Restu Metriardi, yang kini berusia 63 tahun, tidak memulai hobi berlarinya sejak muda. Ia baru mulai berlari ketika usianya mencapai 54 tahun. Saat ini, lari telah menjadi bagian penting dalam rutinitas harian. Pada Selasa, 11 Agustus 2026, Restu mencatatkan hari ke-1.950 dari kebiasaan runstreak-nya. Selain itu, ia juga berhasil menyelesaikan full marathon pada tahun 2023, saat usianya sekitar 60 tahun, dengan catatan waktu terbaik 5 jam 12 menit 47 detik. Perjalanannya menjadi pelari dimulai dari kondisi kesehatan yang kurang baik.
Sebelum rutin berolahraga, Restu sering mengalami masalah kesehatan dan beberapa kali harus dirawat di rumah sakit. “Sebelum lari saya merupakan bapak-bapak yang gampang kena penyakit. Saya langganan ke rumah sakit karena masalah saluran pencernaan, bahkan pernah tiga kali dirawat di rumah sakit karena penyakit ini. Akhirnya, pasca rawat inap di akhir tahun 2016, saya bertekad untuk berubah,” ungkap Restu.
Awal Mula Perubahan
Selain mengalami gangguan pencernaan, Restu juga menderita saraf kejepit yang dirasakannya sejak usia 35 tahun. Keluhan ini dapat kambuh jika ia salah mengangkat barang. Pengalaman dirawat di rumah sakit pada akhir 2016 menjadi titik balik yang mendorongnya untuk mengubah gaya hidup.
Setelah keluar dari rumah sakit, Restu mulai membiasakan diri untuk berjalan cepat setelah shalat Subuh. Dalam kebiasaan ini, ia bertemu dengan orang-orang yang lebih tua namun tampak lebih sehat karena rutin bersepeda dan berlari. Melihat mereka, Restu terinspirasi dan bertekad untuk melakukan hal yang sama. “Kalau mereka bisa, maka tekad saya adalah, saya harus bisa,” tuturnya.
Menemukan Passion dalam Berlari
Restu mulai belajar berlari pada awal September 2017. Meskipun awalnya terasa baru, lama kelamaan ia semakin tertarik untuk berlatih. Ia merasakan beberapa keluhan kesehatan yang sebelumnya sering mengganggu mulai berkurang setelah mengubah gaya hidupnya. Namun, ia tidak menganggap lari sebagai satu-satunya penyebab perbaikan tersebut. Ia juga mulai memperhatikan pola makan yang lebih sehat, menjaga waktu tidur, dan meningkatkan kualitas istirahat. “Bisa jadi kesembuhan-kesembuhan tersebut merupakan efek tidak langsung dari kebiasaan lari, seperti gaya hidup lebih bagus, lebih memilih makan makanan sehat, tidur cukup dan berkualitas, dan lain-lain,” jelasnya.
Setelah beberapa tahun berlari, Restu mulai mencoba berbagai jarak dan mencatatkan sejumlah waktu terbaik. Untuk jarak 5 kilometer, catatan terbaiknya adalah 23 menit 42 detik yang diraihnya pada tahun 2021. Sedangkan untuk 10 kilometer, ia mencatat waktu 51 menit 37 detik pada tahun yang sama. Pada nomor half marathon, catatan terbaiknya adalah 2 jam 3 menit 20 detik. Pencapaian terbesarnya adalah menyelesaikan full marathon pada tahun 2023 dengan waktu 5 jam 12 menit 47 detik, yang menjadi pencapaian penting bagi Restu karena ia baru memulai berlari di usia yang tidak muda.
Konsistensi dalam Runstreak
Pada April 2021, Restu memulai kebiasaan runstreak, yaitu berlari setiap hari. Awalnya, ia menantang diri untuk berlari selama 30 hari di bulan Ramadhan. Setelah berhasil, tantangan tersebut diperpanjang menjadi tiga bulan, dan kemudian ia berupaya mempertahankannya selama 360 hari. Setelah mencapai target tersebut, Restu merasa sayang jika kebiasaan itu terputus, sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan runstreak hingga saat ini. Hingga 10 Agustus 2026, ia telah menjalani runstreak selama 1.949 hari.
Restu mengungkapkan bahwa keinginan untuk berhenti lebih sering muncul pada tahun pertama. Namun, setelah melewati berbagai tantangan, ia semakin merasa sayang jika catatan tersebut terputus. Ia juga mengenal konsep runstreak internasional yang menetapkan standar minimal berlari sejauh 1 mil atau sekitar 1,6 kilometer. Menurut Restu, jarak tersebut tidak harus dilakukan dengan kecepatan tinggi, yang terpenting adalah menyesuaikan aktivitas dengan kondisi tubuh. “Selama Allah masih memberi saya usia, kesehatan, dan motivasi untuk berlari,” ujarnya saat ditanya tentang kelanjutan kebiasaan ini.
Tantangan dalam Menjalani Runstreak
Menjalani runstreak selama bertahun-tahun tentu memiliki tantangan tersendiri. Restu pernah tetap berlari pada hari pernikahan anak keduanya dan juga berlari di kamar hotel saat melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Istanbul. Di Bandara Internasional Dubai, ia menyempatkan diri berlari agar runstreak tetap berjalan. Tantangan lain muncul setelah pulang dari ibadah haji, di mana ia tetap berlari di dalam ruangan meskipun tiba di rumah larut malam. Pada tahun 2025, ia berhasil mempertahankan runstreak selama 42 hari selama perjalanan haji. “Alhamdulillah selama 42 hari perjalanan haji saya di tahun 2025, runstreak bisa jalan terus dengan variasi suka dukanya,” tuturnya.
Namun, konsistensi tersebut tidak berarti Restu selalu memaksakan diri untuk berlari dalam kondisi apa pun. Di usia 63 tahun, ia berusaha menyesuaikan aktivitas lari dengan kondisi tubuhnya. Ia menggunakan denyut jantung sebagai acuan saat berlari dan memperhatikan sinyal yang diberikan tubuh. Dari dua acuan tersebut, Restu menentukan apakah akan berlari dengan kecepatan tertentu, mengurangi jarak, berjalan, atau berhenti. Ia percaya bahwa kemampuan untuk mendengarkan kondisi tubuh sangat penting untuk mengurangi risiko cedera.
Mayoritas aktivitas larinya dilakukan sendirian. Menurut Restu, berlari sendirian justru memberikan kesempatan untuk melakukan refleksi dan introspeksi. “Mayoritas lari dilakukan sendirian tanpa teman, malah lebih nyaman karena saat lari sekaligus bisa melakukan refleksi atau introspeksi diri,” ujarnya.