Di era persaingan kerja yang semakin ketat, perusahaan tidak hanya mencari kandidat dengan latar belakang akademis yang baik. Keterampilan nonteknis atau soft skill kini menjadi aspek penting dalam proses rekrutmen serta pengembangan karier. Muhammad Ghithrif Gustomo Putra, mentor karier sekaligus pendiri Qualifin.id, menekankan bahwa dua kemampuan yang harus diperhatikan oleh lulusan baru adalah kemampuan memecahkan masalah (problem solving) dan komunikasi. Kedua keterampilan ini dianggap sangat berpengaruh terhadap kesuksesan individu dalam menghadapi tantangan di lingkungan kerja.
Memahami Tantangan di Dunia Kerja
Ghithrif menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi di dunia kerja berbeda dengan masalah yang dihadapi saat menempuh pendidikan. Dalam konteks akademik, seseorang biasanya dihadapkan pada soal atau tugas dengan jawaban yang relatif jelas, sedangkan di lingkungan profesional, situasi yang dihadapi sering kali tidak memiliki solusi yang pasti. “Problem solving itu penting, karena masalah di dunia kerja itu enggak seperti saat kuliah. Kuliah itu relatif straightforward, sedangkan di dunia kerja masalahnya lebih kompleks,” ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa dunia kerja sering kali menyajikan situasi yang tidak memiliki jawaban tunggal. Berbagai pendekatan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah, tergantung pada kondisi dan kebutuhan perusahaan. “Enggak ada satu pun solusi yang bisa dibilang benar atau salah. Itu tergantung cara approach-nya gimana, solusinya tepat atau enggak tergantung konteks,” jelas Ghithrif. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis dan menganalisis situasi menjadi sangat penting. Karyawan dituntut tidak hanya untuk menemukan solusi, tetapi juga untuk mempertimbangkan dampak, risiko, dan relevansi solusi tersebut terhadap kondisi yang dihadapi organisasi.
Pentingnya Keterampilan Komunikasi
Selain keterampilan problem solving, Ghithrif juga menilai bahwa kemampuan komunikasi merupakan soft skill yang tidak kalah penting. Sebuah solusi yang baik tidak akan efektif jika tidak disampaikan dengan cara yang tepat. “Komunikasi juga penting karena soft skill ini bisa mencegah terjadinya misconception,” ujarnya. Dalam lingkungan kerja, komunikasi berfungsi tidak hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk memastikan bahwa semua pihak memiliki pemahaman yang sama terhadap tujuan dan langkah yang akan diambil.
Kesalahan dalam komunikasi dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari keterlambatan pekerjaan hingga kesalahpahaman dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, kemampuan untuk menyampaikan ide secara jelas dan efektif menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan di berbagai bidang pekerjaan. Ghithrif memberikan contoh bahwa meskipun seorang karyawan memiliki solusi yang tepat, jika penyampaian ide tersebut kurang meyakinkan, kemungkinan besar ide tersebut tidak akan mendapatkan dukungan dari pihak terkait.
Kemampuan komunikasi juga semakin penting dengan adanya beragam generasi yang bekerja bersama di lingkungan profesional saat ini. Dalam satu perusahaan, individu dapat berkolaborasi dengan rekan kerja atau atasan dari generasi yang berbeda. Ghithrif menekankan bahwa tantangan komunikasi tidak hanya terkait dengan proyek atau tugas pekerjaan saja. “Hambatan dalam komunikasi bukan hanya sekadar projek atau lingkup pekerjaan saja, tetapi berkomunikasi lintas generasi dengan atasan agar tetap sepaham,” ujarnya.
Setiap generasi memiliki gaya komunikasi yang berbeda, sehingga pendekatan yang efektif untuk satu kelompok belum tentu berhasil untuk kelompok lainnya. Oleh karena itu, kemampuan untuk membaca situasi dan memahami karakter lawan bicara menjadi semakin penting. Dengan komunikasi yang tepat, kolaborasi dapat berjalan lebih efektif dan potensi kesalahpahaman dapat diminimalkan.