaian pola. Diomunikasikan dengan baik," sebutnya.

Hasil dari proses tersebut adalah koleksi ready to wear yang menonjolkan lebih dari 70 persen material tenun Sobi. Presentasi koleksi tersebut di runway pekan depan akan semakin sempurna dengan dukungan dari Optik Seis sebagai mitra untuk melengkapi penampilan model. "Gimana caranya kita buat desain, tapi tetap 'kita' dan bisa ready to wear, tapi juga statement, dan juga bisa mengangkat keindahan dari tenun itu sendiri. Jadi, kali ini emang challenge-nya sangat cukup diapresiasi," tutup Dimas.

Artikel Terkait