Kesehatan

Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Mengganggu Persahabatan

Terdapat kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele namun dapat merenggangkan hubungan persahabatan. Para ahli mengidentifikasi beberapa perilaku yang perlu dihindari agar persahabatan tetap terjaga.

M
Maria Gabriella
19 October 2026 63 pembaca
Ilustrasi(MAGNIFIC)
Ilustrasi(MAGNIFIC)

“Seorang sahabat lebih berharga daripada emas," ungkapan ini menunjukkan pentingnya menjaga hubungan persahabatan dengan baik. Namun, dalam praktiknya, ada kebiasaan kecil yang sering kali diabaikan yang dapat menyebabkan hubungan tersebut menjadi renggang atau bahkan putus. Menurut laporan dari The Guardian, ada sebelas kebiasaan yang dapat mengganggu hubungan persahabatan yang diungkapkan oleh para ahli.

1. Bercanda yang Menyakitkan

Bercanda dan saling menggoda merupakan hal yang umum dilakukan di antara sahabat. Namun, lelucon dapat menjadi masalah ketika mulai menyentuh hal-hal sensitif atau meremehkan perasaan teman. Pelatih persahabatan, Hannah Carmichael, menyatakan bahwa saling menggoda bisa menjadi tidak sehat jika membuat seseorang takut untuk menunjukkan perasaan yang sebenarnya. “Inti dari setiap hubungan yang sehat adalah kemampuan untuk hadir sebagai diri sendiri secara utuh,” ujarnya. Psikolog klinis, Carla Marie Manly, menambahkan bahwa penting untuk menyadari ketika candaan sudah melewati batas. “Dibutuhkan latihan untuk mengubah kebiasaan yang sudah tertanam, dengan menahan komentar sarkastis atau menjadikan teman sebagai sasaran lelucon. Semakin sering kita berlatih membangun hubungan dengan kebaikan, semakin kuat pula persahabatan kita,” jelasnya.

2. Fokus pada Kegiatan Mewah Saja

Anahit Behrooz, penulis buku BFFs, menyoroti pentingnya kegiatan sehari-hari dalam memperkuat kedekatan, bukan hanya aktivitas yang mewah. “Waktu berkualitas tidak dibangun melalui kemewahan menghabiskan waktu jauh dari tanggung jawab, melainkan melalui pengalaman bersama dalam menjalani tanggung jawab tersebut,” ujarnya. Ia memberi contoh kegiatan sederhana seperti berbelanja kebutuhan mingguan atau berolahraga bersama yang dapat mempererat hubungan.

3. Mengabaikan Teman Demi Pasangan Romantis

Pakar hubungan, Annabelle Knight, mengingatkan bahwa terlalu fokus pada hubungan romantis dapat menciptakan ketidakseimbangan yang tidak sehat. “Penting untuk menghormati dan memahami bahwa teman maupun pasangan romantis membutuhkan tingkat usaha dan komitmen yang serupa. Luangkan waktu khusus bersama masing-masing dan hadir sepenuhnya,” ucapnya. Oloni, seorang penulis dan penyiar, juga menyarankan agar seseorang meluangkan waktu berkualitas dengan teman, seperti rutin menanyakan kabar dan tidak mudah membatalkan janji.

4. Selalu Mencari Solusi untuk Masalah Teman

Tidak semua orang membutuhkan solusi ketika menceritakan masalahnya. Psikolog konseling berlisensi, Jane Halsall, menjelaskan bahwa memberikan nasihat atau berusaha menyelamatkan teman dari masalahnya dapat membebani kedua belah pihak. Teman yang belum siap menerima bantuan bisa merasa dihakimi. Adi Jaffe, seorang psikolog dan penulis, menekankan pentingnya mendengarkan dan memberikan dukungan tanpa syarat. “Ketika sahabat mengalami kesulitan, mereka sering kali membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan, bukan sekadar memberikan pendapat,” ujarnya.

5. Kebiasaan Mengatakan 'Iya' Terlalu Sering

Menyetujui setiap permintaan dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan pribadinya. Hannah menjelaskan bahwa beberapa orang secara alami senang membantu, sehingga lebih sering dimintai bantuan. Ia menyarankan agar seseorang belajar untuk mengatakan tidak ketika merasa tidak nyaman. "Mulailah dari hal kecil dan berlatihlah untuk mengungkapkan perasaan Anda ketika merasa tidak nyaman atau tidak mau," ujarnya.

6. Terlalu Terbatas pada Kegiatan Tertentu

Francesca Hogi, pelatih hubungan, memperingatkan bahwa membatasi pertemanan pada satu konteks dapat membuat seseorang terjebak dalam peran tertentu. Misalnya, jika seseorang hanya dianggap sebagai teman untuk menghadiri pesta, mereka mungkin merasa diabaikan. Ia menyarankan agar memberi kesempatan kepada teman untuk menjelaskan situasi sebelum menarik kesimpulan.

7. Kebiasaan Bergosip

Membicarakan orang lain atau membagikan informasi pribadi secara berlebihan dapat merusak kepercayaan. Pelatih kehidupan, Nonie Leonard, menyatakan bahwa gosip dapat menimbulkan perpecahan dan ketegangan dalam kelompok pertemanan. Karen Burke, seorang pelatih kehidupan, mengingatkan pentingnya memahami batas antara mencari nasihat dan membagikan informasi pribadi secara berlebihan.

8. Menganggap Teman Selalu Memahami Perasaan

Jalinan kedekatan tidak menjamin seseorang dapat mengetahui apa yang dipikirkan atau dibutuhkan temannya. Hogi menjelaskan bahwa persahabatan dibangun oleh kedua pihak. Jika ada yang tidak berjalan baik, penting untuk mengungkapkannya. “Belajar mengomunikasikan kebutuhan merupakan keterampilan penting dalam hubungan,” ujarnya.

9. Tidak Seimbang dalam Memberi dan Menerima

Pertemanan dapat menjadi tidak seimbang jika satu pihak terus-menerus menerima perhatian tanpa memberikan yang sama. Carla mengingatkan agar tidak menganggap dukungan teman sebagai sesuatu yang selalu tersedia. Ia menyarankan untuk menanyakan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan teman.

10. Tidak Memberi Ruang untuk Perubahan

Seiring bertambahnya usia, seseorang dapat mengalami perubahan dalam prioritas dan cara berkomunikasi. Hannah menjelaskan bahwa persahabatan perlu berkembang seiring dengan perubahan hidup. “Teman yang bijaksana memberikan ruang bagi satu sama lain untuk tumbuh dan berkembang,” katanya.

11. Terlalu Sibuk dengan Ponsel

Ponsel dapat mengalihkan perhatian saat bertemu dengan teman, membuat mereka merasa diabaikan. Psikolog siber, Elaine Kasket, menjelaskan bahwa perilaku ini dikenal sebagai phubbing. “Tidak menjaga kontak mata dan lebih fokus pada interaksi di dunia virtual dapat membuat teman merasa diabaikan,” ujarnya. Persahabatan yang sehat tidak berarti bebas dari konflik, namun hubungan yang kuat memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menyampaikan perasaan dan memperbaiki kesalahpahaman.

Artikel Terkait