Gugatan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, khususnya Pasal 34 yang mengatur kewajiban suami untuk memberikan nafkah, telah ditolak. MK menjelaskan bahwa pemisahan kewajiban antara suami dan istri bukanlah bentuk diskriminasi, melainkan pengaturan yang bertujuan untuk menyeimbangkan fungsi dan tanggung jawab dalam rumah tangga. Meskipun secara hukum keputusan tersebut bersifat final, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya perbedaan. Dinamika dalam pernikahan dapat membuat suami merasa tertekan secara finansial, terutama jika istri memiliki pandangan tertentu tentang uang.
"Perilaku istri yang menimbulkan perasaan ini umumnya berakar pada kebutuhan untuk mendapatkan validasi dari luar atau pengaturan emosi yang tidak tepat melalui materi," jelas Danti Wulan Manunggal, S.Psi., Psikolog, dalam penjelasannya pada Jumat (19/6/2026). Kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi ini seringkali berujung pada tuntutan yang tidak terbatas kepada pasangan, sehingga hubungan suami istri beralih dari ikatan emosional menjadi transaksi semata.
Perilaku Istri yang Memicu Tekanan Finansial
Ketika istri meminta suami untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan anak, atau biaya kesehatan, hal tersebut biasanya merupakan bagian dari tanggung jawab bersama sesuai kesepakatan. Namun, situasi menjadi berbeda jika istri terus-menerus menuntut gaya hidup yang mewah yang tidak sejalan dengan kemampuan ekonomi keluarga, bahkan memperlakukan suami sebagai sumber uang. "Tuntutan gaya hidup sering kali dipicu oleh standar yang ditetapkan oleh media sosial atau lingkungan pergaulan, bukan kebutuhan internal keluarga," ungkap Danti.
Pengeluaran yang berlebihan sering digunakan sebagai pelarian emosional saat menghadapi masalah pribadi. "Belanja atau terapi ritel digunakan untuk menutupi rasa bosan, kekosongan emosional, atau untuk menghindari konflik dalam pernikahan," tambahnya. Tindakan ini dapat menyebabkan kerugian finansial yang signifikan bagi suami, karena berujung pada pengeluaran yang impulsif tanpa perencanaan yang matang. Akibatnya, hal ini juga dapat merugikan istri.
Masalah Keuangan dalam Hubungan
Seorang suami dapat merasa "diperas" jika tidak ada transparansi dalam pengelolaan keuangan keluarga. Hal ini bisa terjadi dalam bentuk "perselingkuhan finansial" atau financial infidelity, di mana istri berutang tanpa sepengetahuan suami. Selain itu, bisa juga muncul dalam bentuk menyembunyikan pengeluaran besar atau memanipulasi anggaran rumah tangga. Danti menekankan bahwa hilangnya akuntabilitas ini dapat merusak rasa saling percaya yang telah dibangun dalam pernikahan.
Perilaku eksploitatif menjadi sangat merusak ketika istri menerapkan cinta bersyarat kepada suaminya. "Menjadikan keintiman fisik atau emosional sebagai imbalan ketika suami memberikan materi," kata Danti, yang telah menangani berbagai kasus terkait hubungan rumah tangga selama lebih dari sepuluh tahun. Di sisi lain, penolakan terhadap permintaan dana dapat direspons dengan hukuman mental yang menyiksa suami, seperti memberikan sikap dingin atau mengabaikan.
Menurut Danti, sikap istri yang menjadikan afeksi sebagai alat tukar ini sering kali berasal dari pengalaman masa kecil di mana cinta dari orang tua diberikan secara bersyarat. "Anak belajar bahwa ia harus mendapatkan sesuatu untuk merasa aman, atau bahwa afeksi selalu memiliki harga," jelasnya. Kondisi ini menciptakan kombinasi gaya kelekatan yang saling bertolak belakang, di mana istri mungkin bersikap clingy, cemas, dan terus-menerus menuntut bukti cinta melalui materi.
Istri yang tampak menuntut uang bisa jadi sebenarnya sedang menghindari kedekatan emosional yang sejati. Ia mungkin bersikap menghindar dan menggunakan barang-barang mewah sebagai pelindung diri dari ikatan perasaan dengan suami. "Materi digunakan sebagai tameng. Lebih mudah menuntut tas mahal daripada membangun koneksi emosional yang dalam," jelas Danti.
Distorsi dalam pemahaman bahasa cinta semakin memperburuk sikap manipulatif ini. "Jika bahasa cintanya adalah menerima hadiah, hal ini dapat terdistorsi menjadi patologis ketika hadiah tidak lagi dianggap sebagai ungkapan kasih sayang, melainkan sebagai syarat untuk kelangsungan pernikahan," tutup Danti.