JAKARTA - Busana batik biasanya dikenal dengan kesan formal dan corak yang terikat pada tradisi. Namun, Batik Atthaya berusaha melampaui batasan tersebut dengan menawarkan berbagai pilihan pakaian modern yang motifnya terinspirasi dari benda-benda di sekitar kita. Inovasi ini ditujukan untuk menarik perhatian konsumen dari kalangan generasi Z hingga alpha, serta generasi milenial yang mencari batik yang unik. Dengan desain yang lebih beragam, diharapkan mereka dapat mengekspresikan diri melalui busana batik tanpa merasa canggung.
Membawa Inspirasi dari Kehidupan Sehari-hari
Dalam menciptakan motif batik terbaru, Batik Atthaya mencari ide-ide segar yang tidak biasa untuk dituangkan ke dalam kain bernilai seni. Inspirasi bisa datang dari aktivitas sehari-hari atau pengamatan terhadap benda-benda di sekitar. "Misalnya saya melihat, 'Oh, ini ada cup kopi. Kenapa enggak bisa dibikin kayak gini (menjadi batik)?' Lebih ke situ pengembangannya," jelas Rully, pendiri Batik Atthaya. Alih-alih terus menerus menciptakan batik klasik, Rully memberikan kebebasan kepada para pembatik untuk menggambar berbagai bentuk yang menarik perhatian, seperti ayam jago, ikon wisata Bali, alat masak, bahkan astronot dan vespa.
Proses Pembuatan yang Tetap Tradisional
Meskipun menghadirkan motif yang modern, proses pembuatan kain batik tetap dilakukan secara manual. Setiap helai pakaian dikerjakan dengan tangan, baik melalui metode tulis maupun cap. "Kalau yang dinamakan batik itu proses menggunakan lilin panas yang dibentangkan di atas sebuah kain. Itu yang namanya batik," kata Rully, memberikan edukasi kepada publik mengenai perbedaan antara batik yang dibuat dengan canting dan yang dicetak secara massal. Saat ini, banyak produk yang mengklaim sebagai batik meskipun prosesnya tidak menggunakan lilin panas, melainkan hanya dicetak.
Tantangan dalam Mengadaptasi Motif Baru
Pergeseran ke motif batik yang lebih modern membawa perubahan dalam manajemen produksi. Saat ini, Batik Atthaya mengalokasikan 70 persen dari total produksi untuk motif kontemporer dan hanya 30 persen untuk motif tradisional. Namun, transisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika melibatkan pengrajin senior yang telah terbiasa dengan pola yang sama selama bertahun-tahun. "Kita sering menemukan orang-orang yang sudah sepuh yang pakem batiknya itu sudah ada, tapi kita sodorin batik-batik yang seperti ini. Itu tidak mudah juga," ungkap Rully.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Batik Atthaya memberikan bimbingan teknis kepada pengrajin agar mereka bersedia mencoba dan beradaptasi dengan motif baru. Dengan ketelatenan dalam menorehkan lilin pada kain, diharapkan motif yang tidak biasa dapat diwujudkan dengan baik.