Kesehatan

Hati-hati dengan Overfilled Syndrome: Risiko Penggunaan Filler Berlebihan di Wajah

Penggunaan injeksi filler untuk perawatan wajah banyak diminati, namun jika tidak dilakukan dengan hati-hati, dapat memicu masalah baru seperti overfilled syndrome yang mengubah bentuk wajah secara dr...

K
Kartika Sari Dewi
25 August 2026 65 pembaca
Hati-hati dengan Overfilled Syndrome: Risiko Penggunaan Filler Berlebihan di Wajah
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Perawatan estetika dengan injeksi filler telah menjadi pilihan populer bagi banyak orang yang ingin mendapatkan perubahan pada fitur wajah dengan cepat. Prosedur ini sering digunakan untuk mengisi area wajah yang kehilangan volume akibat penuaan. Namun, penggunaan filler yang berlebihan dapat menyebabkan masalah baru dalam dunia medis. Alih-alih mendapatkan tampilan wajah yang awet muda secara alami, penyuntikan yang berlebihan justru dapat membuat wajah terlihat bengkak dan kaku.

Obsesi Hasil Instan dan Dampaknya

Banyak pasien yang datang ke klinik kecantikan dengan harapan untuk mengubah penampilan wajah mereka dalam waktu singkat. Keinginan untuk mendapatkan hasil yang dramatis dalam waktu cepat membuat pasien mencari prosedur yang memberikan efek paling terlihat. "Banyak orang yang kalau datang ke dokter maunya biaya seminimal mungkin, hasilnya sedramatis mungkin," jelas pendiri Dermaluxe Aesthetic & Laser Center, dr. Jeffri Purnomo Setiawan, Dipl.AAAM, dalam konferensi pers Nordberg Medical Indonesia bertajuk "Regenerative Medical Aesthetic Outlook 2026" di Jakarta.

Ekspektasi yang tidak realistis ini sering kali berujung pada penyuntikan cairan filler yang berlebihan, sehingga melebihi batas yang wajar. "Kita kenal dengan overfilled syndrome, di mana filler ini dikerjakan berulang-ulang, terlalu banyak," tambah dr. Jeffri.

Pemahaman yang Keliru dan Dampak pada Wajah

Kondisi wajah yang tampak bengkak ini juga disebabkan oleh pemahaman yang salah tentang fungsi utama injeksi filler. "Seseorang dulu mengejar filler tuh untuk lifting wajah. Sedangkan tidak pernah mungkin bahwa seseorang itu menggunakan lifting wajah dengan mengisi," ungkap dr. Jeffri.

Praktik pengisian yang tidak tepat ini menciptakan istilah medis tertentu untuk menggambarkan wajah yang kehilangan proporsi aslinya. "Kayak di dahi disebut juga dengan flowerhorn atau ikan lohan. Kemudian kalau bibir itu dengan sebutan duck lips," kata dr. Elfin, M. Biomed (AAM), pendiri Dermaluxe Aesthetic & Laser Center. "Dagu, kalau di-overfilled, jadinya seperti witch chin atau dagu penyihir. Kalau di pipi itu jadinya pillow face," lanjutnya.

Wajah yang terlalu penuh akan terlihat tidak alami baik saat tersenyum maupun dalam keadaan diam. Penumpukan cairan ini juga berdampak pada kelopak mata dan struktur otot di sekitarnya. "Kalau pipi terlalu full, apa yang terjadi? Dia mumbul ke depan. Mata akan terdorong ke atas," jelas dr. Elfin.

Selain itu, material filler memiliki kelemahan jika disuntikkan berlapis-lapis tanpa evaluasi medis yang menyeluruh. "Filler, somehow, lama-lama itu dia bisa berat. Kayak, kalau diisi berulang, tidak di-assess dengan baik, enggak diteliti dengan baik, yang adanya ya (hasilnya) unnatural," beber dr. Elfin.

Langkah Memperbaiki dan Tanggung Jawab Bersama

Beban jaringan yang berlebihan pada akhirnya membuat kulit kehilangan kemampuannya untuk menopang struktur tulang pipi dan otot wajah. "Pipinya penuh, orangnya sudah 50 tahun, sudah tua, kulitnya enggak kuat nampung, apa yang terjadi? Ini (pipi) turun ke bawah. Garis senyum semakin dalam," jelas dr. Elfin.

Untuk memperbaiki kondisi ini, langkah medis pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan penumpukan filler dari wajah. Setelah sisa cairan tersebut dihilangkan, dokter perlu memberikan edukasi kepada pasien mengenai kemungkinan yang akan terjadi, termasuk perubahan pada penampilan wajah. "Kemungkinan yang terjadi itu apa? Wajahnya pasti akan tampak kempot karena penopangnya itu, filler-nya itu, pengisinya itu sudah kita hilangkan," ungkap dr. Elfin.

Setelah jaringan wajah terbebas dari sisa injeksi, dokter baru bisa memberikan terapi lanjutan yang tepat, seperti stimulator kolagen, untuk mendukung kerangka kulit tanpa menambah volume secara berlebihan. "Kalau sekiranya sudah saya hilangkan, dia suka (filler), dia candu, isi (filler) lagi, isi lagi, ya overfilled kembali. Judulnya lingkaran setan," tutur dr. Elfin.

Komplikasi akibat penumpukan volume di bawah kulit ini bukan hanya kesalahan dari satu pihak. "Kesalahannya ada di mana? Apakah di dokternya 100 persen? Tentunya tidak. Dari pasiennya? Tentunya juga tidak. Kesalahan ini terbuat oleh keduanya," jelas dr. Jeffri.

Dokter dan pasien memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengawasi perubahan fisik tersebut. Kesadaran untuk membatasi prosedur medis adalah kunci untuk mencapai hasil yang elegan tanpa mengubah karakter wajah seseorang. Di sinilah pentingnya peran profesional medis untuk menolak permintaan pasien yang melampaui batas rasional. "Kalau pasien meminta, kita sebagai praktisi tentunya harus bisa menolak atau mengatakan tidak dan sudah cukup ke pasien tersebut," tegas dr. Jeffri.

"Dokter estetika itu seperti seniman, di mana kita menghasilkan sebuah karya seni yang baik, tentunya kita harus punya mata seorang seniman yang baik," pungkasnya.

Artikel Terkait