JAKARTA - Mewujudkan masa tua yang bahagia ternyata tidak hanya bergantung pada kesehatan fisik atau pola pikir seseorang saat memasuki usia lanjut. Hoshael Waluyo Erlan, M.Psi., Psikolog dan konselor kesehatan mental, mengungkapkan bahwa proses penuaan yang positif perlu dipersiapkan jauh sebelum seseorang mencapai usia tua.
Menurut Hoshael, menua dengan sukacita bukan hanya merupakan masalah individu, melainkan juga dipengaruhi oleh lingkungan yang mendukung. Ia menekankan pentingnya hubungan sosial yang bermakna bagi lansia. “Lansia itu juga butuh hubungan yang bermakna dengan orang lain, baik dari pertemanan atau komunitas, bisa tetap berkarya, dan tetap coba hal baru,” ujarnya dalam acara talkshow Ageless Festival yang berlangsung di Pondok Indah Mall (PIM) 3, Jakarta Selatan, pada Sabtu (13/6/2026).
Pentingnya Hubungan Sosial bagi Lansia
Hoshael menjelaskan bahwa kebutuhan sosial sering kali terlupakan dalam diskusi mengenai kelompok lanjut usia. Hubungan sosial yang sehat dapat memberikan rasa memiliki, dukungan emosional, dan membantu seseorang merasa terhubung dengan kehidupan di sekitarnya. Sebaliknya, keterasingan sosial dan kesepian sering menjadi tantangan yang dihadapi oleh banyak lansia. Oleh karena itu, memiliki teman, komunitas, serta terlibat dalam aktivitas sosial sangat penting untuk menjaga kesejahteraan psikologis di usia lanjut.
Interaksi yang positif juga berkontribusi untuk membuat seseorang merasa dihargai dan memiliki tujuan dalam kehidupan sehari-hari. Lansia juga perlu diberikan kesempatan untuk tetap berkarya sesuai dengan kemampuan mereka, karena aktivitas yang bermakna dapat membantu mempertahankan rasa percaya diri dan memberikan kepuasan emosional.
Persiapan Sejak Usia Muda untuk Menua Bahagia
Hoshael menegaskan bahwa penuaan yang sehat dan bahagia tidak terjadi secara instan. Ada berbagai aspek yang perlu dipersiapkan sejak seseorang masih berada di usia produktif. Pembahasan mengenai menua dengan sukacita tidak bisa hanya terfokus pada pola pikir positif, tetapi juga kesehatan fisik dan mental memiliki peran yang sama pentingnya. “Itulah mengapa harus investasi kesehatan mental dan fisik sejak muda. Pertahankan relasi yang bermakna dan kita juga harus mempertahankan relevansi diri,” ujarnya.
Investasi kesehatan mental dapat dilakukan dengan mengelola stres, menjaga keseimbangan hidup, dan membangun kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Selain itu, menjaga kesehatan fisik melalui pola hidup sehat akan membantu seseorang tetap aktif ketika memasuki usia lanjut. Mempertahankan hubungan yang berkualitas dengan keluarga dan sahabat juga menjadi modal penting dalam perjalanan hidup.
Hoshael juga mengajak masyarakat untuk tidak takut mencoba hal baru dan mempertahankan rasa ingin tahu, meskipun usia terus bertambah. “Kita harus pertahankan hobi, tidak takut mencoba hal baru dengan level of excitement dan energi yang ada sekarang,” katanya. Setiap tahap kehidupan memberikan kesempatan untuk terus belajar dan berkembang, sehingga bertambahnya usia tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mengeksplorasi minat atau menemukan aktivitas baru yang memberikan kebahagiaan.
Walaupun kapasitas fisik seseorang mungkin berubah seiring bertambahnya usia, hal tersebut tidak berarti bahwa seseorang kehilangan kemampuan untuk menikmati hidup. “Memang energinya enggak sama seperti dulu, tapi bukan berarti kita enggak bisa ngelakuin hal-hal itu,” ujarnya. Dengan menyesuaikan aktivitas sesuai dengan kondisi tubuh, seseorang tetap dapat menjalani kehidupan yang aktif dan bermakna di masa tua.