Media sosial kini menjadi sumber informasi yang banyak digunakan oleh orangtua untuk memahami perkembangan dan perilaku anak. Berbagai konten mengenai kondisi neurodivergensi, seperti autisme dan ADHD, dapat dengan mudah ditemukan di platform-platform seperti TikTok dan Instagram. Meskipun informasi tersebut dapat membantu orangtua mengenali gejala tertentu, ketergantungan yang berlebihan pada informasi dari media sosial dapat menyebabkan kesimpulan yang salah mengenai kondisi anak.
Psikolog Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., mengingatkan orangtua untuk tidak melakukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan informasi yang didapat dari internet dan media sosial. "Jika terlalu banyak mendapatkan informasi, dikhawatirkan informasi-informasi yang kita serap dengan sendirinya itu menjadi self-diagnose, jika dibiarkan itu akan berbahaya bagi kita," ungkapnya.
Perlu Cermat dalam Menyaring Informasi
Erna menjelaskan bahwa saat ini, informasi mengenai kesehatan dan perkembangan anak tidak hanya bisa diakses melalui situs web, tetapi juga semakin mudah tersebar di media sosial. Kehadiran influencer di berbagai platform membuat informasi tersebut lebih mudah diakses dan dapat memengaruhi cara orangtua memahami kondisi anak mereka.
Dia menekankan pentingnya bagi orangtua untuk lebih cermat saat menemukan konten tentang neurodivergensi di media sosial. Sebelum mempercayai atau menerapkan informasi tersebut, orangtua disarankan untuk memeriksa latar belakang penyampai informasi, apakah mereka memiliki kompetensi di bidang yang dibahas, serta sumber dari informasi tersebut. "Misalnya dia membahas suatu topik yang sangat sensitif, apakah dia sudah dalam bidangnya, kemudian dari mana dia mengutip sumber itu?" jelas Erna.
Konten yang kredibel umumnya mencantumkan referensi atau sumber yang digunakan. Dengan memeriksa informasi tersebut, orangtua dapat lebih mudah membedakan antara informasi yang berbasis ilmiah dan yang belum tentu relevan dengan kondisi anak. Karakteristik atau perilaku tertentu pada anak tidak selalu menunjukkan adanya kondisi neurodivergen, sehingga penilaian terhadap tumbuh kembang anak perlu dilakukan secara menyeluruh.
Hindari Penggunaan AI untuk Diagnosis
Selain media sosial, Erna juga mengingatkan agar orangtua tidak menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendiagnosis kondisi anak. Meskipun AI dapat membantu orangtua memahami suatu topik, hasil yang diberikan tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan penilaian dari tenaga profesional. AI bekerja dengan merangkum informasi yang ada berdasarkan pertanyaan pengguna, sehingga tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan apakah anak mengalami kondisi tertentu.
Apabila orangtua memiliki kekhawatiran mengenai tumbuh kembang atau perilaku anak, langkah yang lebih tepat adalah berkonsultasi dengan tenaga profesional. Diskusi dengan dokter anak, psikolog, atau tenaga kesehatan lainnya dapat memberikan penilaian dan rekomendasi yang lebih akurat.
Erna juga menekankan pentingnya memanfaatkan waktu konsultasi dengan baik, terutama jika orangtua telah mengumpulkan berbagai informasi dari media sosial. Membawa pertanyaan yang muncul setelah melihat konten di internet untuk dikonfirmasi kepada dokter atau psikolog dapat membantu orangtua memahami langkah yang perlu diambil untuk memantau tumbuh kembang anak sesuai kebutuhannya. "Orangtua harus memaksimalkan waktu konsultasi dan banyak bertanya untuk mengonfirmasi tiap informasi yang sudah didapatkan dari media sosial sebelumnya," ujarnya.
Dengan demikian, media sosial dapat tetap digunakan sebagai sumber pengetahuan awal, tetapi bukan sebagai pengganti diagnosis dan konsultasi dari profesional.