Mendampingi anak yang mengidap cerebral palsy (CP) menjadi tantangan besar bagi orang tua. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan perawatan anak, tetapi juga kesehatan mental orang tua itu sendiri. Eka Fitriyani, seorang ibu yang telah mendampingi putrinya, Asysyifa Putri Salimah, atau Sipa, selama 12 tahun, merasakan hal tersebut. Dari pengalaman ini, Eka mengaku banyak belajar dalam menghadapi kondisi kesehatan anaknya dan juga menjaga kesejahteraan dirinya sendiri.
“Anak saya Asysyifa sekarang usianya 12 tahun, pengalamannya banyak belajar dari 12 tahun mengasuh,” kata Eka saat ditemui dalam peringatan World Cerebral Palsy Day 2026 di Mall Teras Kota, Tangerang Selatan, pada Minggu (25/10/2026).
Kondisi Kesehatan Sipa dan Perkembangannya
Asysyifa Sipa mulai menunjukkan gejala kejang saat berusia sekitar enam bulan. Pada saat itu, Eka belum menyadari bahwa gerakan yang dialami putrinya adalah gejala epilepsi, karena tidak disertai demam. “Sipa mulai sakit itu usia 6 bulan, setelah lahir normal, perkembangan dari enam bulan bagus,” ungkapnya.
Seiring bertambahnya usia, kondisi Sipa memerlukan perhatian yang lebih intensif. Eka menjelaskan bahwa putrinya saat ini menjalani pengobatan dengan tiga jenis obat untuk membantu mengendalikan kejang. “Dia tuh pakai tiga obat untuk sekarang, tapi alhamdulillah dengan kombinasi tiga obat yang kemarin Prof kasih, kejangnya mulai terkendali.” Frekuensi kejang Sipa yang sebelumnya bisa mencapai sekitar 20 kali dalam sebulan, kini berkurang menjadi satu hingga tiga kali sebulan. Namun, perjalanan mendampingi Sipa tidak selalu mudah. Eka mengaku sering merasa bingung ketika kejang kembali terjadi meskipun semua kebutuhan anaknya telah terpenuhi. “Padahal dijaga makannya, dijaga biar enggak capek, istirahatnya cukup,” ujarnya.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pengecilan pada bagian otak Sipa. Sebelumnya, pengecilan terjadi di bagian depan otak, dan pada pemeriksaan berikutnya, pengecilan berpindah ke bagian otak kiri. “Mengecil, kemarin kan dulu otak depan, terus sekarang otak kiri,” tuturnya.
Perjuangan Mental dan Dukungan Psikologis
Di balik upayanya mendampingi putrinya, Eka mengakui bahwa tantangan terberat adalah berdamai dengan kondisi putrinya. Ia mengaku sempat mengalami penyangkalan selama dua tahun setelah mengetahui kondisi Sipa. Dalam dua tahun tersebut, ia mengalami depresi dan gangguan mental yang cukup serius hingga memerlukan bantuan dari psikolog. “Saya sempat denial dua tahun. Dua tahun tuh saya mengalami depresi. Saya mengalami gangguan mental berat,” jelasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Eka menjalani pendampingan dari psikiater dan psikolog, serta mengonsumsi obat sesuai dengan penanganan yang diterimanya. “Saya harus bertemu dengan psikiater. Saya didampingi sama psikolog untuk hipnoterapi, minum obat juga,” ujarnya. “Alhamdulillah mulai pulih. Alhamdulillah bisa mulai menerima dengan kondisi Sipa saat ini.” Ia juga berusaha memberi waktu untuk dirinya sendiri agar bisa beristirahat ketika merasa kewalahan. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan keluar rumah sejenak atau melakukan kegiatan sederhana untuk menenangkan diri. “Kadang kalau lagi bete banget, saya keluar ke Indomaret beli es krim, dan makan itu di depan sambil duduk,” ungkapnya.
Biaya terapi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Eka dalam mendampingi Sipa. Ia menjelaskan bahwa putrinya sempat menjalani terapi hingga usia sembilan tahun, tetapi kini tidak lagi karena BPJS sudah tidak membiayai. “Sekarang BPJS sudah stop ya kan sudah sampai usia tujuh tahun. Nah, biaya terapi itu kan sangat mahal,” ujarnya. Kebutuhan rutin seperti popok, obat-obatan, dan susu juga menjadi tantangan di tengah keterbatasan biaya.
Meski mengalami kesulitan, Eka berusaha mencari informasi mengenai kondisi dan kebutuhan anaknya melalui berbagai komunitas. Dengan bergabung dalam komunitas, ia memperoleh pengetahuan dan dapat bertukar pengalaman dengan orang tua lain yang memiliki anak dengan kondisi serupa. “Jadi saya ikut beberapa komunitas yang bisa mendukung saya untuk mencari tahu perkembangan apa yang bisa saya update tentang dia,” ujarnya.
Eka juga berupaya agar Sipa tetap bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Ia mengajak putrinya keluar rumah setiap sore untuk bermain dengan anak-anak tetangga. “Kalau keluar sih saya ajak, setiap sore dia keluar main sama anak-anak tetangga,” tuturnya. Lingkungan tempat tinggalnya menerima Sipa dengan baik, sehingga Eka terus memberikan kesempatan kepada putrinya untuk berinteraksi dengan anak-anak lainnya. Bagi Eka, mendampingi Sipa bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan kesehatan dan perawatan, tetapi juga memastikan putrinya memiliki kesempatan untuk bersosialisasi. Pengalaman selama 12 tahun ini mengajarkan Eka untuk terus beradaptasi dengan kondisi anaknya, sambil tetap menjaga kesehatan mentalnya sendiri.