Teknologi

Klaim Masa Pakai Chip AI Nvidia Dapat Bertahan Lebih dari Delapan Tahun

CEO Nvidia, Jensen Huang, menyatakan bahwa akselerator kecerdasan buatan yang diproduksi perusahaannya dapat beroperasi secara efektif selama lebih dari delapan tahun, menantang pandangan umum tentang...

M
Maria Gabriella
27 October 2026 4 pembaca
Foto: Dok. Nvidia
Foto: Dok. Nvidia

Jakarta - Jensen Huang, CEO Nvidia, mengungkapkan bahwa akselerator kecerdasan buatan (AI) yang dibuat oleh perusahaannya dapat berfungsi secara produktif hingga lebih dari delapan tahun. Pernyataan ini bertentangan dengan pandangan umum di industri teknologi yang menganggap masa pakai prosesor grafis (GPU) hanya sekitar empat tahun. Dalam konferensi Nvidia GTC yang diadakan di Berlin, Huang menjelaskan bahwa akselerator AI Nvidia merupakan perangkat yang sangat efisien, fleksibel, dan tahan lama. Ia juga mendorong para investor dan lembaga keuangan untuk mengubah cara mereka menilai investasi dalam infrastruktur AI.

Risiko Pinjaman yang Minim dan Nilai Sisa Tinggi

Menurut Huang, risiko bagi pemberi pinjaman yang menggunakan perangkat keras Nvidia adalah salah satu yang terendah dibandingkan dengan aset lainnya. Hal ini disebabkan oleh nilai sisa chip Nvidia yang tetap tinggi serta kemampuannya untuk dialihkan ke berbagai jenis beban kerja dan konsumen yang berbeda. "Fleksibilitas akselerator AI Nvidia belum sepenuhnya dipahami oleh para financier dalam menilai nilai jangka panjangnya," ungkap Huang.

Tren Pertahanan Nilai Chip AI

Tren ini terlihat dari beberapa lini chip AI Nvidia di pasar sekunder. Chip Nvidia A100 dan H100 mempertahankan nilai jual kembali yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan awal industri. Sementara itu, Nvidia H100 dilaporkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi saat ini dibandingkan saat pertama kali diluncurkan, berkat optimasi perangkat lunak dan teknik inference baru. Chip Nvidia B200 bahkan disewakan atau diperdagangkan di pasar sekunder dengan harga mencapai 158 persen dari harga pembelian awalnya.

Pandangan Jensen Huang ini sejalan dengan pendapat Elon Musk, CEO Tesla dan xAI, yang sebelumnya menyatakan bahwa akselerator AI generasi lama bisa lebih menguntungkan dibandingkan perangkat keras terbaru untuk menangani beban kerja inference, terutama karena efisiensi kinerja per watt. Musk berpendapat bahwa pelaku industri seharusnya mengevaluasi perangkat keras AI berdasarkan seberapa banyak kecerdasan yang dapat dihasilkan per watt listrik, bukan hanya berfokus pada daya pemrosesan mentah.

Dengan semakin meningkatnya optimasi model AI dan teknik inference, performa perangkat keras lama seperti H100 terus meningkat seiring waktu tanpa perlu mengganti komponen fisik. Namun, para pengamat industri memperingatkan bahwa nilai pasar bekas untuk akselerator AI tetap dipengaruhi oleh faktor kondisi fisik perangkat, ketersediaan stok, konfigurasi sistem, serta jenis beban kerja yang akan dijalankan.

Artikel Terkait