Kesehatan

Ketika Wearable Device Menjadi Beban dalam Berolahraga

Perangkat wearable seperti jam pintar dan fitness tracker dapat membantu memantau aktivitas olahraga, namun terkadang dapat membuat pengguna terlalu fokus pada target yang tidak realistis. Hal ini ber...

M
Muhammad Rizki Ramadhan
08 October 2026 55 pembaca
Ilustrasi smartwatch(AndroidPolice)
Ilustrasi smartwatch(AndroidPolice)

Perangkat wearable, seperti jam tangan pintar dan pelacak kebugaran, sering kali dianggap bermanfaat untuk memantau aktivitas olahraga melalui berbagai data yang ditampilkan. Data tersebut mencakup jumlah langkah, durasi aktivitas, dan pencapaian target harian, yang berfungsi sebagai pengingat untuk tetap aktif. Namun, fokus berlebihan pada angka-angka ini dapat membuat seseorang terjebak dalam perbandingan dengan pencapaian orang lain.

Menyesuaikan Target dengan Kemampuan Pribadi

Dokter olahraga, dr. Andhika Respati, Sp.KO, menekankan pentingnya menyesuaikan target olahraga dengan kondisi fisik dan kemampuan individu. Ia menjelaskan bahwa angka yang ditampilkan pada perangkat wearable tidak seharusnya dianggap sebagai representasi keseluruhan kesehatan seseorang. Ada kemungkinan bahwa seseorang merasa sudah sehat hanya berdasarkan angka yang terlihat, padahal pencapaian tersebut tidak selalu mencerminkan kebutuhan olahraga yang sebenarnya.

Andhika mengingatkan bahwa data dari perangkat wearable perlu dilihat bersamaan dengan jenis aktivitas yang dilakukan dan kondisi tubuh. Dengan cara ini, angka tersebut bisa berfungsi sebagai informasi untuk membantu evaluasi aktivitas, bukan sebagai satu-satunya acuan kesehatan.

Kompetisi yang Tidak Sehat

Masalah lain yang muncul adalah ketika target olahraga berubah menjadi kompetisi dengan orang lain, yang disebut Andhika sebagai toxic competitiveness. Ini adalah dorongan untuk membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, yang sering kali mengabaikan kemampuan fisik masing-masing. Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Andhika menyatakan, “Yang saya suka sayangkan adalah, sometimes, nggak selalu ya, tapi ada yang namanya toxic competitiveness.”

Ia menegaskan bahwa seseorang yang baru memulai olahraga tidak dapat langsung mengejar pencapaian orang yang sudah berpengalaman. “Harus melihat kembali bagaimana kondisi fisik saya. Mungkin konsisten bisa segitu cepatnya berenang karena sudah lama. Artinya, kita baru memulai, ya langsung mau ke sana,” tambahnya. Oleh karena itu, pencapaian yang terlihat di layar seharusnya tidak menjadi alasan untuk memaksakan kemampuan agar setara dengan orang lain.

Pentingnya Istirahat dan Latihan yang Realistis

Andhika juga menyoroti bahwa mengejar target harus seimbang dengan kemampuan tubuh untuk berlatih dan beristirahat. Ia menjelaskan bahwa terkadang seseorang bisa terlalu konsisten dalam berolahraga, padahal tubuhnya sudah memerlukan waktu pemulihan. “Kadang-kadang kita konsisten berlebihan, padahal sebenarnya badan itu sudah butuh istirahat. Nah, dari sisi klinisnya justru berlebihan,” ungkapnya.

Pelatih kebugaran, Arienda Sapari, menambahkan bahwa penting untuk merancang latihan yang realistis agar kebiasaan tersebut dapat dipertahankan. “Intinya kita harus kenalin dulu, latihannya realistis saja, jangan terlalu dipaksakan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa keberhasilan dalam berolahraga tidak hanya diukur dari pencapaian tinggi dalam satu hari, tetapi lebih kepada konsistensi dalam menjalankan rutinitas.

Personalisasi Target pada Wearable

Target yang ditetapkan pada perangkat wearable sebaiknya tidak bersifat universal. Kondisi kesehatan, kemampuan fisik, dan jenis aktivitas yang dilakukan harus dipertimbangkan dalam menentukan target. Andri Hidayat, Business & Product Director PT Prodia Digital Indonesia, menjelaskan bahwa di U-Buddy, pengguna dapat menyesuaikan target aktivitas sesuai kebutuhan mereka. “Di U-Buddy ini bisa sesuaikan targetnya berapa. Contoh misalkan saya ternyata cuma 3.000, 5.000, nah itu bisa disesuaikan targetnya setelah dia nanti berkonsultasi dengan expert,” jelas Andri.

Menurutnya, personalisasi ini sangat penting bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu, karena kebutuhan aktivitas setiap orang tidak selalu sama. Dengan demikian, perangkat wearable dapat berfungsi sebagai alat bantu untuk membangun kebiasaan aktif, selama target yang ditetapkan tetap realistis dan sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.

Artikel Terkait