JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak orang terpengaruh untuk membeli barang dalam jumlah besar saat melihat promo di pusat perbelanjaan. Keyakinan bahwa membeli dalam jumlah banyak akan lebih menguntungkan secara finansial sering kali menjadi alasan untuk mengisi rak penyimpanan di rumah. Namun, tanpa perhitungan yang tepat, kebiasaan ini dapat berisiko menyebabkan pemborosan karena barang yang dibeli mungkin tidak terpakai secara optimal.
Perencana keuangan bersertifikat, Mike Rini, menekankan bahwa perilaku belanja sehari-hari sangat berkaitan dengan upaya menciptakan kehidupan keluarga yang lebih bermakna. Ia menjelaskan bahwa setiap pengeluaran harus didasari oleh niat yang jelas. Oleh karena itu, masyarakat perlu menerapkan pola konsumsi berkesadaran agar setiap produk yang dibeli sesuai dengan kebutuhan di rumah.
Saat mempertimbangkan pembelian dalam jumlah besar, penting untuk mengendalikan keinginan untuk membeli hanya karena terpengaruh oleh diskon. Mike memberikan contoh, "Sabun mandi dipakai enggak? Pasti dipakai. Cuma masalahnya sekarang, yang lama belum habis, sudah beli lagi yang bulky kan." Dorongan untuk berbelanja sering kali muncul sebagai bentuk pelampiasan emosional, dan jika barang lama masih ada saat membeli stok baru, kebocoran finansial dapat terjadi.
Mike juga mengingatkan pentingnya menetapkan batas waktu pemakaian untuk barang-barang yang dibeli. Memastikan bahwa produk berukuran besar akan habis dalam waktu yang wajar sangat penting untuk menjaga stabilitas anggaran. "Kalau belum seminggu, belum sebulan, belum habis, jangan beli lagi," ujarnya. Dengan menetapkan target yang realistis, konsumen dapat memantau pengeluaran dengan lebih baik.
Selain itu, konsumen disarankan untuk memilih ritme belanja yang konsisten. Menggabungkan belanja harian, mingguan, dan bulanan secara bersamaan dapat menyebabkan pengeluaran yang tidak perlu. Mike menyarankan untuk memilih dua ritme yang paling sesuai dengan gaya hidup keluarga, seperti belanja bulanan untuk barang tahan lama dan belanja mingguan untuk produk segar. "Kalau enggak mingguan dengan bulanan, ya harian dengan mingguan, atau harian dengan bulanan," tuturnya.
Dengan menerapkan strategi yang tepat dalam berbelanja, konsumen dapat menghindari pemborosan dan menjaga keuangan tetap sehat. Ke depan, penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola pengeluaran agar tidak terjebak dalam kebiasaan belanja yang merugikan.