JAKARTA - Menghadirkan wastra tradisional yang kaya akan nilai budaya ke dalam busana modern adalah tantangan tersendiri. KMK BY KAREL KARUNIAWAN mengambil langkah berani dengan menampilkan 12 karya busana yang mengedepankan tenun suku Baduy dan tenun Jepara pada pergelaran Lungsara di Fashion Nation 2026, yang dijadwalkan berlangsung di Senayan City pada Rabu, 23 September 2026. Koleksi ini terdiri dari delapan busana wanita dan empat busana pria yang dirancang khusus untuk menunjukkan eksplorasi desain yang sangat kontemporer.
Desainer Karel Karuniawan menemukan bahwa filosofi hidup suku Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, sangat berbeda dengan identitas jenamanya. Ia menjelaskan bahwa tenun Baduy memiliki latar belakang budaya yang erat kaitannya dengan cara hidup dan prinsip-prinsip yang dipegang oleh masyarakat suku tersebut. "Tenun Baduy ini memiliki cultural background yang setelah saya pelajari lebih lanjut, itu sangat berhubungan dengan way of life, dan prinsip kehidupannya para orang suku Baduy itu ada satu namanya pikukuh," ungkap Karel dalam konferensi pers mengenai peragaan busana bertajuk "Lungsara" di Jakarta.
Menggabungkan Estetika Avant-Garde dengan Kesederhanaan Baduy
Karakteristik busana KMK selalu berfokus pada potongan besar, tekstur eksperimental, dan proporsi yang tidak konvensional. Sementara itu, motif tenun Baduy lahir dari kesederhanaan bentuk geometris yang menghormati adat dan alam. Pertentangan antara kedua elemen ini justru menciptakan daya tarik saat material tersebut diubah menjadi pakaian di runway. Karel dituntut untuk menciptakan siluet yang besar dan terstruktur tanpa mengabaikan filosofi yang dipegang oleh suku Baduy. "Pikukuh ini kalau di garis besarkan itu seperti a simple way of life. Jadi, moto utama mereka itu kalau di-translate ke bahasa Indonesia, 'Yang panjang tidak perlu dipotong, yang pendek tidak perlu disambung'," jelas Karel.
Ia menambahkan, "Sehingga, it's a challenge and also it's beautiful that I could find the titik tengah dari kedua sisi itu. Kenapa titik tengah? Karena saya tidak mengorbankan satu sisi antara tradisionalnya tenun Baduy dan juga brand DNA saya."
Menjaga Keaslian Kain Melalui Desain yang Dominan
Dalam mendesain busana modern dengan menggunakan wastra, perancang dituntut untuk menghargai proses panjang yang dilakukan oleh pengrajin. KMK memastikan bahwa setiap karyanya tidak merendahkan kain tradisional dengan memberikan porsi visual yang dominan pada setiap desain. "Contohnya, misalnya dalam satu look, kain beneran dipakai dan dijadikan majority dari look tersebut. Jangan sampai cuma misalnya full kain lain (tenun sekadar pelengkap). Cukup dengan tidak melakukan itu, sudah menjaga kesucian kain itu," kata Karel.
Potongan busana yang menggunakan teknik asimetris dan penumpukan kain membuat penyusunan pola tenun Baduy terasa seperti menyatukan potongan gambar yang terpisah. "Rata-rata hampir enggak ada yang cuma pakai satu lembar. Paling dua tiga lembar, itu nempat-nempatinnya dan sebisa mungkin kan enggak dibuang kan. Jadi ada juga yang kita repurpose lagi aja," tambah Karel.
KMK juga berani bereksplorasi dengan menggabungkan berbagai tekstil modern. "Kita ada campuran dengan kain lain seperti katun, kita pakai wool blend juga, kita pakai kain kaus juga, dan kain yang lebih eksperimental kita juga pakai dan yang agak bulu-bulu juga," ungkap Karel. Meskipun menggabungkan material dengan tekstur yang tidak biasa, ia memastikan bahwa karakter asli tenun Baduy tetap menjadi fokus utama. "Walaupun kain-kain itu dibilang ekstrem, enggak sulit untuk tetap memakai si tenun Baduy menjadi star of the look. Cukup dengan memakai kain tenun itu dengan bagus, dibikin majority look, itu sudah jadi point of the look," tutup Karel.